
"Ini maksud Hendra apaan, sih. Hendra mau pergi! pergi kemana?" Rinjani tidak berhenti bertanya-tanya sendiri apa maksud dari pesan singkat yang dikirim oleh kekasihnya.
[Maksud kamu apa, Ndra?]
[Apa maksud kamu bilang kalau kita nggak bisa ketemu untuk waktu yang lama? kamu mau pergi jauh, Ndra?] tulis Rinjani sebelum menekan tombol kirim pada aplikasi hijau. Namun sayang, pesan yang dikirimnya hanya mendapatkan ceklis satu saja yang menandakan ponsel Hendra sedang tidak aktif.
Melihat hal itu, Rinjani hanya bisa menghela nafas beratnya. Dilihatnya lagi deretan pesan singkat yang berasal dari Hendra dimana ada satu pesan yang mengatakan bahwa pesawat yang akan ditumpanginya bakalan take of jam sembilan malam.
"Pesawat Hendra take of jam sembilan." cicit Rinjani sebelum pandangannya melirik ke arah jam pada bagian atas layar hp miliknya, "Ck! udah jam sepuluh ternyata. Pantesan aja nomor Hendra nggak aktif." kesalnya setelah tahu jika dirinya sudah ketinggalan jam terbang kekasihnya.
"Lagian Hendra mau pergi kemana sih! nggak biasanya Hendra mau pergi pakai acara pamitan begini."
Rinjani bukan baru hitungan hari menjalin hubungan dengan Hendra. Mereka sudah cukup lama menjalin kisah asmara bersama, tepatnya sudah dua tahun ini mereka saling membersamai dalam segala kondisi percintaan yang sering naik turun seperti roller coaster.
Sebenarnya sudah menjadi hal biasa jika mereka harus menjalani hubungan jarak jauh, tidak ada yang membuatnya menjadi risau lantaran selama setahun kemarin Hendra lebih sering berada di luar kota untuk melanjutkan kuliah yang untungnya sudah memasuki semester akhir. Dan baru beberapa bulan yang lalu Rinjani ikut Hendra terbang ke Jogja demi bisa menghadiri acara wisuda kekasihnya.
Namun, kali ini entah mengapa seperti ada yang berbeda dengan cara Hendra berpamitan, tidak biasanya Hendra mengirimkan salam perpisahan seperti ini. Biasanya Hendra cukup mengirimkan satu pesan saja jika akan bertolak ke Jogja. Tidak seperti sekarang ini, Hendra mengirimkan banyak pesan singkat yang berisi beberapa pesan peringatan agar dirinya bisa menjaga diri dengan baik selama Hendra pergi yang sayangnya Hendra tidak menyebutkan kemana dirinya akan pergi.
"Sebenarnya kamu mau kemana sih, Ndra? kok aku ngerasa kamu bakalan ninggalin aku pergi jauh." lirihnya sedikit melankonis mengingat kini hanya Hendra saja satu-satunya orang yang dimilikinya. Meskipun sekarang ini Rinjani sudah memiliki beberapa teman baru, tapi tetap saja tidak ada yang menembus batasan keluarga selain Hendra seorang.
Saat sedang sibuk dengan isi kepalanya sendiri, tiba-tiba saja Rinjani dan beberapa rekannya dibuat kaget dengan kedatangan salah satu bartender yang katanya datang membawa berita yang sangat penting. Sontak kedatangan bartender tersebut berhasil membuat heboh seluruh karyawan yang sedang beristirahat.
"Guys, guys, guys! ada berita penting, guys!" seru bartender yang ternyata bernama Ardi, terlihat dari nametag yang tersemat di appron yang membungkus tubuhnya.
"Kabar apaan, Ar? penting amat kayaknya?" tanya Ruri disusul dengan pertanyaan teman-temannya yang lain.
"Iya, ada berita apaan sih, Ar. Kok muka elo serius begitu."
Sedangkan orang yang ditanya masih mencoba menetralkan degup jantungnya setelah berlarian dari arah depan menuju ke ruangan para staf.
"I-ituuu ... a-ada tamu VIP yang katanya kehilangan jam tangan miliknya." beber Ardi dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Siapa Ar? tamu yang mana?" tanya Roni ikut panik.
"Itu Ron, pelanggan yang biasa minta smirn*ff." balas Ardi memberi tahu merk bir yang biasa dipesan oleh tamu yang sedang dimaksudnya.
Sontak penjelasan Ardi membuat Roni tersentak kaget lantaran sangat mudah baginya untuk mengetahui siapa tamu yang katanya baru saja kehilangan jam tangan.
"I-itu kan orang yang tadi minta dilayani sama kamu, Rin." cicit Roni merasa sedikit khawatir. Wajahnya mendadak berubah pias begitu teringat dengan kejadian beberapa waktu lalu dimana dirinya sempat membuat kesal tamu tersebut.
