Terjerat Cinta Dua Saudara (Runtuhnya Dunia Rinjani)

Terjerat Cinta Dua Saudara (Runtuhnya Dunia Rinjani)
Suami yang baik


__ADS_3

"Kapan kamu berniat untuk menemui kakakmu Gavin, Hendra?" tanya Nenek Marisa di sela makan malamnya. Di hadapannya sudah ada sang menantu dan juga cucu bungsunya. Duduk saling berhadapan dengan satu buah meja makan berukuran besar yang menjadi pemisah di antara ketiganya.


"Hendra belum tau, Nek. Sekarang yang menjadi fokus Hendra hanya Rinjani saja, Nek. Niat Hendra setelah Hendra pulang dari sini, Hendra akan langsung melamar Rinjani untuk menjadi pendamping hidup Hendra. Untuk itu, Hendra mohon doa restu dari Mamah dan juga Nenek. Tolong restuin hubungan kami agar kami bisa menjalani hidup dengan bahagia."


Hendra berbicara dengan mantap mengenai keinginannya yang berniat untuk segera meresmikan hubungannya dengan sang kekasih ke dalam jenjang pernikahan. Hendra monolehkan kepalanya menghadap sang ibu sebelum bergantian dengan sang nenek.


Senyuman lega langsung terulas pada wajah tampannya begitu melihat kedua wanita yang sangat disayanginya itu sama-sama menganggukkan kepalanya.


"Mamah akan merestui kalian berdua untuk menikah, Sayang. Tolong jagain Rinjani, jaga dia, sayangi dan cintai Rinjani dengan sepenuh hati kamu, Sayang. Jangan sekalipun membuat air mata keluar dari matanya. Kamu tau kan, Sayang? kekuatan seorang perempuan setelah menikah itu ada pada suaminya. Kamu lah yang akan menentukan apakah hidupnya akan dilaluinya dengan bahagia atau justru akan menjadi gubuk derita untuknya." ucap Mamah Soraya memberikan beberapa nasihat untuk putranya.


Hendra sendiri hanya diam mendengarkan tanpa berniat menyela ucapan ibunya. Begitu pun dengan Oma Marisa yang memilih diam tanpa berani menimpali perkataan menantunya.


Hatinya kembali melankonis mendengarkan setiap penuturan Mamah Soraya yang terasa seperti menusuk hatinya. Dalam hatinya Oma Marisa ikut membenarkan apa yang baru saja dikatakan oleh menantunya, dan semua itu jelas membuatnya merasa tidak enak hati sendiri, ada perasaan bersalah yang mendera jiwanya mengingat dirinya tidak pernah sekali pun berfikir akan hal itu. Sesuatu yang seharusnya sudah lebih dulu dipahaminya sejak puluhan tahun lalu, dan akibatnya dirinya harus membayar ketidaktahuannya itu dengan harga dua nyawa sekaligus.


"Mamah jangan khawatir, Mah. Hendra sangat mencintai Rinjani, Hendra tidak mungkin menyakitinya ataupun sengaja membuatnya menangis. Hendra sendiri yang akan memastikan jika satu-satunya alasan yang menjadi penyebab Rinjani menangis tak lain hanya karena sebuah tangisan bahagia, Mah." balas Hendra sangat serius dengan ucapannya.


"Mamah percaya sama kamu, Sayang. Mamah percaya jika putra Mamah ini bisa membuat Rinjani merasa jauh lebih bahagia setelah menikah dengan putra Mamah ini."


"Hendra sudah kenyang melihat Mamah yang selalu menangis setiap malam. Hendra juga sudah lelah melihat Mamah selama ini hidup dalam kesepian. Hendra janji, Hendra tidak akan membiarkan istri Hendra merasakan semua kesedihan itu. Hendra akan menjadi suami yang baik, suami yang pengertian, dan suami yang selalu ada di sisi istri Hendra."

__ADS_1


Hendra kembali berbicara seperti apa yang ada di dalam hatinya. Selama ini Hendra sudah menjadi saksi bagaimana tersiksanya seorang istri yang harus menjalani hidupnya tanpa kehadiran suami yang sangat dicintainya. Betapa hari-hari yang dilalui ibunya hanya berteman kan degan air mata dan air mata saja. Belum lagi di tengah-tengah guncangan jiwanya, Ibunya itu masih harus bekerja demi menghidupi dirinya yang sejak dari dalam kandungan sudah tidak mengenal figur sang ayah.


Seketika kabut bening yang memenuhi kedua netra ibunya itu langsung berjatuhan bersamaan dengan ucapan sang anak yang kembali menggerus jiwanya. Tidak mudah bagi Mamah Soraya untuk bertahan hidup tanpa kehadiran suaminya. Mamah Soraya masih terisak dalam tangis pilunya, sungguh waktu yang berjalan selama 23 tahun ini tidak berhasil mengobati kesedihan hatinya.


Di hadapan mereka juga ada Oma Marisa yang justru makin terisak lantaran merasa tertampar dengan obrolan kedua orang yang masih melebur dalam pelukan mereka. Oma Marisa semakin dilanda rasa penyesalan sudah menjadi penyebab kesengsaraan hidup menantu dan juga cucunya. Bahkan Oma Marisa merasa sangat malu di hadapan Mamah Marisa dan juga Hendra. Jika bisa, rasanya Oma Marisa ingin bisa memutar waktu kembali guna memperbaiki kesalahan besar yang sudah dilakukannya secara sadar di masa lalu.


