
Rinjani masih larut dalam kesedihannya. Duduk menunduk merenungkan nasib sialnya yang harus ikut terseret dalam permasalahan pria yang sudah menolongnya. Hingga satu kalimat pertanyaan yang meluncur dari mulut Gavin itu berhasil membuyarkan lamunannya.
"Katakan kepadaku, apa aku sudah membuatmu menangis, Rinjani?" Satu pertanyaan yang berhasil menohok hatinya.
Hakh! apakah Rinjani tidak salah mendengar? masih perlukah Gavin menanyakan sesuatu yang sudah diketahui jawabannya. Sungguh Rinjani ingin berteriak sekeras-kerasnya mengucapkan apa yang terlintas di dalam hatinya. Iya! kamulah yang sudah membuatku menangis seperti ini!'
Namun kenyataannya sangat berbeda, dirinya sama sekali tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkan emosi yang sedang membelit hati dan pikirannya. Membuatnya hanya bisa berdiam diri meskipun ada banyak kalimat yang memenuhi otaknya.
Tak mendapatkan jawaban apapun dari Rinjani, Gavin memilih melepaskan sabun pengaman yang mengunci tubuhnya sebelum sedikit membenarkan posisi duduknya hingga menghadap langsung ke arah Rinjani.
Satu tangannya terulur ke depan membenarkan helaian rambut yang jatuh menutupi wajah Rinjani yang kemudian sengaja disematkan di belakang telinga gadis itu.
"Maafkan aku, Rinjani. Aku tidak bermaksud melibatkan mu dalam masalah keluargaku ini. Aku tidak tau jika Mami akan langsung suka kepadamu seperti ini. Aku pikir, aku hanya perlu meyakinkan Mami tanpa perlu menikahi mu seperti apa yang Mami inginkan." ucap Gavin dengan rasa bersalahnya.
Semua yang baru saja keluar dari mulutnya itu memang sesuai dengan apa yang ada di dalam hatinya. Gavin sama sekali tidak memiliki niatan buruk apapun terhadap Rinjani. Ia hanya berharap jika kehadiran Rinjani bisa menolongnya saja, bahkan dari awal juga Gavin sudah berniat akan melepaskan Rinjani kembali setelah berhasil mempertemukan Rinjani dengan Maminya untuk yang pertama kalinya.
Gavin sama sekali tidak menduga jika Maminya itu akan langsung jatuh cinta dan menginginkan Rinjani untuk menjadi menantunya. Padahal dalam pikirannya, Gavin justru mengira jika Maminya itu akan melakukan penolakan terhadap Rinjani. Gavin pikir dengan status dirinya yang hanya anak tunggal itu membuat Maminya memiliki kriteria tinggi dalam mencari calon pendamping hidup putranya. Namun, ternyata Gavin sudah salah mengira. Apa yang ada di pikirannya itu justru berbanding terbalik dengan reaksi Maminya.
"Sekarang, aku harus bagaimana? aku tidak ingin menikah denganmu, Gavin. Aku sudah memiliki seseorang yang sangat aku cintai. Seseorang yang aku harapkan untuk menjadi suamiku kelak." lirih Rinjani.
"Kamu tidak perlu melakukan apapun, Jani. Kamu hanya perlu sedikit bersabar, aku yang akan memastikan jika tidak akan ada pernikahan apapun di antara kita."
...****************...
__ADS_1
Hari sudah berganti dengan hari yang baru. Pagi ini Hendra sudah terlihat rapih dengan gaya kasualnya. Memilih mengenakan kaos putih yang dibalut jaket coklat susu yang terlihat begitu stylish dengan celana jeans hitam yang menutup hingga ke mata kaki.
Hendra memang berniat menemui Rinjani ke rumahnya lantaran kemarin dirinya sudah gagal menemui kekasihnya. Kemarin sore, setelah kepulangannya dari Sukabumi untuk menjemput sang ibu, Hendra langsung mendatangi rumah Rinjani yang sayangnya sedang dalam keadaan kosong. Rumahnya terlihat begitu sepi, pintu rumahnya juga dalam keadaan terkunci.
Namun, hal itu tidak mengurungkan niatnya untuk menemui sang kekasih. Hendra yang memang sudah sangat merindukan kekasihnya itu memilih menunggu di depan rumah, berharap kekasih yang sudah sangat dirindukannya itu segera pulang ke rumah. Menit demi menit selalu ditunggunya dengan sabar, hingga tidak terasa jika dirinya sudah menunggu selama kurang lebih dua jam lamanya, namun orang yang sedang ditunggu kedatangannya itu tidak kunjung pulang. Membuatnya memutuskan untuk pulang dan berniat datang kembali pada esok harinya.
Dan sekarang Hendra sudah berada di dalam perjalanan menuju ke rumah Rinjani.
