Terjerat Cinta Dua Saudara (Runtuhnya Dunia Rinjani)

Terjerat Cinta Dua Saudara (Runtuhnya Dunia Rinjani)
Hari bahagia (luapan emosi yang sempat tertunda)


__ADS_3

"Apa maksud kamu, Ferdi! jelas saja dua hari lagi akan ada sebuah pesta pernikahan antara putraku Gavin, dan juga calon menantuku, Rinjani. Bahkan aku sendiri yang akan memastikan jika pesta pernikahan mereka akan menjadi pesta yang paling megah dalam sejarah keluarga Anderson!" sentak Mami Carla menanggapi celetukan Ferdi. Mami Carla sama sekali tidak menaruh curiga atas ucapan Ferdi. Dirinya hanya menganggap jika asisten pribadi yang sudah dua tahun bekerja untuk putranya itu hanya asal berbicara tanpa ada maksud lain dari ucapannya itu.


Sedangkan orang yang bersangkutan hanya bisa diam sambil membuang muka ke arah lain. Bukan karena merasa takut kepada Mami Carla, Ferdi hanya sedang menghindari tatapan tajam seseorang yang menatapnya sengit seakan-akan ingin membunuhnya saat ini juga.


"Jangan pernah meragukan ku, Ferdi!" lanjut Mami Carla.


"Tentu saja tidak, Nyonya. Mana pernah saya meragukan kehebatan Nyonya. Saya hanya tidak menyangka saja jika Tuan Gavin akan mulai mencin--"


"Ferdi!!!" teriak Gavin memotong ucapan asisten pribadinya. Tatapannya semakin garang dengan kepalan tangan yang sudah siap jika memang diperlukan sebuah pukulan, "Lain kali jaga bicaramu! jelas saja aku sangat mencintai Rinjani. Bukan begitu kan, Sayang?" sambung Gavin sebelum menoleh ke arah Rinjani guna meminta pembenaran atas ucapannya.


"I-iya, Sayang..."


...****************...


Hari berlalu dengan sangat cepat. Semua berjalan dengan sebagaimana mestinya. Rinjani yang sibuk membantu Mami Carla menyiapkan acara pernikahannya bersama Gavin. Begitu pun dengan Hendra yang kini sudah kembali ke Singapura dengan membawa serta sang ibu untuk bertemu dengan neneknya.


Kepergiannya ke Singapura untuk yang kedua kalinya juga sama halnya dengan kepergiannya beberapa waktu yang lalu. Hendra kembali pergi tanpa berpamitan dengan Rinjani terlebih dahulu. Bukan karena dirinya tidak mau, hanya saja selama dua hari kemarin Hendra sangat kesulitan untuk sekedar menemui kekasihnya. Rumahnya selalu dalam keadaan kosong setiap kali dirinya datang, bahkan jika diingat-ingat, Hendra terakhir kali bertemu dengan Rinjani tepat dua hari yang lalu, hari dimana terjadinya sedikit keributan antara sepasang kekasih itu.


"Mamah takut, Sayang. Bagaimana kalau Nenek kamu tidak bisa menerima Mamah?" lirih Mamah Soraya yang mulai mengeluarkan keringat dingin pada kedua telapak tangannya. Sisa-sisa trauma akan masa lalu masih saja menghantui pikirannya.


"Mamah tidak perlu takut, Mah. Nenek tidak mungkin menyakiti Mamah. Kalaupun hal itu sampai terjadi, ada Hendra yang akan selalu menjaga Mamah." Hendra tidak berhenti memberikan suntikan afirmasi kepada ibunya. Tangannya tidak berhenti menyalurkan kekuatan melalui sentuhan lembutnya pada kedua lengan sang ibu, "Sekarang, ayo kita masuk, Mah. Kasihan Nenek sudah kelamaan nunggu."

__ADS_1


Mamah Soraya mencoba menegarkan hatinya. Dalam hatinya, Mamah Soraya tidak berhenti mendoktrin pikirannya sendiri agar tidak mudah berfikiran lagi tentang hal-hal buruk yang akan memperparah traumatik pada jiwanya.


Setelah memastikan mental sang ibu sudah lebih siap untuk bertemu dengan seseorang yang sempat memberikan memori terburuk dalam hidupnya, kini Hendra sudah berhasil membawa sang ibu ke hadapan nenek Marisa yang langsung terperangah melihat kedatangan mereka.


"Ma-Marisa ... benar ini kamu Marisa, menantuku?" cicit Nenek Marisa dengan bibir yang sedikit bergetar. Pandangannya langsung berkabut dengan embun bening yang sudah siap menetes, "Marisa..."


"Iya, Bu. Ini aku, Marisa. Menantu Ibu, istrinya Mas Sakha." jawab Mamah Soraya dengan suara yang tidak kalah sendu. Buliran bening bahkan tidak sanggup lagi dibendungnya, betapa Mamah Soraya sudah menantikan hal ini bertahun-tahun lamanya. Betapa harapannya itu sangatlah sederhana, harapan dimana dirinya hanya ingin diterima secara baik sebagai menantu keluarga Anderson.


