
"Anakku" ucap Korina kemudian memeluk Kirana erat.
"Terima kasih sayang. Terima kasih ya Allah SWT" ucap Korina sambil memejamkan matanya bersamaan dengan bulir air mata yang menetes membasahi pipinya.
"Maafin Kirana ya Ma" ucap Kirana.
"Tidak sayang, Mama yang salah, seharusnya mama tidak ceroboh dulu. Kalau bukan karena kecerobohan Mama kamu tidak akan diculik dan papamu tidak akan meninggal" ucap Korina dengan air mata yang terus menetes mengingat masa lalunya.
"Yang lalu biarkan lah berlalu ma. Apapun yang terjadi di masa lalu. Mari kita lupakan saja. Kirana yakin, Papa pasti akan sedih diatas sana jika mama menyalahkan diri seperti ini" ucap Kirana sambil menghapus air mata Korina.
Korina hanya membalas dengan anggukan kemudian memeluk Kirana dengan erat kembali. Melampiaskan semua kerinduannya selama ini. Bahkan kerinduan yang sudah ia simpan hampir belasan dan puluhan tahun.
Syam dan Sofi memilih diam dan hanya bisa mengusap matanya yang berair karena terharu dengan adegan di depannya.
***
"Justine? ngapain kamu disini?" Tanya Gladis kemudian mengusap air matanya dengan cepat. Dia tidak ingin terlihat lemah pada musuh bebuyutannya sejak SMA itu.
"Aku kebetulan lewat saja. Dan melihat si bebek beranak sedang menangis. Jadi aku kesini setidaknya hanya untuk menyapa. Siapa tahu kamu butuh teman curhat" ucap Justine asal.
"Aku tidak butuh curhat pada orang sepertimu. Pergilah" ucap Gladis kemudian kembali melihat air mancur tanpa ingin memperdulikan Justine lagi.
__ADS_1
Melihat sikap Gladis, Justine pun langsung duduk disampingnya. Yang membuat Gladis langsung menatap Justine tidak suka.
"Hey, pergilah. Apa kau tuli" ucap Gladis.
"Aku hanya ingin menemanimu. Aku sedang baik nih. Jarang-jarangkan aku baik padamu" ucap Justine.
Gladis yang sedang dalam mood buruk hanya bisa mendengus kesal. Dia sedang tidak ingin berdebat sekarang. Jadi dia membiarkan Justine melakukan apapun sesuai dengan keinginannya.
"Aku hanya perlu mengabaikannya" batin Gladis.
"Kenapa kau bersedih?" tanya Justine. Walaupun memang sebenarnya dia tahu apa yang terjadi. Dia sedang berusaha mencari topik pembicaraan.
"Apa kau tahu, aku ini sangat sibuk. Cepatlah jawab, apa kau bisu?" ucap Justine.
"Kalau kau sibuk, pulanglah. Jangan kesini. Kau mengganggu saja" ucap Gladis.
"Dia benar juga. Untuk apa aku disini" batin Justine.
#Flashback on
Setelah mengetahui kabar kematian Lora. Justine langsung berlari ke rumah Gladis. Melihat keadaan musuh bebuyutannya itu. Entahlah, dia begitu mengkhawatirkan Gladis saat itu.
__ADS_1
Sesampainya disana, Dia melihat Syam yang tengah berdiri bersama seseorang disampingnya. Tanpa pikir panjang dia langsung berbalik 90 derajat kemudian pulang.
"Untuk apa aku kesini?" batin Justine kemudian melajukan mobilnya meninggalkan rumah Gladis.
#Flashback Off
"Baiklah aku pulang. Berhati-hatilah disini" ucap Justine kemudian bangun dari duduknya. Entah mengapa dia merasa begitu berat untuk bangun dari duduknya. Tapi karena rasa gengsinya mengalahkan segalanya. Mau tidak mau dia harus menuruti keinginannya.
Namun baru saja berjalan satu langkah, dia langsung mengurungkan niatnya.
"Apa kau yakin tidak ingin aku temani?" Tanya Justine.
"TIDAK" ucap Gladis penuh penekanan.
"Baiklah. Aku pergi" ucap Justine kemudian berjalan menuju ke mobilnya.
Dia masuk ke mobilnya. Tanpa berniat menyalakannya. Dia malah menyenderkan kepalanya sambil mengamati Gladis yang sedang duduk sendiri dari kejauhan.
"Si bebek pemarah kepala batu" ucap Justine.
-Bersambung-
__ADS_1