Terjerat Cinta Dua Saudara (Runtuhnya Dunia Rinjani)

Terjerat Cinta Dua Saudara (Runtuhnya Dunia Rinjani)
Ungkapan perasaan Gavin


__ADS_3

Setelah selesai menemui Maminya, kini Gavin sudah kembali ke kamar pribadinya.


J'glekkk!!!


Terdengar suara pintu kamar yang terbuka dari arah luar membuat Rinjani yang sedang sibuk membersihkan riasan pada wajahnya itu segera menolehkan kepalanya.


Ditelitinya wajah sang suami yang terlihat cukup penat seperti sedang menanggung beban berat pada pundaknya.


"Apa kamu sedang tidak enak badan, Gavin?" tanya Rinjani.


"Tidak, Jani. Aku baik-baik saja. Hanya saja, ada sesuatu yang cukup membuatku pusing." jawab Gavin sebelum memilih duduk di sisi ranjang.


Tangannya bergerak lihai melepaskan kancing jas yang mengungkung tubuhnya. Melihat hal itu, Rinjani pun bergegas menyimpan alat pembersih wajahnya dan segera menghampiri suaminya.


"Sini, biar aku bantu lepaskan." ucapnya yang tanpa menunggu persetujuan dari suaminya lebih dulu langsung mengambil alih apa yang sedang dilakukan oleh Gavin.


Rinjani dengan cekatan melepaskan jas Gavin yang dilanjutkan dengan berjongkok kecil di hadapan suaminya. Tanpa merasa jijik, Rinjani langsung melepaskan sepatu yang sedang dikenakan oleh suaminya. Begitu pun dengan sepasang kaos kaki berwarna hitam yang sudah ikut terlepas dari kaki putih suaminya.


Mendapatkan perlakuan seperti itu, jelas membuat Gavin merasakan sesuatu dalam hatinya. Entahlah, hanya dengan melihat Rinjani yang melakukan tugas kecil seperti itu saja sudah membuat hatinya berbunga-bunga. Ada perasaan hangat dan damai yang menyergap jiwanya. Tanpa sadar, senyuman bahagia langsung terulas pada wajah penatnya.


"Tunggu sebentar, biar aku ambilkan minuman hangat untukmu..." ucap Rinjani setelah kembali bangkit berdiri. Sejurus kemudian, tubuh Rinjani sudah berjalan meninggalkan Gavin yang hanya bisa tersipu di tempatnya.


"Apakah seperti ini rasanya memiliki seorang istri..." lirihnya masih dengan wajah yang berseri-seri.


Gavin jelas tidak mengira akan mendapatkan pelayanan seperti ini. Hal yang sebenarnya hanya hal biasa saja, namun entah mengapa terasa begitu istimewa di hatinya. Pasalnya, setelah lebih dari sebulan menikah dengan Rinjani, ini pertama kalinya Rinjani bersikap seolah seorang istri sungguhan.

__ADS_1


Saat sedang menikmati sensasi aneh yang sedang dirasakannya, tiba-tiba saja Gavin langsung merutuki dirinya sendiri begitu menyadari dirinya yang sudah terbuai hanya dengan hal kecil seperti ini saja.


"Hakh! come on, Gavin! apa kamu sudah gila! Rinjani hanya membantu melepaskan jas dan sepatumu saja! tidak perlu merasa sedang diistimewakan seperti ini!"


Menyadari ada yang tidak beres dengan otaknya, Gavin memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya dari rumah. Diambilnya tas laptop yang untungnya sempat dibawanya pulang setelah kehilangan mood kerjanya akibat ulah Hendra.


Baru saja menyalakan komputer lipatnya, pintu kamarnya sudah kembali terbuka dengan tubuh sang istri yang langsung menyembul dengan satu nampan kecil di tangannya.


Perhatian Gavin kembali tertuju ke arah Rinjani yang berjalan mendekatinya dengan senyuman teduh yang begitu memikat.


"Minum ini dulu, supaya badan kamu jadi lebih enakan, Gavin." ucapnya sembari menyodorkan satu cangkir kecil yang mengepulkan sedikit asap.


"Apa ini, Jani?" tanya Gavin yang sempat mengira jika istrinya itu membawakan minuman kopi untuknya.


"Itu teh pepper mint. Teh yang biasa aku minum saat sedang banyak pikiran..."


"Kenapa laptop ku disimpan, Jani? aku mau berkerja?" tanya Gavin sedikit heran.


"Lupakan dulu soal pekerjaan kamu itu, Gavin. Jangan paksa otakmu untuk tetap bekerja keras saat otakmu sendiri saja sudah terasa lelah, Gavin!" titah Rinjani bak seorang istri sungguhan.


"Tapi ada pekerjaan penting yang harus aku kerjakan, Jani..." protes Gavin.