Dan pada akhirnya semua harapannya sudah terkabulkan, hari ini Hendra sudah berhasil membawanya bertemu kembali dengan seseorang yang menjadi harapannya.


Mamah Soraya langsung menghambur memeluk tubuh ringkih Ibu mertuanya. Ibu mertua yang baru pertama kali ini bisa disentuhnya seperti ini. Ibu mertua yang ikut tergugu dalam pelukannya. Tubuh keduanya saling bergetar, memperlihatkan betapa emosionalnya pertemuan mereka kali ini. Jika pertemuan mereka di masa lalu hanya menimbulkan sebuah amarah, kini di pertemuan kedua mereka sama-sama terguncang dalam tangis haru. Tangisan yang pada akhirnya bisa meluruhkan segala emosi dan juga kesakitan hati pada jiwa keduanya.


"Maafkan Ibu, Soraya. Maafkan perlakuan buruk Ibu di masa lalu..." ucap Oma Marisa masih terguncang dalam tangisnya. Tangisan pilu yang seolah sedang berbicara betapa Oma Marisa sangat tersiksa hidup dalam sebuah penyesalan.


"Semua bukan salah ibu, aku dan Mas Sakha lah yang sebenarnya bersalah karena sudah diam-diam menikah tanpa meminta restu orang tua lebih dulu."


"Ibu sangat menyesal, Soraya ... sekarang Sakha sudah pergi, Sakha sudah lama pergi meninggalkan kita semuaaa." sesal Oma Marisa makin larut dalam duka penyesalan. Penyesalan yang setiap waktu tidak akan pernah berhenti menggerogoti hidupnya, "Andai saja dulu Ibu bisa bersikap lebih baik, mungkin sekarang Sakha masih ada di sini. Sakha masih bisa bersama dengan kita, bahkan cucuku Hendra tidak akan kehilangan sosok ayah..."


Rumah Oma Marisa masih penuh dengan isak tangis, semuanya lebur menjadi satu. Kesedihan, kebahagiaan, penyesalan dan rasa haru bersatu dalam buliran bening yang tak kunjung mereda. Membuat seseorang yang sedang memperhatikan mereka dari kejauhan itu ikut luruh dalan keharuan.


"Ayah, Ayah bisa lihat sendiri kan? sekarang Nenek sudah bisa menerima Mamah. Hendra sudah bisa mewujudkan apa yang sudah menjadi harapan Mamah. Sekarang tugas Hendra sudah selesai, kini tinggal saatnya Hendra mengejar impian Hendra. Hendra akan segera melamar Rinjani untuk menjadi istri Hendra, Yah. Hendra berharap Ayah bisa memberikan restu Ayah untuk kami dari atas sana..."

__ADS_1


...****************...


Kembali lagi ke langit ibukota, cuaca siang ini terlihat begitu cerah dengan sang mentari yang masih setia memancarkan sinarnya dari atas langit yang tinggi.


Begitu pun dengan suasana di Anderson's Hotel yang terlihat begitu semarak. Hiasan bunga dan segala pernak-pernik pesta terlihat memenuhi wedding venue yang mengusung tema outdoor.


Ratusan kursi putih tersusun begitu rapih dan memanjang pada kedua sisi dimana pada bagian tengahnya sudah terbujur karpet super panjang dengan warna senada yang terhubung langsung ke arah altar pernikahan.


Ratusan undangan tamu-tamu penting sengaja didatangkan untuk menjadi saksi bahagia awal pernikahan kedua insan yang baru saja mengucapkan ikrar suci pernikahan di depan Tuhan.


Setelah mengharu biru bersama ratusan undangan dan juga orang-orang terdekat mereka, kini sepasang pengantin baru itu sedang melakukan sesi pemotretan yang di dampingi langsung oleh beberapa fotografer terbaik di Indonesia yang sengaja didatangkan langsung untuk mengabadikan momen bahagia mereka.


Rinjani terlihat begitu cantik dengan gaun putihnya, begitu pun dengan Gavin yang terlihat begitu menawan dengan setelan jas putih miliknya.


Tidak jauh dari mereka, ada Mami Carla yang terlihat begitu bahagia. Tidak bisa dipungkiri jika Mami Carla lah yang menjadi orang yang paling bahagia dalam acara pernikahan putranya bersama Rinja




sungguh sepasang pengantin yang terlihat begitu serasi, membuat siapa saja yang melihatnya tersihir oleh penampilan keduanya.

__ADS_1


Namun, siapa yang menyangka jika di balik segala kemewahan pesta pernikahan itu, ada sebongkah hati yang sedang menangis pilu. Wajahnya bisa saja tersenyum dengan indahnya, tapi tidak dengan hatinya yang sedang mati-matian menahan segala perjolakan batinnya.


"Maafin aku, Ndra..."


__ADS_2