
"Apaaa??? seorang pemuda katamu!!!" bentak Mami Carla cukup terkejut mendengar berita yang baru saja disampaikan oleh Alex.
"Iya, nyonya. Seorang pemuda yang jika dilihat-lihat hampir seumuran dengan Tuan Gavin."
"Apa anak itu anaknya Kak Sakha?? mungkinkah anak itu orang yang sedang kita cari tau keberadaannya???" tanya Mami Carla masih dengan wajah kagetnya. Hatinya mulai gelisah, jika memang benar pemuda yang sempat dilihat oleh orang suruhan Alex itu anak dari mendiang kakak iparnya, itu berarti dirinya sedang dalam masalah yang baru lagi.
"Bisa jadi seperti itu, Nyonya. Bahkan anak itulah yang sudah membuat Nyonya Marisa bersedia untuk menjalani pengobatan, nyonya. Anak itu juga yang sudah mengurus semua persyaratan agar tim medis mau melakukan pengobatan secara intensif di rumah Nyonya Marisa.
"Hendraaa!"
...****************...
Setelah lebih dari dua minggu Hendra berada di Singapura, hari ini Hendra berniat untuk pulang kembali ke Jakarta. Seperti sesuatu yang sudah dijanjikan kepada neneknya, begitu kondisi kesehatan neneknya sudah kembali stabil, Hendra akan segera membawa ibunya ke hadapan Neneknya.
Hendra sendiri kini sudah tiba di negara tercintanya. Namun, alih-alih memilih pulang ke rumahnya yang ada di Jakarta, Hendra justru kembali melanjutkan perjalanan darat menuju ke kota Sukabumi. Tempat dimana ibunya sedang berada saat ini.
Ya, Sejak kepergian Hendra yang terpaksa bertolak ke Singapura demi mengemban tugas penting dari ibunya, saat itu pula Mamah Soraya memutuskan untuk berkunjung ke kampung halamannya. Sebuah kampung kecil dimana dirinya tumbuh besar di tengah-tengah keluarga yang sangat sederhana. Dan di desa kecil itulah yang pada akhirnya menjadi tempat dirinya bertemu dengan Sakha, mendiang suami yang hanya menemani hidupnya dalam waktu dua hari saja. Dan siapa yang menyangka jika dalam waktu yang sesingkat itu ternyata sudah cukup untuk Sakha menanamkan benihnya di dalam rahim sang istri.
Tok! Tok! Tok!
"Mah, Hendra pulang, nih..." teriak Hendra sengaja mengeraskan suaranya. Dan benar saja, suaranya yang terdengar keras itu langsung mendapatkan balasan dari seseorang yang ada di dalam rumah.
__ADS_1
"Sebentar, Sayanggg..."
Mamah Soraya yang sebelumnya sedang berada di dapur itu langsung berlari ke arah pintu utama setelah samar-samar mendengar suara teriakan anaknya. Wajahnya terlihat begitu bahagia mengetahui anak yang sangat disayanginya itu sudah pulang dari melaksanakan tugasnya.
J'glekkk!
Dibukanya pintu rumah dengan penuh semangat sebelum tubuh tuanya itu langsung menghambur ke dalam pelukan hangat putranya.
"Akhirnya kamu pulang juga, Sayang..." seru Mamah Soraya tanpa berniat melepaskan tubuhnya dari dekapan anaknya, "Bagaimana kabar kamu, Sayang? apa nenek kamu menerima kamu dengan baik, Nak? nenek kamu tidak berbuat sesuatu yang buruk sama kamu kan, Sayang?" sambungnya sebelum melepaskan diri dari tubuh putranya dan berganti menyentuhkan kedua tangannya pada wajah Hendra.
Hendra sendiri hanya bisa tersenyum lega, mendapatkan ungkapan kasih sayang dari ibunya meskipun tidak terucap secara langsung melalui sebuah kalimat. Namun, sikap perhatian ibunya itu sudah sangat cukup untuk membuatnya merasakan bahagia. Perasaannya begitu damai setelah beberapa waktu meninggalkan ibunya seorang diri, kini dirinya bisa kembali melihat wajah ibunya secara langsung seperti ini.
"Hendra baik-baik saja, Mah. Nenek juga bersikap sangat baik sama Hendra." ucap Hendra semakin menambah rona bahagia pada wajah ibunya.
"Iya, Mah. Bahkan, nenek juga meminta Hendra untuk segera membawa Mamah bertemu sama nenek."