"Kamu apa kabar, Sayang? tiga minggu tidak melihatmu saja sudah membuatku serindu ini, Sayang." lirihnya dengan wajah yang berbinar. Siapa yang tidak merasa senang jika akan bertemu kembali dengan kekasih yang sudah lama tidak ditemuinya.
Sekian waktu bermain dengan setir bundarnya, kini mobil Hendra sudah mulai memasuki halaman rumah sang kekasih dan saat itu pula dirinya dibuat bingung dengan keberadaan mobil mewah yang berada tepat di depan pintu utama.
"Mobil siapa itu?" celetuknya. Dalam otaknya Hendra mulai menerka-nerka siapa kira-kira orang yang di waktu yang sepagi ini sudah bertamu ke rumah kekasihnya.
"Sayanggg, ini aku ... tolong buka pintunya." teriak Hendra. Sedetik dua detik belum juga ada jawaban, Hendra mencoba membuka pintu yang ternyata tidak terkunci.
Hendra langsung berjalan memasuki rumah Rinjani, "Sayang, kamu dimana?" ucapnya memanggil Rinjani sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan yang ternyata kosong, tidak ada tanda-tanda keberadaan kekasihnya.
Tidak menemukan keberadaan Rinjani di lantai utama, Hendra langsung bergegas menaiki tangga menuju ke kamar Rinjani. Sama dengan keadaan yang ada di bawah, di lantai atas pun terlihat begitu sepi. Pintu kamar Rinjani juga dalam tertutup rapat.
Tangan Hendra sudah terangkat ke atas hendak mengetuk pintu kamar kekasihnya sebelum pergerakannya seketika terhenti begitu telinganya seperti mendengar suara pria yang berasal dari dalam kamar Rinjani.
"Rinjani sedang sama siapa di dalam kamarnya???" cicitnya yang jelas kaget mengetahui ada seorang pria di dalam kamar kekasihnya. Dengan perasaan yang menggebu-gebu, Hendra langsung membuka pintu kamar tanpa mengetuknya terlebih dulu.
__ADS_1
Braakkk!
Sontak perbuatannya itu berhasil mengagetkan dua orang yang ada di dalam kamar.
"Siapa dia, Sayang???" bentak Hendra yang langsung emosi melihat kekasihnya itu sedang berduaan di dalam kamar dengan seorang pria.
"Hendraaa. Ka-kamuu--" ucap Rinjani jelas kaget melihat kedatangan Hendra secara tiba-tiba.
"Kenapa? kamu kaget, Sayang!" sentak Hendra mulai dikuasai emosi, "Siapa pria itu, Sayang? apa selama aku pergi kamu sudah berani membawa laki-laki lain ke dalam kamar kamu, Sayanggg? Oh, aku tau! karena hal ini makanya kami sulit untuk dihubungi, iyaaa!!!"
"Hendra, tolong dengarkan penjelasan aku dulu. Aku tidak mungkin melakukan hal itu."
"Tidak mungkin melakukan hal itu tapi sekarang kamu sedang bersamanya di dalam kamar ini!" sergah Hendra tidak mau mendengarkan penjelasan kekasihnya. Kepalanya sudah penuh dengan pikiran negatif yang semakin membuat hatinya kepanasan.
"Tolong jangan marahi Rinjani seperti itu. Kami tidak melakukan apapun yang ada di dalam pikiran kamu." timpal seseorang yang sudah menjadi penyebab kemarahan Hendra.
"Hekh! masih mau mengelak!" sentak Hendra dengan wajah pongahnya.
"Kenalkan, saya Ferdi, kakak angkat Rinjani. Tolong jangan berfikiran buruk terhadap Rinjani. Kami tidak mungkin melakukan hal-hal yang senonoh. Aku hanya sedang membantu Rinjani mengambil koper miliknya dari atas lemarinya." jelas Ferdi dengan pembawaan yang begitu tenang. Ferdi tau, jika situasinya akan bertambah buruk jika dirinya sampai ikut terbawa emosi.
Sontak jawaban Ferdi itu berhasil membungkam mulut Hendra. Pandangan Hendra tertuju ke arah lemari dimana di bawahnya memang terlihat ada satu koper yang terbungkus kain penutup.
"Apa benar begitu, Sayang?" tanyanya dengan nada bicara yang lebih rendah.
__ADS_1
"Apa kamu masih butuh jawabanku, Ndra?" ucap Rinjani yang justru melayangkan pertanyaan kepada kekasihnya. Suaranya terdengar sedikit miris, menunjukkan jika dirinya jelas merasa kecewa dengan pemikiran buruk sang kekasih, "Begitu kah caramu mencintaiku, Ndra? seenaknya pergi tanpa kabar dan pulang dengan tuduhan mu yang tidak masuk akal itu! Aku tidak menyangka jika dua tahun yang kita habiskan bersama tidak bisa membuatmu yakin akan cintaku, Ndra!"