Terjerat Cinta Dua Saudara (Runtuhnya Dunia Rinjani)

Terjerat Cinta Dua Saudara (Runtuhnya Dunia Rinjani)
Suami Rinjani, orang yang sama?


__ADS_3

Mendengar ada seseorang yang datang menginterupsi pembicaraannya dengan sang kekasih, saat itu juga Hendra langsung menolehkan kepalanya ke arah sumber suara dimana tidak jauh darinya sudah berdiri seorang pria yang berpenampilan cukup rapi dengan setelan jas kerjanya.


Dalam kepalanya Hendra tidak berhenti menerka-nerka siapa gerangan pria yang berpenampilan parlente itu. Akan tetapi, melihat penampilan pria tersebut yang sepertinya bukan orang biasa itu membuat pikirannya langsung tertuju ke Ferdi, pria asing yang baru ditemuinya beberapa hari yang lalu, yang mengaku kepadanya sebagai kakak angkat dari kekasihnya. Namun, setelah diperhatikan lebih teliti, pria yang ditemuinya kali terlihat berbeda dari ingatannya mengenai Ferdi.


"Katakan padaku, Sayang! kenapa akhir-akhir ini banyak sekali pria asing yang tiba-tiba dekat denganmu? Bukankah sebelum aku pergi, kamu sama sekali tidak memiliki teman ataupun saudara laki-laki?" selidik Hendra seraya mengangkat wajah kekasihnya agar mau menatap matanya.


Sedangkan Rinjani sendiri masih bergeming di tempatnya, Rinjani sama sekali tidak memiliki keberanian untuk sekedar berbicara jujur kepada Hendra yang matanya sudah terlihat mulai berkaca-kaca. Wajahnya yang sangat tampan itu sudah terlihat merah padam dengan segala ketakutan yang mulai menyergap hatinya.


Menyadari jika kehadiran dirinya mulai dipertanyakan, membuat Gavin memilih berjalan mendekati sepasang kekasih yang masih berada dalam situasi yang canggung.


"Bukankah tadi kamu sempat bertanya pria mana yang sudah berani menyematkan cincin pernikahan di jari manis Rinjani?" tanya Gavin dengan pembawaan yang terdengar begitu santai sebelum kalimat selanjutnya berhasil membuat Hendra terperanjat tidak percaya dengan apa yang dikatakannya.


"Perkenalkan, Gavin Anderson. Suami sah dari Rinjani, gadis cantik yang saat ini sedang kau sentuh tanpa seizin dariku!"


Sontak saja kalimat yang baru saja terucap dari mulut Gavin itu membuat dunia Hendra seolah mendadak berhenti pada saat itu juga. Pandangannya begitu nanar menatap dua orang yang ada di hadapannya. Mulutnya terlihat bergetar dengan air mata yang tanpa diundang pun sudah langsung menetes dari netra beningnya.


Hendra sendiri langsung menoleh ke arah Rinjani yang justru semakin terisak di dalam tangisnya, yang secara tidak langsung seolah sudah memberikan sebuah jawaban berupa pembenaran atas segala pengakuan Gavin. Tanpa bertanya lebih dulu pun Hendra sudah bisa menebak apa yang membuat kekasihnya itu menangis sampai seperti ini. Akan tetapi, masihkah pantas Rinjani disebut sebagai kekasihnya? sedangkan saat ini sendiri Rinjani sudah memiliki sebuah ikatan yang lebih sakral bersama pria lain.


Hendra berulang kali menghembuskan nafas beratnya. Hendra tidak tau harus berkata apa, lidahnya terasa begitu kelu, bahkan dirinya sendiri merasa seperti kehilangan kemampuan bicaranya.


Sedangkan kedua orang yang ada di hadapannya itu hanya bisa diam di tempatnya. Tidak dipungkiri jika keduanya bisa melihat dengan jelas, jika saat ini Hendra sedang larut dalam keterkejutannya. Tidak ada pergerakan apapun yang dilakukan Hendra, hanya kedua matanya saja yang seolah sedang menyiratkan betapa terkejut dan kecewanya Hendra mendengar kenyataan ini.

__ADS_1


"Ka-kamu tidak apa-apa, Ndra?" lirih Rinjani yang ikut sedih melihat keadaan Hendra sekarang yang diam membisu layaknya sebuah patung hidup. Sedangkan Gavin sendiri hanya memperhatikan keduanya tanpa berniat menanyakan ataupun peduli dengan keadaan Hendra.


Sedetik kemudian, Hendra kembali menatap kekasihnya dengan tatapan yang terlihat sangat sarat akan makna. Tatapan aneh yang seolah tengah berbicara betapa hancurnya hati Hendra. Perlahan Hendra mulai melepaskan sentuhan tangannya pada lengan Rinjani. Dipungutnya kotak kecil yang terjatuh di atas lantai sebelum kembali menatap lekat kedua mata Rinjani.


