
Sudah hampir jam 10 malam, Syam belum juga kembali. Kirana terus memandanh ke arah pintu berharap Syam datang. Tapi yang diharapkanpun tidak kunjung memunculkan wajahnya.
"Sayang, Kamu istirahatlah sepertinya suamimu sedang ada urusan mendadak. Mama takut kesehatanmu menurun. Dari tadi kau tidak pernah istirahat. Hanya memandang ke arah pintu itu" ucap Sofi.
"Kirana tidak bisa tidur sebelum melihat kak Syam ma. Sudah lebih 12 jam dia tidak kembali. Telpon Kirana bahkan tidak diangkat-angkat. Kirana takut kak Syam kenapa-kenapa" ucap Kirana.
"Hmmm, tapi kamu juga harus memikirkan kesehatanmu sayang. Nanti kalau suami mu datang dan sakitmu tambah parah dia pasti akan sedih" ucap Sofi.
"Hmmm, ya sudah. Kirana coba tidur ya Ma. Tapi nanti kalau kak Syam kembali. bangunkan Kirana ya" ucap Kirana yang kemudian dibalas anggukan oleh Sofi.
Sofi melihat Kirana yang mulai terlelap dengan perasaan berkecamuk. Entah mengapa perasaannya tidak enak. Hingga dia teringat sesuatu kemudian menekan nomer yang dia kenal.
"Hallo Pak Surya" ucap Sofi setelah panggilan terhubung.
"Saya ingin menanyakan perihal Syam. Apa Anda tahu dia dimna? Kirana saat ini sedang di rumah sakit. Dia terus mencarinya, saya sudah menelponnya tapi tidak ada jawaban" ucap Sofi kemudian.
"Baik pak" kata Sofi kemudian panggilan ditutup.
"Bisa-bisanya dia tidak memberitahu keluarganya terkait hal ini" ucap Sofi kemudian menghempaskan tubuhnya di sofa. Karena memang Surya tadi mengatakan jika dia tidak tahu keberadaan Syam. Dan yang membuatnya sangat syok adalah kabar tentang Lora.
"Bagaimana bisa si nenek sihir itu meninggal" ucap Sofi sambil memejamkan matanya. Memijit kepalanya pelan berharap pikirannya bisa tenang kembali.
***
"Brukk" Tendangan hebat berhasil mengenai perut Deni.
__ADS_1
"Brukk Brukk Brukk" Pukulan dan tendangan trus mengenai tubuh Deni hingga dirinya lemas tak berdaya di lantai.
"Cukup" ucap Syam kemudian bangun dari duduknya. Berjalan perlahan mendekati Deni.
"Balasan apa yang pantas untuk seorang pembunuh sepertimu" ucap Syam dengan bibir menyeringai.
"Ampuni saya tuan, tapi bukannya lebih baik jika dia mati. Karena dia lah penyebab istri Anda di rumh sakit sekarang" ucap Deni.
"Aku tahu itu, tapi aku bisa menghukum dia sendiri. Kenapa kau harus membunuhnya huh?" ucap Syam dengan rangang mengeras. "Bruk" satu tendangan mendarat di perut Deni.
"Haha, dia pantas menerimanya. Apakah Anda tahu tuan. Siapa yang mencelakai Anda sampai hilang ingatan dulu?" ucap Deni yang membuat Syam langsung terdiam. Dia memang sedang mencari pelaku yang telah membuatnya dan Kirana amnesia dulu.
"Siapa?" Tanya Syam kemudian.
"Saya tuan. Dan itu atas perintah wanita yang sudah aku bunuh itu" ucap Deni sambil tersenyum. Seperti merasa puas dengan ucapannya sendiri. Tubuh Syam langsung kaku dibuatnya. Dia terdiam beberapa saat sambil berusaha mencerna setiap perkataan Deni tadi.
"Apa maksudmu? Tante Lora tidak mungkin melakukannya" ucap Syam.
"Kalau Anda tidak percaya. Saya punya bukti-buktinya" ucap Deni kemudian berusaha meraih hpnya dengan tanganyang bergetar karena badannya terasa sakit semua akibat pukulan yang diterimanya.
Syam langsung meraih hp tersebut dan melihat semua kejahatan yang dilakukan Lora. Matanya tidak berkedip sedikitpun saat melihat bagaimana Lora tersenyum puas saat berhasil menyelesaikan misinya.
Bahkan yang membuatnya tidak habis pikir bahwa ternyata Lora juga berusaha untuk memisahkan Kirana dan mamanya. Lora juga yang telah membunuh papa Kirana.
Tiba-tiba tubuhnya lemah hingga dia hampir ambruk. Beruntung Leon ada dibelakangnya dan menahan tubuhnya.
__ADS_1
"Bagaimana aku harus menghadapi Kirana sekarang. Semua yang terjadi di hidupnya karena ku. Karena dia dekat denganku tante Lora melakukan semua ini padanya" ucap Syam.
"Maafkan saya tuan" ucap Leon tiba-tiba yang membuat Syam langsung memandangnya.
"Kau sudah tahu semua ini?" Tanya Syam yang langsung di balas anggukan oleh Leon.
Tanpa pikir panjang, Syam langsung mendaratkan pukulan keras di pipi Leon yang membuat Leon langsung tersungkur dengan pipi yang berdarah.
"Kenapa kau menyembunyikannya? Huh" teriak Syam. "Bruk" satu hantaman lagi mendarat di pipi Leon.
"Maaf kan saya tuan. Saya tidak ingin tuan menyalahkan diri Anda seperti tadi. Saya lihat Anda sudah bahagia dengan Nona, untuk itu saya tidak berani memberi tahu Tuan" ucap Leon.
"Tetap saja kau salah Leon" ucap Syam kemudian mengayunkan tangannya hendak memukul Leon kembali. Namun dering hpnya menghentikannya.
"Urusan kita belum selesai" ucap Syam kemudian meraih Hpnya.
"Iya Pa" ucap Syam. Terdengar suara bentakan Surya dari seberang telpon.
"Kirana" ucap Syam dengan tubuh yang melemas.
"Bagaimana bisa aku bertemu dengannya. Aku sudah banyak berdosa terhadapnya" batin Syam. Entah darimana air matanya mulai menetes.
"Cepatlah temui istrimu. Disaat bibirmu meninggal dan istrimu sakit kau malah kelayapan. Papa tidak pernah mengajarkanmu Syam" ucap Surya dari seberang telpon
"Iya Pa. Maafin Syam" ucapnya kemudian samabungan telpon diputus sepihak oleh Surya.
__ADS_1
"Huhhhhhhhhhhh" teriak Syam kemudian menendang semua benda yang ada di depannya.
-Bersambung-