
Saat ini, Kirana, Sofi, Syam dan Leon sudah sampai di salah satu tempat perbelanjaan elit di kota tersebut. Kirana langsung mengajak mamanya keluar.
"Ingat jangan melirik laki-laki manapun"kata Syam dengan tatapan menajam.
"Tidak mungkin, karena aku masih sayang nyawaku" gumam Kirana, Kemudian mencium tangan Syam.
Setelah dia langsung menggandeng tangan Mama Sofi dengan manja. Karena dia benar-benar sangat merindukan Mamanya.
Sudah lama sejak dia menikah, dia jarang sekali bertemu dengan Sofi. Karena Syam memang melarangnya.
Syam melarang Kirana dengan alasan, Nanti pria hidung belang yang sering bersama Sofi akan menganggu Kirana. Dan sepertinya alasannya itu benar-benar disetujui oleh Mamanya.
"Ma kita kemana dulu?" Tanya Kirana.
"Ke supermarket saja yuk. Bukannya Kamu ngajak mama kesini buat membeli keperluan dapur?" ucap Sofi lembut.
"Hmmm, Ya sudah ayo" ucap Kirana.
"Oya, Kamu nggk mau membeli baju juga? biar kita cari baju dulu" Tawaf Sofi. Namun Kirana langsung menggeleng. Karena dia merasa belum membutuhkannya saat ini.
Dia sejak kecil memang diajarkan seperti itu oleh Mamanya. Dia selalu ingat perkataan Sofi untuk membeli barang karena kebutuhan bukan keinginan.
"Baiklah, ayo" Ajak Sofi.
Mereka langsung memilih bahan-bahan makanan yang mungkin akan dibutuhkan Kirana nantinya. Walaupun Kirana memang tidak terlalu bisa memasak. Tapi dia selalu berusaha berlatih sambil melihat tutorial memasak.
Yups, Kirana sedang belajar menjadi istri yang baik. Walaupun umurnya masih sangat muda. Tapi dia yakin pasti bisa.
"Oya, Mama nggak kerja?" Tanya Kirana sambil memilih beberapa sayuran mengikuti cara Sofi.
"Tidak sayang" ucap Sofi kemudian menaruh sayur itu di troli.
"Hmmm, Ma, klo misalnya Kirana minta tolong mama untuk berhenti bekerja. Mama mau nggak? Nanti Kirana akan minta kerja sama Kak Syam di kantornya, biar Kirana yang penuhi kebutuhan Mama" ucap Kirana sambil tertunduk karena takut melihat ekspresi Sofi.
__ADS_1
Dia memang sudah lama ingin mengatakan ini. Namun dia sangat takut menyinggung hati Sofi.
Sofi pun sama. Dia tampak terdiam sambil memandangi sayuran di depannya. Entahlah tiba-tiba pikirannya melayang entah kemana.
"Sayang, nanti Kita bicarakan ini ya. Sekarang Kita selesaikan belanjanya dulu" ucap Sofi sambil tersenyum lembut pada Kirana.
Kirana yang mengerti salah timing langsung mengangguk.
"Aku pikir Mama akan marah padaku" batin Kirana kemudian mendorong troli belanjaan.
Sejak perkataan Kirana tadi, Sofi terlihat berbeda. Dia terlihat lebih banyak melamun. Kirana sadar perubahan Sofi, tapi dia tidak bisa berbuat apapun.
Hingga Kirana merasa ada yang menjanggal seperti ada yang mengikutinya.
"Hmm, Mungkin itu bodyguard yang dikirim kak Syam" batin Kirana.
"Oya, aku kan ingin mengerjai mereka" batin Kirana sambil tersenyum jahil.
"Ma, tunggu disini sebentar ya. Kirana ke toilet sebentar" ucap Kirana kemudian setengah berlari ke toilet.
Kirana tersenyum senang, karena dia merasa bodyguardnya sedang mengikutinya. Dia terus berjalan hingga tiba-tiba mulutnya di bekap oleh seorang dengan tubuh kekar.
Dia terus meronta, namun nihil. Tubuhnya yang kecil tidak mampu menandingi kekuatan laki-laki itu.
"Hmmmm" Dia mencoba teriak. Namun tiba-tiba tubuhnya lemas dan setelah itu dia tidak sadarkan diri.
Disisi lain, para bodyguard Kirana tengah bingung. Karena dia tidak menemukan Kirana sama sekali. Dia hanya melihat Sofi yang sedang sibuk dengan belanjaannya.
"Nona kemana?" Tanya salah satu bodyguard tersebut.
"Aku tidak tahu" Ucap yang lainnya. Hingga mereka pun berlari menghampiri Sofi.
"Nyonya, nona kemana?" Tanya salah satu bodyguard yang namanya July.
__ADS_1
"Dia dia izin ke kamar mandi. Tapi sampai sekarang belum balik" ucap Sofi yang tiba-tiba tersadar kalau ini sudah hampir 30 menit Kirana izin ke toilet.
"Astaga, dia belum balik sampai sekarang" ucap Sofi kemudian menyusul Kirana ke toilet yang diikuti oleh para bodyguardnya di belakang.
"Tidak ada" ucap July yang mulai terlihat khawatir.
"Bagaimana ini? Kirana" ucap Sofi dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Cepat cek CCTV" Ucap salah satu dari bodyguard itu dan July pun langsung berlari ke tempat monitor.
"Astaga, nona diculik, matilah kita" ucap July.
Mendengar hal itu, Sofi langsung ambruk dan tidak sadarkan diri.
Syam yang mendengar kabar Kirana diculik langsung menghentikan meeting dan kemudian berlari menuju tempat parkir.
"Bagaimana bisa Kirana diculik. Kalian becus tidak sih. Mengurus satu wanita saja tidak bisa" ucap Syam dengan rahang yang mengeras.
"Maafkan Kami tuan" ucap para bodyguard itu serempak melalui panggilan video.
"Aku tidak mau tahu. Kalian harus cari Kirana segera. Kalau kalian tidak bisa menemukannya. Kalian semua dipecat" Ucap Syam kemudian mematikan panggilan video.
"Cepatlah Leon. Kau sungguh lama" ucap Syam yang sudah semakin gusar.
"Ini sudah kecepatan maksimal tuan" ucap Leon.
Syam hanya bisa mengumpat.
"Tepikan mobilnya. Biar aku yang mengemudi dan Kau telpon semua tim kita untuk mencari Kirana. Aku ingin Kirana ditemukan dalam keadaan tidak lecet sedikitpun" Ucap Syam.
Kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan sangat tinggi.
"Berani sekali mereka menculik istriku. Sepertinya mereka sudah bosan hidup" ucap Syam sambil memukul stir beberapa kali.
__ADS_1
-Bersambunh-