"Apa kamu tau, Sayang? butuh waktu berapa lama untuk aku bisa mendapatkan cincin ini???" sarkas Hendra sembari mengangkat kotak merah itu ke hadapan Rinjani, "Selama ini aku sudah bekerja keras demi bisa membeli cincin ini yang sudah aku siapkan khusus untuk kamu, Rin!!!" lanjutnya sebelum membuang wajah ke samping.


"Ternyata aku salah! selama ini aku sangat percaya jika kamu akan tersenyum bahagia mendapatkan cincin ini dariku! ternyata aku salah! aku terlalu percaya diri jika cincin ini bisa menjadi simbol awal baru untuk hubungan kita yang aku harapkan bisa lebih serius lagi dari sekedar hubungan kita yang sekarang..."


"Arghhhhh!!!" teriak Hendra frustasi mengetahui kekasih yang diharapkan menjadi teman hidupnya itu justru sudah lebih dulu menikah dengan orang lain.


Rinjani semakin tergugu mendengar segala luapan emosi pemuda yang sebenarnya sampai saat ini masih memenuhi semua tempat teristimewa di dalam hatinya. Rinjani sendiri masih sangat yakin meskipun saat ini dirinya sudah berstatus sebagai istri seorang Gavin Anderson, tapi tetap saja seluruh hati dan cintanya itu masih utuh untuk Hendra seorang. Tanpa ada sedikitpun rasa yang sudah terbagi untuk suaminya.


"Ma-maafkan aku, Ndraa ... maafkan akuuu. A-aku juga sebenarnya tidak ingin berada dalam situasi yang seperti ini ... aku juga sa-sangat mencintaimu, Ndraa. Ba-bahkan perasaan aku ke kamu sama sekali belum berubah, semuanya masih tetap sama, Ndraa. Aku masih sangat mencintaimu..."


...****************...


Braakkk!!!


Terdengar suara pintu kamar yang terbanting sangat kerasa sebelum disusul suara teriakan Hendra yang begitu frustasi.


"Arghhhh!!!!"

__ADS_1


Bughhh!!!


Hendra berulang kali memukul permukaan meja dengan tangannya sendiri. Meja kayu yang tidak tau apa-apa itu harus siap menjadi korban pelampiasan amarah pemiliknya.


Buku-buku jari Hendra bahkan sudah terlihat memerah dengan beberapa bercak darah yang terlihat keluar dari lapisan kulitnya yang terluka akibat berulang kali memukul meja.


Namun, semuanya itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan hatinya yang seolah hancur berkeping-keping mengetahui semua ini. Siapa yang tidak hancur mengetahui gadis yang sangat dicintainya yang selalu diharapkan untuk menjadi istrinya justru diam-diam sudah menikah dengan orang lain. Satu fakta yang seolah menegaskan jika saat ini sudah ada tembok penghalang yang begitu tinggi di antara dirinya dengan Rinjani. Kenyataan menyakitkan dimana sekarang dirinya sudah bukan lagi menjadi orang terpenting di dalam hidup Rinjani.


Satu kenyataan yang seolah sudah membentangkan jarak yang begitu jauh untuknya bisa kembali dekat dengan Rinjani.


Hendra berulang kali menjambak rambutnya sendiri merasakan emosi yang begitu menyesakkan dadanya. Sepertinya sekarang dirinya harus belajar membiasakan diri untuk melanjutkan hidupnya tanpa kehadiran Rinjani. Hendra terpaksa harus mengubur segala harapannya bersama Rinjani.


Tidak ada lagi rencana untuk mempertemukan Rinjani dengan Omanya. Tidak ada lagi acara lamaran di depan keluarga. Dan yang paling menyesakkan adalah, tidak ada lagi harapan untuknya bisa menikahi Rinjani dan membawanya hidup di Singapura sesuai dengan keinginan Omanya.


"Kamu tega, Jani ... kenapa kamu tega meninggalkan aku dan menikah dengan Gavin!!! sebenarnya apa yang sudah membuatmu nekat untuk menikah dengan Gavin???"


Setelah mengutarakan semua kekecewaannya, Hendra kembali terperanjat begitu otaknya mulai menyadari sesuatu yang membuatnya melongo tidak percaya.


"Tunggu sebentar, bukankah pria yang sudah menikahi Rinjani bernama Gavin Anderson???" celetuk Hendra dengan kedua mata yang mendadak membulat sempurna.


"Be-benarkan itu Gavin yang sama???"

__ADS_1


__ADS_2