
Gavin masih tercengang mendengar penuturan istrinya barusan. Otaknya seperti tidak bisa menerima semua yang dikatakan Rinjani terhadapnya.
Benarkah saat ini aku sedang diancam oleh istriku sendiri? Hakh, rasanya semua ini sulit untuk dipercaya.
Seingatnya dirinya baru kali ini mendapatkan ancaman seperti ini. Herannya Gavin sama sekali tidak terganggu dengan ancaman itu. Tidak ada amarah ataupun kekesalan meskipun harga dirinya sedang disentil seperti ini. Entahlah, akan tetapi, Gavin sama sekali tidak merasa terusik dengan ancaman yang yang dilakukan istrinya sendiri.
Gavin sendiri juga tidak tahu mengapa bisa seperti itu, karena hanya diam saja saat mendapatkan ancaman dari orang lain jelas bukan gaya Gavin Anderson. Sebagai seorang pebisnis yang sukses membawa nama perusahaan di usia yang muda jelas akan membuatnya naik darah setiap kali ada seseorang yang menyenggolnya barang seujung kuku pun.
Saat sedang tenggelam dengan isi pikirannya sendiri, tiba-tiba saja Gavin dikagetkan dengan suara pintu yang terbuka dari luar.
J'glekkk!
Ferdi yang terlihat rapih dengan setelan jas semi formalnya itu langsung menghampiri tuannya. Saat itu pula Ferdi dibuat bingung dengan sikap bosnya yang terlihat seperti orang linglung.
"Ada apa, Tuan? kenapa melihat saya seperti itu?" tanyanya dengan satu alis yang terangkat ke atas.
Sedangkan orang yang ditanya hanya diam dengan kepala yang tidak berhenti menengok ke sana kemari.
"Sebenarnya apa yang sedang anda cari, Tuan? apa anda kehilangan sesuatu?" selidik Ferdi yang masih dibuat bingung dengan gelagat bosnya. Ferdi bahkan masih berdiri di depan meja kerja Gavin tanpa berani mendaratkan bokongnya di kursi yang tersedia di ruangan super luas itu.
"Dimana istriku?"
"Hakh! maksud anda, Tuan?" cicit Ferdi semakin bingung dengan pertanyaan Gavin.
"Ck! apa mendadak kamu jadi tuli, Fer! Dimana Nyonya Anderson, hakh?" tegas Gavin.
__ADS_1
"Oh, apa maksud anda Rinjani, Tuan?" tanya Ferdi berusaha memastikan dirinya tidak salah mengartikan pertanyaan tuannya.
"Siapa kamu bilang? Hekh! lancang sekali! Mulai sekarang jangan panggil istriku dengan namanya saja, Ferdi! bukankah dia Nyonya-mu?" sentak Gavin.
Entah mengapa hatinya tidak bisa terima saat asisten pribadinya itu hanya memanggil istrinya dengan namanya saja. Rasanya ada yang aneh. Bahkan pertanyaan yang dilayangkan Ferdi terdengar lebih menyebalkan daripada ancaman Rinjani terhadapnya.
"Aku tahu jika istriku memang sudah menganggap mu sebagai seorang kakak. Meskipun begitu, tolong tetap hargai dia sebagai istriku, Ferdi! Bersikaplah kepadanya sebagaimana kamu harus bersikap dengan nyonya perusahaan ini."
"Baik, Tuan." jawab Ferdi singkat. Ferdi tahu jika perkataan tuannya itu memang benar. sudah seharusnya dirinya menghargai Rinjani sebagai istri dari bosnya, "Kalau tidak salah tadi saya melihat Nyonya masuk ke lift, Tuan," sambungnya setelah berhasil mengingat sesuatu.
"Lift?"
"Benar, Tuan."
"Mau pergi kemana dia? Apa Nyonya sempat memberitahumu mau pergi kemana?"
"S-seseorang? Siapa?"
"Saya tidak tahu, Tuan. Saya hanya bisa melihat belakang punggungnya saja, Tuan. Tapi saya rasa sepertinya orang itu terlihat seperti wanita yang sudah berumur,"
Deghhh!
"Wanita berumur katamu?" celetuk Gavin. Hatinya mendadak tidak tenang mengetahui istrinya sedang pergi dengan orang yang tidak jelas identitasnya.
Takut sesuatu yang buruk menimpa istrinya, Gavin yang dari awal memang sudah tidak fokus dengan pekerjaan itu memilih untuk mencari istrinya.
__ADS_1
"Handle semua pekerjaan, Ferdi!" perintahnya sebelum meninggalkan ruangan kerjanya.
Langkah kakinya mengalun begitu cepat menyusuri lorong gedung yang begitu sepi tanpa ada seorang pun yang berlalu lalang di lantai tertinggi gedung yang memang dikhususkan untuknya saja.
"Kemana kamu pergi, Sayang?" gumamnya setelah tiba di lobi kantor.
"Hei, tunggu! apa kamu melihat keberadaan Nyonya?" tanyanya memberhentikan salah satu karyawan yang sedang berjalan tak jauh darinya.
"Saya tidak lihat, Tuan ..."
"Baiklah. Lanjutkan pekerjaanmu!"
Tidak mau membuang waktu lebih lama lagi, Gavin langsung menjalankan mobilnya meninggalkan bangunan besar yang semakin lama terlihat semakin kecil.
Hatinya tidak tenang begitu mengetahui istrinya sedang pergi dengan wanita paruh baya. Entah mengapa pikirannya langsung tertuju ke Oma Marissa.
Dengan perasaan gelisah Gavin terus melajukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Sudah beberapa kali dirinya mencoba menghubungi nomor istrinya yang sayangnya tidak mendapatkan jawaban apapun. Bahkan pesan singkat yang dikirimkannya saja hanya mendapatkan ceklis satu.
"Kenapa tidak diangkat, Sayang ..." desahnya.
Bayangan buruk mengenai oma Marissa yang berniat jahat terhadap istrinya tidak berhenti mengganggu pikirannya. Entah mengapa Gavin begitu ketakutan jika omanya itu sampai membawa istrinya ke tempat dimana ada seseorang yang sejatinya sedang dihindarinya.
Rasanya Gavin tidak rela jika Rinjani sampai bertemu kembali dengan mantan kekasihnya. Gavin tahu tidak mudah untuk seseorang melupakan seseorang dari masa lalunya. Gavin takut jika hal itu akan membuat Rinjani semakin sulit melupakan Hendra. Dan Gavin tidak mau jika hal itu sampai terjadi karena dengan demikian, otomatis akan semakin lama untuk Rinjani membuka hati untuknya.
Menyadari hal itu membuat Gavin merasakan gejolak emosi yang berangsung-angsur memenuhi jiwanya. Tanpa sadar Gavin sampai mengeratkan cengkramannya pada stir bundar miliknya.
__ADS_1
"Tidak cukupkah Oma hanya memberiku sedikit saham perusahaan saja, Oma!" desisnya, "Kita lihat saja, Oma. Sejauh mana Oma akan membanggakan cucu Oma itu dan berlaku tidak adil terhadapku!"