
Syam memang awalnya membenci sikap Lora yang selalu jahat pada Kirana. Ditambah dengan apa yang sudah dia lakukan padaa Kirana hingga membuatnya terbaring di rumah sakit sekarang.
Namun, tidak bisa dipungkiri juga bahwa Lora adalah bibi sekaligus orang yang selalu ada untuknya dulu di saat mama kandungnya meninggalkannya. Dan saat melihat Lora terbaring kaku seperti ini, membuatnya naik darah. Dia benar-benar tidak suka jika miliknya di ganggu.
"Aku tidak mau tahu, pembunuh itu harus kalian tangkap lebih dulu dari pada polisi. Aku harus memberikan pelajaran besar untuknya" ucap Syam.
"Maaf kan sya tuan. Baru saja saya menerima informasi, bahwa pembunuhnya nyonya sudah menyerahkan diri ke kantor polisi" ucap Leon kemudian meletakkan hpnya kembali ke saku.
"Kalau begitu, kau cari cara agar dia keluar dan bawa ke markas kita" ucap Syam dengan wajah menyeringai. Sepertinya sifat gelapnya yang dulu mulai muncul kembali.
"Senyumannya membuat bulu kuduk ku beridiri" ucap Leon sambil berlalu pergi.
***
Disisi lain, Ryan terlihat tengah berbincang dengan seseorang. Pembicaraan mereka tampak serius. Hanya mereka yang tahu apa gerangan yang sedang mengusik mereka saat itu.
"Yan" panggil Alya ragu, yang membuat pembicaraan kedua orang tersebut langsung terhenti. Laki-laki yang tengah berbincang dengan Ryan langsung pamit pergi.
"Ada apa?" ucap Ryan dingin. Seperti biasa, dia akan selalu memperlakukan Alya dingin. Bahkan tidak jarang juga dia akan membentak dan memukul Alya habis-habisan jika dia berada pada mood buruk.
Alya tidak bisa menyalahkan Ryan seutuhnya, karena semua ini terjadi karena kesalahannya. Seharusnya dia tidak pernah menjebak Ryan pada permainannya. Dan sekarang dia harus menerima dan menanggung semua kesalahannya. Menerima setiap perlakuan Ryan padanya sambil terus berharap Ryan akan berubah.
"I-itu, Papa memanggilmu" ucap Alya. Tanpa menjawab, Ryan langsung berlalu meninggalkan Alya menuju tempat Surya.
__ADS_1
"Hmmm, sampai kapan?"Ucap Alya sambil menghapus air mata yang sedikit keluar membasahi pipinya
Disisi lain, Sofi saat ini tengah duduk di pinggir ranjang Kirana. Memegang tangannya erat sambil terus berdoa dalam hatinya agar Kirana tetap menjadi anaknya dan tidak melupakannya nanti.
Setelah mendengar cerita dari Syam tentang ibu kandung Kirana. Hati Sofi langsung sakit, dia sangat takut jika Kirana nanti melupakannya dan tidak lagi ingin menganggapnya ibu. Apalagi dari beritaa yang dia dengar. Ibu kandung Kirana adalah orang kaya raya dan terpandang.
Maka bisa dipastikan sendiri bagaimana dilemanya hati dan pikiran Sofi saat ini. Ditambah lagi melihat Kirana yang tengah terbaring lemah seperti saat ini. Membuat pikiran dan hatinya benar-benar berkecamuk menjadi satu.
"Na, Mama harap Kamu tidak melupakan Mama. Berjanjilah untuk menjadi anak Mama walaupun Kamu sudah menemukan ibu kandungmu sayang. Mama sayang banget sama kamu" ucap Sofi dengan air mata yang sudah mengalir tanpa henti.
"Ma" panggil Kirana sesaat setelah matanya terbuka.
"Kau bangun nak? Maaf mama membangunkanmu" ucap Sofi sambil menghapus air matanya.
"Tidak apa-apa Ma. Mama nangis?" tanya Kirana dengan raut wajah khawatir.
"Mama jangan bohong. Kirana tahu kapan Mama berbohong dan tidak. Mama nangis kenapa?" Tanya Kirana lagi
"Tidak sayang. Mama tidak bohong. Kamu istirahat lah lagi. Maaf mama membangunkanmu" ucap Sofi.
"Mama kenapa? tidak sepertinya mama seperti ini" Tanya Kirana sambil berusaha bangun dari tidurnya.
"Kamu kenapa bangun sayang, istirahatlah" ucap Sofi sambil berusaha membaringkan Kirana lagi.
__ADS_1
"Maa, Mama sayang kan sama Kirana?" Tany Kirana dengan raut wajah tampak serius. Sofi pun langsung mengangguk.
"Tentu saja mama sayang sama Kamu. Mama bahkan sangat sayang sama Kamu" ucap Sofi.
"Kalau Mama sayang sama Kirana, sekarang Kasi tahu Kirana alasan mama nangis" ucap Kirana dengan nada tak terbantahkan.
Sofi terdiam sebentar, mencoba menguatkan dirinya.
"Hmmm, mama denger Kamu sudah bertemu dengan mama kandungmu Nya?" ucap Sofi dengan mata yang berkca-kaca seperti menyimpan rasa sakit yang hanya dia yang tahu. Kirana menanggung, dan sekarang dia mengerti alasan mamanya menangis.
Umurnya memang belum terlalu dewasa tapi dia sudaah cukup peka dengan hal-hal seperti ini. Masalah yang selalu hadir daam hidupnya membuatnya begitu peka dan dewasa diusianya. walaupun memang tingkahnya masih kekanakan.
"Jadi itu yang membuat Mama menangis? Mama tenang saja. Mama Kirana tetap mama Sofi. Tidak akan ada yang bisa menggantikannya" ucap Kirana sambil menggenggam tangan Sfi erat. Seperti menekankan bahwa apa yang dia katakan benar.
"Tapi dia ibu kandungmu sayang" ucap Sofi. Dia memang bahagia ketika Kirana memilihnya, namun disisi lain, dia juga tidak ingin egois untuk memisahkan anak dan ibu kandungnya.
"Seorang ibu tidak akan meninggalkan anaknya Ma. Sudah ya Ma, Kita jangan bahas lebih jauh. Intinya mama Kirana hanya Mama Sofi" ucap Kirana dengan senyuman yang terlihat sedikit dipaksa.
"Tapi Na" ucap Sofi yang terlihat tidak setuju dengan Sikap Kirana.
"Sudah Ma. Oya, Kak Syam mana Ma?" Tanya Kirana yang membuat Sofi langsung teringat keberadaan Syam yang menunggu di luar.
"Astaga, Mama sampai lupa. Dia menunggu Kita di luar. Dia pasti belum makan" ucap Sofi kemudian berniat memanggil Syam. Namun dia tidak menemukan siapapun disana.
__ADS_1
"Hmm, mungkin dia sedang mencari makan" ucap Sofi kemudian menutup pintu kembali.
-Bersambung-