Terjerat Cinta Dua Saudara (Runtuhnya Dunia Rinjani)

Terjerat Cinta Dua Saudara (Runtuhnya Dunia Rinjani)
Misi rahasia


__ADS_3

Rinjani masih diam termenung di depan sebuah gedung yang ada di hadapannya. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan bentuk bangunan tersebut. Hanya sebuah bangunan dua lantai yang hampir sama dengan bangunan pada umumnya. Hanya saja ada sesuatu hal yang berhasil menarik perhatiannya.


"Orion's Club!" lirihnya membaca logo yang terpampang begitu nyata pada dinding gedung, "Aku nggak salah tempat, kan? Perasaan alamatnya udah bener, deh!"


Rinjani kembali membuka pesan masuk yang dikirim oleh Siska kepadanya. Dibacanya dengan teliti sebuah alamat yang ternyata sama persis dengan alamat yang tertera di bawah logo gedung yang ada di hadapannya.


"Ini maksud Siska gimana? aku disuruh kerja di club, begitu? yang benar saja!"


Rinjani tidak habis pikir dengan pemikiran Siska, temannya. Memang benar dirinya sempat meminta tolong untuk dicarikan lowongan pekerjaan, tapi bukan untuk bekerja di tempat seperti ini juga kan.


Selama hidupnya, Rinjani bahkan tidak pernah sekalipun berfikir untuk menginjakkan kakinya di tempat yang dalam pikirannya adalah tempat yang penuh dengan ancaman bahaya. Rinjani memang bukan kriteria anak yang senang dengan yang namanya pergaulan bebas, namun sedikit banyaknya Rinjani sudah mengerti tentang banyaknya hal-hal negatif yang ada di dalamnya. Siapapun juga pasti sudah tahu, betapa gelap dan bahayanya segala aktivitas yang dilakukan di tempat yang dari namanya saja sudah mencerminkan kesan yang kurang baik.


Entahlah, yang jelas Rinjani seperti merasakan adanya sesuatu yang mengusik nurani dan hati kecilnya. Seperti ada sebuah penolakan di dalam jiwanya. Sebuah dorongan dimana hati kecilnya tidak berhenti menyalakan alarm bahaya yang mungkin saja sudah menantinya di depan sana.


Merasa ada yang tidak beres, Rinjani memilih menghubungi Siska melalui sambungan telepon yang untungnya langsung tersambung hingga hanya berselang beberapa detik saja, suara Siska sudah terdengar menyapanya.


'Halo, Rin. Gimana, elo udah sampai di tempat kerja yang gue kasih?' sapa Siska memulai obrolan. Mendengar pertanyaan yang di lontarkan Siska, Rinjani mendesah panjang sebelum mulutnya terbuka mengutarakan keresahan hatinya.


"Iya, gue udah sampai. Cuma, gue agak heran aja sama elo, Sis. Ini maksudnya apa, elo ngirim alamat club malam ke gue? Elo nggak lagi nyuruh gue buat kerja di club, kan?"


"Loh, emang kenapa, Rin? Iya emang bener kerjaan yang gue maksud itu ya, club malam. Kenapa, nggak ada yang salah, kan?" tanya balik Siska merasa tidak ada yang salah dengan lowongan pekerjaan itu.


Alih alih merasakan ketenangan dalam hatinya, Rinjani justru bertambah semakin resah mendengar segala penuturan temannya. Akal sehatnya seperti menolak jika dirinya harus bekerja di tempat yang jauh dari agama.


Rinjani memang bukanlah perempuan alim yang selalu menjaga ibadahnya. Tak jarang dirinya juga kerap meninggalkan kewajibannya terhadap sang pencipta dan lebih mementingkan urusan dunia.


'Halo, Rin. Gimana? kok malah diem, sih!' gerutu Siska yang tak kunjung mendapatkan jawaban. Rinjani yang semulanya sedang asik berperang dengan isi kepalanya sendiri itu, kini sudah kembali sadar.


"Gue nggak tau, Sis. Kayaknya gue nggak bisa deh kalau kerja di tempat hiburan seperti ini." aku Rinjani lebih mendengarkan apa yang dikatakan hati kecilnya.

__ADS_1


'Kenapa nggak bisa, Rin? Elo bakalan dapet uang kan kalau kerja di situ. ingat Rin, sekarang nyari kerja tuh susah. Elo sendiri juga dari pagi nyari kerjaan belum dapet dapet, kan? Udah lah, kerja di situ aja! Nggak usah kebanyakan mikir, keburu diambil orang lain baru nyesel deh, lo.'


"Tapi gue takut, Sis. Elo tau sendiri kan, gimana aktivitas di dunia hiburan." beber Rinjani belum hilang gelisah.


'Apa yang elo takutin, Rin. Semua tergantung sama elo-nya. Asal elo bisa jaga diri ya elo bakalan aman. Lagian juga elo disitu kerja jadi cleaning service, kerjaan lo cuma pegang gagang sapu sama pel-an.'


"Tetep aja gue takut, Sis. Kalau ada yang macem macem sama gue gimana dong?" Rinjani terus saja menyuarakan kegelisahan hatinya. Belum bekerja saja, bayangan bayangan buruk bekerja di dalam dunia hiburan sudah menghantuinya.