"Cepat bawa Rinjani ke hadapan Oma, Sayang. Biarkan Oma yang menjamin kebahagiaan hidup Rinjani. Jangan sampai kamu melakukan kesalah seperti apa yang sudah Oma lakukan di masa lalu. Biarkan Oma saja yang hidup dalam penyesalan ini, Sayang. Biarkan Oma menebus semua kesalahan Oma dengan cara membahagiakan istri kamu, Sayang..."


...****************...


"Selamat datang di keluarga Anderson, Sayanggg. Mami berharap semoga kamu bisa merasa nyaman tinggal di sini..." seru Mami Carla begitu bahagia menyambut kedatangan memantu barunya.


Mami Carla masih mengunci tubuh menantunya dalam dekapan sayangannya. Hingga tidak sengaja pandangannya melihat kedatangan putranya yang langsung berjalan menaiki anak tangga.


"Hei, Gavin! Mau kemana kamu? Nggak ingat kalau sekarang kamu sudah punya istri! istrinya bukannya diajakin ke kamar malah mau ditinggalin begitu saja!" omel Mami Carla dengan tatapan tajamnya, "Sayang, sekarang kamu ikut suami kamu ke kamar kalian sana. Semua kebutuhan kamu sudah Mami siapkan di dalam kamar. Selamat beristirahat, Sayang ... jangan sungkan lapor sama Mami kalau suami kamu yang aneh itu nakal. Dah sana!!!" sambungnya sembari mendorong tubuh menantu barunya itu menuju ke arah tangga. Membuat Rinjani yang tidak memiliki alasan untuk menolak itu hanya bisa pasrah mengikuti perintah ibu mertuanya.


Rinjani berjalan gontai mengikuti langkah Gavin yang berjalan di depannya. Pandangannya terlihat kosong dengan pikiran yang berlarian kemana-mana. Rinjani tidak mengira jika dirinya harus terjebak dalam situasi membag*ngkan seperti ini.


Bagaimana bisa dirinya yang tidak memiliki perasaan apapun terhadap Gavin itu justru harus berakhir dengan menikah dengannya. Seseorang yang sama sekali tidak menempati ruang apapun di dalam hatinya. Namun siapa yang menyangka jika seseorang yang tidak sengaja ditemuinya di club malam tempatnya bekerja itu kini sudah berstatus sebagai suaminya. Suami yang sudah sah baik di mata hukum maupun di dalam agama.

__ADS_1


J'glekkk!


"Kamu bisa langsung istirahat, aku mau ke kamar mandi dulu." ucap Gavin yang bergegas memasuki kamar mandi setelah merampungkan kalimatnya. Meninggalkan Rinjani seorang diri yang langsung ambruk ke atas lantai.


Seketika air mata yang sudah ditahannya sejak siang tadi itu langsung luruh membasahi wajah sendunya. Betapa Rinjani sangat menyesali posisinya yang tidak memiliki daya apapun untuk sekedar menolak pernikahan yang sama sekali tidak diinginkannya.


Pernikahan yang seharusnya menjadi momen paling bahagia dalam hidupnya, kini justru menjadi penyebab utama kesedihan hatinya. Bahkan hal yang sangat disayangkannya yaitu kenyataan bahwa dirinya yang tidak bisa menentukan sendiri dengan siapa dirinya akan menikah, tentang siapa yang akan menjadi pendamping sepanjang hidupnya, siapa yang akan menjadi orang yang pertama kali dilihatnya saat terbangun dari tidurnya.


"Kenapa aku harus terjebak dalam masalah ini, Tuhan? bukankah aku sangat berhak menentukan siapapun yang akan menikah denganku." lirih Rinjani merasa hidupnya jauh dari keadilan, "Apa belum cukup engkau mengambil ayah dan ibuku dari dunia ini??? apa semua air mata yang sudah keluar dari mataku belum juga membuatmu merasa kasihan kepadaku!!!"


Rinjani masih tergugu dalam tangisannya. Rasanya Rinjani ingin menolak semua yang sudah terjadi. Rinjani ingin menolak bahwa dirinya sudah berstatus sebagai istri seorang Gavin Anderson, orang yang sama sekali tidak dicintainya.


Rinjani merasa jika Tuhan sangat tidak adil terhadapnya. Baru kemarin rasanya dirinya harus merasakan kesedihan lantaran harus kehilangan kedua orang tuanya. Dan kini sepertinya Tuhan belum juga puas melihat penderitaannya, Tuhan kembali merampas paksa kehidupannya. Merampas semua kebebasannya dan menjadikannya terkurung dalam sangkar mewah keluarga Anderson.


Dalam hatinya Rinjani tidak berhenti memanggil nama kekasihnya, berharap jika kekasihnya itu tiba-tiba datang dan membawanya pergi dari masalah ini.


"Hendra ... bawa aku pergi dari sini, Ndra. A-aku tidak mau terjebak dalam pernikahan palsu ini. Aku sangat mencintaimu, Ndra..."


J'glekkk!

__ADS_1


__ADS_2