
"Aw" Teriak Kirana saat Jenny menarik rambutnya dengan kasar.
"Plak" Merasa tidak puas setelah menjambak rambut Kirana, Jenny langsung menampar pipi Kirana dengan keras. Tidak hanya sekali, tetapi beberapa kali.
Bahkan membuat ujung bibir Kirana berdarah.
"Apa salahku kak?" Tanya Kirana ditengah hujanan tamparan mengenai pipinya.
"Kau masih bertanya apa salahmu jalang? Kau sudah merebut laki-laki impianku, sekarang ku harus terima akibatnya. Aku akan merusak wajahmu, hingga Syam tidak menginginkanmu lagi" ucap Jenny sambil mencekram wajah Kirana dengan keras.
Dia mengambil pisau kemudian tersenyum menyeramkan menatap wajah Kirana.
"Ka-kak, a-apa yang kau lak-kukan?" Tanya Kirana dengan mata ketakutan.
"Haha, kau pasti tahu sendiri" ucap Jenny sambil menyeringai.
Dia mendekatkan pisau itu kewajah Kirana perlahan. Sebenarnya dia sedikit ragu, tapi rasa cemburu dan marahnya jauh lebih besar daripada rasa takutnya.
"Dooor" "Plang" Suara tembakan dan pisau jatuh tiba-tiba meenuhi ruangan itu.
"Awww" ringis Jenny saat menyadari sebuah peluru menembus tangannya.
Dia langsung melihat arah asal tembakan itu. Betapa terkejutnya dia saat menyadari siapa yang berdiri disana.
"S-syam, tu-tuan Ju-justine" ucapnya. Bibirnya terasa kelu menyebut dua laki-laki yang memandangnya penuh amarah saat ini.
"Aku tidak pernah mendaratkan peluru ku pada tubuh wanita sebelumnya. Tapi entah mengapa aku merasa sangat bahagia melihatmu tersungkur tidak berdaya dengan darah di lenganmu saat ini" ucap Syam dengan mata memerah.
"Urus dia" perintah Syam pada Leon.
__ADS_1
Setelah itu, Syam langsung memasukkan pistolnya lagi kemudian berlari melepas ikatan tali yang mengikat tangan dan kaki Kirana. Lalu memeluknya erat.
"Hiksss" hanya tangisan yang keluar dari mulut kecil Kirana.
"Maafkan aku, aku terlambat menyelamatkanmu" ucap Syam sambil terus memeluk Kirana erat.
Kirana hanya menggeleng kemudian menangis lagi. Entah mengapa, dia merasa sangat aman sekarang. Pelukan dari suaminya yang sangat dia rindukan terasa begitu hangat.
"Maafkan aku" ucap Syam sambil menghapus air mata Kirana dan mencium matanya penuh sayang.
"Aw" ringis Kirana saat tangan Syam menyentuh pipinya.
"Apa sesakit itu?" Tanya Syam. Kirana mengangguk dana berusaaha tersenyum.
"Kau masih saja tersenyum dalam keadaan seperti ini" ucap Syam.
"Astaga sayang" ucap Syam. Dia langsung menggendong Kirana kemudian membawanya keluar setengah berlari
"Kita ke rumah sakit. Cepat!" ucap Syam tak terbantahkan.
Sesampainya di rumah sakit. Syam langsung berlari menggendong Kirana yang kemudian langsung di ambil alih oleh dokter yang ada disana. Terlihat jelas wajah takut dan khawatir bercampur aduk di wajah Syam.
"Maaf tuan, Anda tunggu di luar sebentar" ucap dokter itu.
"Kau harus menyelamatkannya. Jika tidak aku akan menutup rumah sakit ini" ucap Syam.
"Kami akan usahakan tuan" ucap Dokter tersebut kemudian menutup pintu.
Syam langsung terduduk lemas di kursi depan IGD.
__ADS_1
Bahkan dia tidak sadar bahwa saat ini pipinya basah dengan air mata.
Syam yang penuh pesona, hilang seketika. Yang terlihat saat ini hanya Syam yang lusuh dengan rambut dan wajah yang acak-acakan.
"Sepertinya dia benar-benar mencintai adikku" batin Justine
"Leon, lenyapkan dia" ucap Syam saat melihat Leon berlari menghampirinya.
"Siap tuan" ucap Leon kemudian berlalu pergi lagi.
"Apa kau yakin?" Tanya Justine.
"Aku tidak pernah seyakin ini. Kau pasti tahu sisi gelapku" ucap Syam sambil menatap Justine dengan tatapan mematikan.
"Ya, aku setuju denganmu. Kalau diizinkan mungkin aku juga ingin memberikan pelajaran pada induknya." ucap Justine.
"Mksudmu?" Tanya Syam bingung.
"Dia tidak sendiri. Ada orang berpengaruh yang membantunya. Dan naasnya, orang tersebut adalah orang terdekatmu" ucap Justine.
"Tante Lora?" Tanya Syam memastikan.
Justine langsung mengangguk.
"Kau bercanda?" Tanya Syam memastikan.
"Hmmm, sepertinya kau jauh lebih tahu watak bibik mu itu" ucap Justinr, yang langsung membuat amarah Syam memuncak lagi.
-Bersambung-
__ADS_1