'Gue sih nggak maksa, Rin. Tapi gue ingetin lagi sama elo, jaman sekarang nyari duit nggak gampang, Rin. Elo nggak berniat buat terus bergantung sama Hendra, kan?' tukas Siska terdengar sedikit sarkas.


Rinjani sendiri kini semakin dilanda dilema. Satu sisi, dirinya tidak ingin berurusan dengan yang namanya dunia hiburan. Namun, setelah dipikir pikir ternyata omongan Siska ada benarnya juga.


Dirinya sudah seharian pergi ke sana ke mari mencari pekerjaan, namun sampai sekarang juga belum ada satupun lowongan yang didapatnya. Belum lagi dirinya jelas tidak ingin terlalu lalu menyusahkan Hendra, kekasihnya.


Rinjani sangat berharap secepatnya dirinya bisa menghidupi dirinya sendiri tanpa perlu lagi bergantung dengan orang lain. Tidak mudah untuk Rinjani mengambil sebuah keputusan, ada banyak hal yang saling berkecamuk memenuhi pikirannya.


***************


Hanya saja, kali ini author bisa melihat adanya kekompakan pada kedua wajah ibu dan anak itu.


"Hendra titip Rinjani ya, Mah. Tolong jagain Rinjani selama Hendra pergi." ucap Hendra dengan wajah yang terlihat sedikit sendu.


Di sampingnya, ada ibunya yang terlihat begitu lega. Setelah melalui perdebatan yang cukup alot, pada akhirnya Hendra bersedia meneruskan kembali apa yang sudah menjadi tujuannya dari sejak lama.


"Kamu tenang aja, Sayang. Mamah bakalan sering sering nengokin Rinjani ke rumahnya. Ya, walaupun Mamah sendiri belum tau gimana cara Mamah buat ngasih penjelasan sama Rinjani. Semoga aja Rinjani mau mengerti..." tutur Ibu Hendra begitu yakin. Meskipun di dalam hatinya, dirinya belum sepenuhnya yakin akan memiliki keberanian untuk menemui Rinjani.


"Makasih, Mah. Cuma Mamah yang bisa Hendra percaya. Hendra janji, setelah Hendra berhasil melakukan misi ini, Hendra bakal langsung menikahi Rinjani." ucap Hendra tanpa menghentikan kegiatan tangannya yang sedang memasukan beberapa pakaian ke dalam koper berukuran cukup sedang.


"Jam berapa pesawat kamu take of, Sayang?"

__ADS_1


"Jam sembilan malam." jawab Hendra sebelum melirik ke arah jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan tangannya. Wajahnya tampannya tiba-tiba saja berubah menjadi sendu mengetahui waktu sudah menunjukkan hampir jam tujuh malam yang artinya, dirinya sudah tidak memiliki banyak waktu lagi.


Dengan perasaan gelisah, Hendra terlihat menyalakan layar ponselnya, dengan cepat membuka room chat-nya bersama sang kekasih pada aplikasi hijaunya. Dan sialnya, kontak yang tersimpan dengan nama 'SweetheartšŸ’š' belum terlihat aktif kembali. Bahkan, beberapa pesan singkat yang dikirimnya sejak sore belum juga berubah menjadi biru.


"Kamu kemana aja sih, Sayang? Dari tadi dihubungi nggak bisa bisa?"


Menyadari waktu akan terus berjalan, Hendra memilih melayangkan panggilan suara ke nomor kekasihnya. Namun entah kenapa, nomor kekasihnya masih juga belum bisa dihubungi. Hanya terdengar suara operator yang menyapa telinganya.


"Ck! nggak aktif lagi!"


[Sayang, kamu dimana?]


[Kita bisa ketemuan, nggak?]


[Ada yang mau aku omongin sama kamu, penting!]


[Tolong kabari aku secepatnya!] tulisnya dalam beberapa pesan singkat yang sayangnya hanya mendapatkan icon centang satu.


******************


Sementara itu, orang yang saat ini sedang ditunggu kabarnya ternyata sedang terlihat sibuk dengan pekerjaannya. Dengan balutan appron hitam yang membungkus tubuhnya, Rinjani tidak berhenti bergerak ke sana ke mari seperti setrikaan saja.


Wajah cantiknya sudah terlihat lusuh dengan tatanan rambut yang sudah mulai berantakan. Rinjani berulang kali menyeka buliran keringat yang menghiasi wajahnya, menandakan Rinjani sudah cukup lama beraktivitas.


Sekian waktu sibuk melakukan pekerjaan ini dan itu, kini wajah Rinjani terlihat sedikit lega lantaran sudah berhasil menyelesaikan tugasnya. Namun sayang, kelegaannya itu hanya berlangsung beberapa detik saja karena tidak lama dari situ, telinga Rinjani tidak sengaja mendengar suara seseorang yang membuatnya terlonjak kaget.


"Tambah satu gelas lagi! tapi, saya mau pelayan baru itu yang menuangkannya untukku. Siapa tadi namanya? hakh, Rin-jani..."


Deghhhh!

__ADS_1


__ADS_2