"Lalu, apa menurutku permintaanku ini tidak penting, Gavin! Sudahlah, lupakan sejenak soal hal itu! tubuh dan pikiran kamu juga butuh istirahat!"


Gavin hanya tertegun mendengar celetukan istrinya yang cukup membuatnya merasa aneh. Sejak kapan Rinjani peduli tentang kesehatannya? kenapa ucapannya itu membuatnya merasa seperti sedang dicintai. Apa Gavin boleh merasa bahagia akan hal itu?

__ADS_1


"Kenapa melihatku seperti itu! dengar, Gavin! mulai saat ini, tidak perlu lagi bekerja terlalu keras. Lalu, apa gunanya kak Ferdi kalau semua pekerjaan juga kamu yang kerjakan sendiri." sambung Rinjani yang semakin membuat Gavin hanya bisa melongo di tempatnya.


Gavin sendiri memilih diam tanpa berniat menjawab omelan istrinya. Dalam hatinya, Gavin justru cukup menikmati posisinya yang bisa dibilang sedang mendapatkan protesan kasih sayang dari seorang istri.


Gavin ingin tahu, sejauh apa Rinjani akan melakukan perannya sebagai seorang istri. Pandangannya tidak berhenti memperhatikan wajah jutek Rinjani yang nyatanya justru terlihat begitu menggemaskan di matanya.


"Lagian, untuk apa kamu sampai bekerja siang malam seperti ini, Gavin? bukankah, selama ini aku tidak pernah menuntut apapun darimu?" Rinjani masih terus melancarkan protesnya, "Apa kamu juga berfikir jika aku mau menikah denganmu hanya karena aku ingin memiliki semua kekayaanmu ini, Gavin?" selidiknya mendadak melankonis mengingat ucapan pedas yang keluar dari mulut Hendra siang tadi.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu, Jani? apa aku pernah mengatakan hal semacam itu?" tanya Gavin yang tidak suka dengan pertanyaan istrinya.


Entah mengapa ada perasaan sakit yang seolah mencubit hatinya melihat Rinjani yang kembali bersedih seperti ini. Jujur saja, ada perasaan tidak rela mendengar tuduhan yang sempat dilayangkan Hendra. Hatinya bak terbakar begitu mendengar seseorang menghina istrinya di depan kepalanya sendiri. Dan kini, hatinya kembali merasa terluka begitu mendengarkan kecurigaan Rinjani terhadapnya.


"Apa aku dan Mami pernah menyinggung soal harta, Janii???" lirihnya dengan pandangan yang sedikit nanar.


"Bukankah hal itu yang akan langsung dipikirkan orang lain saat mengetahui aku yang menikahi mu tanpa sedikitpun perasaan cinta, Gavin! Orang lain jelas akan menganggap ku rela menjual cinta demi uang!" sentak Rinjani meluapkan emosi yang mendera jiwanya.


Tanpa diminta, air mata mulai berlinang bersamaan dengan suara tangis Rinjani yang mulai menyapa telinga Gavin.


"Dengarkan aku, Jani! orang lain bisa saja menganggap mu seperti itu, tapi tidak dengan aku. Bukankah, kita berdua sama-sama tau apa yang sudah membuat kita sampai harus menikah seperti ini, Jani?" Tangan Gavin terulur ke depan menyeka air mata yang membasahi wajah istrinya.


Merasa tidak ada penolakan, Gavin memberanikan diri untuk memeluk tubuh Rinjani yang langsung tergugu di dalam dekapannya.


Rinjani yang mendapatkan rasa nyaman dari dekapan hangat suaminya pun tidak kuasa untuk membendung suara tangisnya. Rinjani seolah mendapatkan tempat untuk melepaskan segala emosi yang membelit hati dan jiwanya. Rinjani tidak peduli dengan reaksi Gavin yang bisa saja merasa tidak nyaman dengan sikapnya.


Namun, sungguh semua di luar bayangan Rinjani. Alih-alih marah dengannya, Rinjani justru bisa merasakan sentuhan tangan Gavin yang mengelus pelan kepalanya. Membuatnya semakin terbuai dalam dekapan hangat seorang pria yang sudah sah menjadi suaminya.

__ADS_1


"Menangis lah, Jani. Menangis lah..." lirih Gavin terdengar begitu lembut, "Maafkan aku karena sudah membawa mu ke dalam masalah seperti ini, Jani. Mungkin, kamu memang benar, kita memang menikah tanpa adanya cinta diantara kita, hanya saja ... ada yang berbeda dengan hatiku, Jani. Entah mengapa, belakang ini aku mulai merasa nyaman ada di dekatmu. Aku tidak tau, apakah ini yang dinamakan cinta atau bukan. Hanya satu permintaanku, Jani. Izinkan aku menyayangimu dan menjadi bagian terpenting dalam hidupmu..."


Deghhh!!!


__ADS_2