__ADS_1
Begitupun dengan Rinjani yang tidak kalah panik dari semua teman-temannya. Pasalnya, orang yang mengaku kehilangan barang tak lain adalah tamu yang sempat meminta dirinya untuk melayaninya. Meskipun sebenarnya tugas melayani tamu bukanlah tugas Rinjani, namun kekuasaan yang dimilik tamu VIP tersebut membuat Rinjani harus mau melaksanakan apa yang sebenarnya bukan tugasnya.
"Ya-yang bener, Ron? ja-jadi orang yang kehilangan jam tangan itu orang yang tadi?" tanya Rinjani sedikit terbata. Rinjani jelas ikut panik, terdengar dari suaranya yang terdengar sedikit bergetar. Dan sayangnya, Roni berulang kali menganggukkan kepalanya yang mana semakin menambah ketakutan pada hati Rinjani.
Sedangkan teman-teman yang lainnya hanya bisa menatap iba ke arah keduanya. Setidaknya mereka semua sudah bisa menebak jika sebentar lagi keduanya akan mendapat masalah besar.
"Terus gimana dong, Ron?" Rinjani tidak berhenti was-was meskipun dalam hatinya dirinya berani bersumpah jika dirinya tidak ada sangkut pautnya dengan hilangnya jam tangan pelanggan.
"Gue nggak tau, Rin. Tapi elo nggak ada ngambil jam tangan itu, kan?" tanya balik Roni membuat Rinjani membulatkan matanya.
"Aku berani sumpah kalau aku nggak ngambil jam tangan dia. Jangankan buat ngambil, nyentuh aja nggak pernah." sergah Rinjani penuh keberanian.
"Iya, kita percaya sama kamu kok, Rin. Sekarang kita berdoa aja, semoga jam tangan Tuan Haris segera ketemu." seru rekan lainnya.
"Iya Rin, semoga aja jam tangannya cepet ketemu jadi kita semua tetap aman dari amukan bos. Nggak kebayang kalau berita ini sampai kedengeran ke telinga pak bos, bakalan marah besar pasti." timpal Runi mendapat anggukan kepala para rekannya.
"Iya, nggak kebayang gue gimana marahnya Bos, secara Tuan Haris kan salah satu tamu istimewa di sini, guys." giliran Ardi yang mengucapkan kekhawatirannya.
Tap! Tap! Tap!
"Eh, siapa tuh yang dateng?" seru Ruri begitu mendengar suara langkah kaki yang semakin lama semakin terdengar jelas.
"Siapa di sini yang bernama Rinjani?" tanya pemilik club terdengar begitu dingin. Membuat siapapun yang mendengarnya menjadi ciut sendiri lantaran bisa merasakan aura yang begitu mencekam.
"Cepat katakan! siapa di antara kalian semua yang bernama Rinjani?" hentak bos besar dengan intonasi suara yang naik dua oktaf.
"Sa-saya Rinjani, Pak." jawab Rinjani setengah terbata disertai dengan beberapa jari yang menunjuk ke arahnya.
"Jadi kamu yang tadi habis melayani Tuan Haris?" tanya bos Rocky begitu menusuk. Alih-alih bertanya dengan suara yang keras, bos Rocky justru bertanya dengan intonasi rendah yang sialnya justru terasa lebih mengerikan, membuat semua staf bergidik ngeri. Tak terkecuali Rinjani yang merasakan nyawanya sedang berada di ujung tanduk.
"I-iya, Bos. Memang saya tadi sempat melayani Tuan Haris tapi saya berani bersumpah kalau saya tidak mengambil jam tangan Tuan Haris, Bos." ucap Rinjani mengatakan yang sebenarnya terjadi.
"Hey, kamu! cepat bawa kemari tas pelayan ini!" titah bos Rocky menunjuk salah satu karyawannya. Sedangkan Ruri yang menyadari jika jari bosnya sedang mengarah ke arahnya, membuatnya dengan cepat melakukan perintah bosnya lantaran tidak mau ikutan mendapat masalah.
"Baik, Bos." jawab Ruri cepat sebelum bergegas pergi ke tempat loker sebelum kembali mendatangi bosnya dengan membawa satu tas kecil yang sudah bisa dipastikan milik Rinjani, "Ini tas milik Rinjani, Bos."
"Cepat buka!" perintah bos Rocky singkat, padat, dan jelas.
Sedangkan yang diperintah langsung mengikuti dengan membuka resleting tas milik Rinjani. Tidak ingin menguji kesabaran bosnya, Ruri langsung saja mengeluarkan semua isi tas ke atas meja yang ada di dekatnya.
__ADS_1
Semua barang milik Rinjani otomatis langsung berserekahan di atas meja. Dompet, buku kecil dan serangkaian alat touch up terpampang nyata di hadapan mereka. Tidak ada yang salah dengan barang milik Rinjani, semuanya terlihat normal untuk isi tas seorang perempuan. Tapi tunggu, apa itu?