"Apa yang kamu ucapkan itu benar, Nak? ne-nenek kamu mau bertemu sama Mamah?" tanya Mamah Soraya sedikit tergagu. Dirinya masih ingat dengan jelas tentang peristiwa 23 tahun lalu dimana dirinya sempat mendapatkan perlakuan buruk dari ibu mertuanya. Mamah Soraya masih bisa mengingat betapa ibu mertuanya itu sangat tidak suka dengannya. Ibu mertuanya tidak bisa menerima dirinya yang hanya gadis desa biasa untuk menjadi menantu dalam keluarga Anderson.
"Iya, Mah. Lusa kita akan pergi ke Singapura, Mah. Hari ini Hendra mau menemui Rinjani dulu di rumahnya." ucap Hendra yang sebenarnya sudah tidak sabar menemui kekasih hatinya, "Apa selama Hendra pergi, Mamah pernah bertemu dengan Rinjani, Mah?" sambung Hendra.
Sedangkan orang yang sedang ditanya hanya bisa menunduk tanpa berani menatap wajah putranya.
__ADS_1
"Maaf, Sayang. Mamah sudah ingkar janji, selama ini Mamah tidak pernah lagi menemui Rinjani..."
...****************...
"Sudah aku bilang kan, jangan panggil aku dengan sebutan Tuan lagi! cukup panggil namaku saja. Beruntung tadi Mami tidak curiga saat kamu keceplosan memanggilku dengan sebutan Tuan." gerutu Gavin mengingat saat sedang berada di butik, Rinjani sempat keceplosan memanggilnya Tuan di depan Mami Carla.
"Maaf..." lirih Rinjani dengan wajah cemberutnya.
"Lain kali jaga bicaramu! jangan sampai kejadian seperti tadi sampai terulang lagi. Aku tidak mau sampai Mami curiga sama kita."
Gavin terus saja mengomel tidak terima dengan kesalahan kecil yang tidak sengaja dilakukan Rinjani. Membuat Rinjani hanya bisa menunduk sembari memainkan jari tangannya. Wajah cantiknya sudah terlihat sedikit memerah dengan netra bening yang mulai berembun.
Dalam hatinya Rinjani tidak berhenti merutuki nasibnya yang harus terjebak dalam hubungan palsu bersama Gavin. Mungkin hubungan ini akan terasa menyenangkan jika saja di dalam hatinya ada perasaan cinta untuk Gavin. Jika sampai itu terjadi, mungkin saja Rinjani akan menjadi gadis paling bahagia sudah bersuamikan pria dengan masa depan yang begitu cerah seperti Gavin. Tampangnya yang begitu sempurna, karirnya yang begitu mentereng, belum lagi kekayaan keluarganya yang tidak akan habis sampai tujuh kali turunan.
Belum lagi sikap Mami Carla yang begitu baik terhadapnya, sungguh memiliki ibu mertua yang sebaik Mami Carla akan menjadi jackpot tersendiri bagi Rinjani. Namun semua itu tidak akan ada artinya lantaran hubungannya bersama Gavin hanyalah sebatas sandiwara saja.
Rinjani masih terdiam di tempatnya. Dirinya tidak berniat menyangkal ataupun melawan Gavin. Rasanya Rinjani sudah begitu lelah harus mengahadapi situasi seperti ini. Di saat situasi yang seperti ini, Rinjani jadi merindukan kehidupannya yang dulu dimana dirinya merasa begitu bebas layaknya seekor burung yang terbang bebas di udara. Belum lagi keberadaan kekasih dan kedua orang tuanya yang semakin membuat hidupnya jadi berwarna.
Sudah cukup lama Rinjani larut dalam isi pikirannya, membuat Gavin yang sedang mengendarai mobil itu merasa penasaran lantaran tidak mendengar adanya pergerakan gadis yang duduk tepat di sampingnya.
Diam-diam Gavin menolehkan kepalanya ke arah Rinjani, mencoba memastikan apakah gadis yang sudah menjadi 'kekasihnya' itu sudah berada di dalam alam mimpinya.
__ADS_1
Meskipun Rinjani duduk sambil menundukkan kepalanya menatap ke arah bawah, Gavin masih bisa melihat jika kedua mata Rinjani masih terbuka. Bahkan Gavin bisa melihat kedua tangan Rinjani masih bergerak memainkan ujung bajunya. Mengetahui hal itu, Gavin memilih menghentikan mobilnya pada bahu jalan.
"Apa aku sudah membuatmu menangis, Jani?"