Terjerat Cinta Dua Saudara (Runtuhnya Dunia Rinjani)

Terjerat Cinta Dua Saudara (Runtuhnya Dunia Rinjani)
Mendatangi pimpinan Anderson's Group


__ADS_3

Setelah berpamitan dengan sang Ibu dan juga Oma Marisa, kini Hendra sedang berada di perjalanan menuju ke suatu tempat. Tampil cukup berbeda dengan penampilan biasanya, Hendra terlihat begitu lihai mengemudikan mobil mewah yang terlihat seperti baru keluar dari pabriknya.


Mobil mewah yang hanya memiliki dua buah pintu saja dengan ukuran body mobil yang cenderung lebih pendek dari mobil yang biasa digunakannya.


Entah apa yang membuat dirinya begitu bersemangat seperti ini, hingga tidak berhenti mengulas kan senyum bahagia pada wajah tampannya.


"Tunggu aku, Sayang..." ucapnya dengan perasaan yang begitu bahagia.


"Secepatnya kita akan kembali bersama lagi, Sayang. Kamu akan kembali bersama aku, dan kita akan hidup bahagia bersama..." sambungnya sebelum membelokkan arah mobilnya memasuki area pintu masuk sebuah gedung tinggi.


Senyumnya langsung mengembang melihat bangunan yang memang sejak awal menjadi tempat tujuannya itu, kini sudah terpampang begitu nyata di hadapannya.


Gedung tinggi yang terdiri dari dua tower dengan bentuk dan ukuran yang sama persis, dimana pada sisi depannya sudah tertuliskan logo Anderson's Group yang terpampang begitu besar. Membuat siapa pun tau, jika gedung tak lain adalah kerajaan bisnis milik keluarga Anderson.


"E'khemm!" Hendra sengaja berdehem kecil sebelum mengubah raut wajahnya agar terlihat serius dan lebih terkesan berwibawa.


Kedua tangannya terulur pelan merapihkan kerah kemejanya yang terbalut dengan setelan jas modern berwarna hitam dengan celana panjang yang senada.


Merasa penampilannya sudah terlihat oke, kini Hendra mulai memanjangkan langkah kakinya berjalan memasuki lobby utama dimana sudah ada dua orang petugas keamanan yang langsung menahan pergerakannya.

__ADS_1


"Selamat siang. Kalau boleh tau, ada keperluan apa Tuan datang ke sini?" tanya salah satu petugas keamanan yang cukup asing dengan wajah pria yang ada di depannya.


Begitu pun dengan satu rekannya yang ternyata merasakan hal yang sama.


"Siang." balas Hendra begitu singkat. Sedetik Hendra terlihat memperlihatkan senyuman miringnya sebelum sengaja memperkenalkan dirinya, "Perkenalkan, Saya Hendra Anderson! Putra dari Tuan Sakha Anderson."


Sontak saja jawabannya itu berhasil membuat kedua security itu melongo tidak percaya. Wajar saja jika keduanya itu merasa bingung dan tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh pemuda yang ada di hadapannya.


"Tapi maaf, Tuan. Setau kami Tuan Sakha sudah lama meninggal. Dan kalau tidak salah, Tuan Sakha tidak memiliki seorang anak..." balas salah satu security yang memang sudah berkerja untuk Anderson's Group dari puluhan tahun yang lalu. Dan dalam waktu yang selama itu, dirinya sama sekali tidak pernah melihat ataupun mendengar berita apapun tentang cucu keluarga Anderson selain hanya Tuan Gavin Anderson. Satu-satunya pewaris tunggal keluarga Anderson setelah kematian Tuan Ronald beberapa tahun yang lalu.


Sedangkan Hendra sendiri hanya menunjukkan wajah tenangnya. Dirinya sama sekali tidak memperdulikan ucapan pria yang sedang mengenakan seragam khas penjaga keamanan.


"Perlu kalian tau! Saya ini cucu kandung dari Oma Marisa. Untuk itu, biarkan Saya masuk! dan jangan pernah mencoba untuk menghentikan niatku!" seru Hendra begitu tegas.


Setelah selesai mengatakan hal itu, Hendra langsung melenggang masuk melewati beberapa karyawan yang ikut heran melihat kedatangannya. Pasalnya, selama ini kantor tempat mereka bekerja itu sama sekali tidak membolehkan orang asing untuk masuk ke dalam kantor.


Hanya orang-orang yang memiliki kepentingan dengan Anderson's Group saja lah yang mendapatkan izin untuk masuk ke dalam gedung kerajaan Anderson. Itu pun harus tetap melewati berbagai prosedur keamanan yang diterapkan di kantor.


Meskipun tidak jarang dari mereka yang ternyata lebih gagal fokus dengan ketampanan Hendra yang terlihat begitu mempesona. Ketampanan hakiki yang jelas secara otomatis akan menghipnotis siapa saja yang melihatnya.

__ADS_1


"Tolong antarkan Saya ke ruangan pimpinan kalian!" titahnya pada salah satu karyawan pria yang kebetulan berpapasan dengannya.


"Kenapa diam??? tidak mau menuruti perintah cucu Nyonya Marisa, iya???" sambungnya yang berhasil menghadirkan raut terkejut pada wajah yang ada di hadapannya.


"I-iyaaa. Mari saya antarkan..." balas karyawan yang sebenarnya memiliki ribuan tanda tanya besar di dalam kepalanya. Meskipun begitu, dirinya langsung melakukan permintaan seseorang yang berjalan begitu gagah di sampingnya.


Sembari berperang dengan isi kepalanya, pegawai tersebut tidak berhenti memimpin jalan menuju ke lantai paling atas yang mana hanya orang-orang tertentu saja yang sebenarnya dibolehkan untuk menginjakkan kakinya di lantai teratas yang memang hanya dikhususkan untuk sang pucuk pimpinan perusahaan saja.


"Maaf, Tuan. Saya hanya bisa mengantarkan sampai di sini saja. Silahkan berjalan ke depan sana, Tuan. Tidak jauh dari situ, nanti Tuan akan menemukan pintu ruangan milik Tuan Gavin." ucapnya yang langsung mendapatkan anggukan kepala Hendra.


Hendra langsung berjalan sesuai dengan arahan karyawan tadi. Suara ketukan sepatunya terdengar begitu menggema memenuhi lorong kantor yang terlihat begitu sepi.


Tidak butuh waktu yang lama untuk Hendra menemukan ruangan seseorang yang sudah sangat ingin ditemuinya. Hal itu terjadi lantaran memang hanya ada satu ruangan saja yang berada di lantai paling atas gedung itu.


Sejenak, Hendra menghentikan langkahnya tepat di depan pintu ruangan pemimpin Anderson's Group. Hendra kembali mengatur nafasnya sebelum mengetuk pintu dengan tangan kirinya.


Tok! Tok! Tok!


J'glekkk!

__ADS_1


"Kamu! ngapain kamu datang ke sini???"


__ADS_2