"Bungkusan apa itu? cepat periksa!" titah bos Rocky yang melihat ada satu barang berhasil menarik perhatiannya. Begitupun dengan para staf yang ikut salah fokus ke arah buntelan kain kecil yang berukuran layaknya bola kasti.
Ruri sendiri langsung mengambil buntelan tersebut sebelum kedua tangannya mencoba melepas kaitan yang mengunci buntelan kain yang mirip seperti sapu tangan. Dan benar saja, setelah berhasil membuka kaitan yang ada, semua orang dibuat terkejut berjamaah setelah melihat isi buntelan yang ternyata sebuah tangan berwarna hitam. Jika dilihat dari modelnya saja sudah bisa dipastikan jika jam tangan tersebut sudah pasti milik seorang laki-laki.
"Nah, itu jam tangan saya. Kenapa bisa ada di situ?" seru seseorang yang tak lain adalah Tuan Haris. Sontak ucapannya itu membuat semua pasang mata menoleh tidak percaya ke arah Rinjani.
"Rin, kamu bisa jelasin ini semua?" bisik Roni yang berdiri tepat di samping Rinjani.
"Sa-saya tidak pernah mengambil jam tangan itu, Bos. Saya berani bersumpah, saya tidak tau kenapa bisa ada jam tangan itu di dalam tas saya." seru Rinjani mencoba membela diri. Rinjani jelas ikut heran mengapa jam tangan milik tamu bisa masuk ke dalam tas miliknya.
"Saya tidak mau mendengar alasan apapun! Saya ingin kamu membayar kesalahan kamu dengan menjadi istriku!" ucap Tuan Haris dengan senyum kemenangan yang tidak berhenti menghias wajahnya.
Dalam hatinya, Tuan Haris merasa sangat puas setelah berhasil membuat Rinjani tidak bisa berkutik sama sekali. Dirinya merasa terbang di atas awan lantaran sudah menang telak di depan Rinjani yang masih belum percaya dengan situasi yang sedang dialaminya.
'Rasakan kamu! emang enak sudah bermain-main dengan Tuan Haris. Siapa suruh sok jual mahal begitu! tapi, lumayan juga buat dijadikan istri keenam. hahaha...' batin Tuan Haris.
"Tolong percaya sama saya, Bos. Saya tidak pernah mengambil jam tangan itu. Tolong percaya! Saya tidak mungkin melakukan hal itu." teriak Rinjani berharap bosnya mau percaya dengan ucapannya.
"Tapi kamu lihat sendiri, kan? jam tangan Tuan Haris ada di dalam tas kamu. Jadi, kamu harus siap menikah dengan Tuan Haris." jawab bos Rocky yang jelas lebih memihak ke Tuan Haris dimana pelanggan yang satu ini sudah sangat berjasa terhadap bisnisnya.
"Tapi maaf, saya tidak mau menikah dengan Tuan Haris." tolak Rinjani begitu tegas.
Dalam hatinya Rinjani tidak habis pikir dengan permintaan konyol bosnya. Mana mungkin dirinya harus menikah dengan pria yang sama sekali tidak dikenalnya. Belum lagi usia mereka yang sudah bisa dipastikan terpaut cukup jauh dimana Tuan Haris lebih cocok menjadi ayahnya ketimbang harus menjadi suaminya.
Menyadari hal itu, Rinjani tidak berhenti bergidik ngeri melihat betapa tidak layaknya Tuan Haris untuk menjadi suaminya. Dirinya bahkan tidak pernah menyangka jika akan diminta menikah dengan pria tua yang memiliki wajah yang pas-pasan. Belum lagi perutnya buncitnya yang lebih mirip dengan ibu ibu yang sedang hamil sembilan bulan.
Mungkin semuanya akan beda cerita jika yang melamarnya adalah Hendra, kekasihnya. Rinjani jelas tidak akan berpikir dua kali untuk menerima pinangan seseorang yang sangat dicintainya.
"Kamu harus mau menikah denganku atau kamu harus membayar mahal kesalahanmu seharga 1 milyar!"
Deghhh!
"Sa-satu milyar!!!" cicit Rinjani dan semua rekan kerjanya.
Apa katanya? Satu milyar! yang benar saja. Dari mana dirinya bisa mendapatkan uang yang satu milyar. Satu milyar bukanlah jumlah yang sedikit, bahkan jika dirinya sampai menjual semua harta peninggalan orang tuanya, rasanya belum cukup untuk membayar sebanyak satu milyar.
"Rinjani tidak perlu membayar sepersen pun. Saya yang akan membayar semuanya. Satu milyar untuk harga jam tangan itu dan lima ratus juta untuk harga perut buncit anda, Tuan!"
__ADS_1
Deghhh!