
"Apa?" Teriak Syam sambil mengepalkan tangannya.
"Iya Tuan, Tuan Justine pemilik perusahaan Golden yang menculik nona" ucap Leon.
"Untuk apa mereka menculik istriku?" Tanya Syam.
"Saya belum mendapatkan informasinya tuan" ucap Leon.
"Ya sudah, siapkan mobil segera dan bawa beberapa pengawal. Kita akan menemuinya sekarang" ucap Syam yang sudah tidak sabaran ingin meninju pipi pemilik perusahaan Golden itu.
Disisi lain, Kirana terlihat tengah memandang kosong taman di depannya. Ucapan Korina sebelumnya masih terngiang-ngiang di kepalanya.n
"Kenapa aku merasa tidak asing dengannya. Tapi aku merasa tidak pernah melihatnya sebelum ini" kata Kirana. Kalimat itu terus terngiang-ngiang di kepalanya.
"Tok Tok" suara ketukan pintu memberhentikan Kirana dari lamunan panjangnya.
Dia melihat sekilas siapa yang masuk ke kamarnya. Kemudian menatap ke luar kembali.
Korina yang melihat sikap Kirana yang mengabaikannya hanya bisa mengelus dadanya. Dia pun mendekati Kirana kemudian duduk di sampingnya.
"Mama Korina keluar sebentar ya. Nanti kalau butuh apa-apa. Minta sama bibik di bawah" kata Korina. Namun tidak sedikitpun Kirana mengindahkannya. Dia malah tetap memandang lurus kedepan.
"Hmmm, ya sudah. Mama pergi dulu ya" kata Korina kemudian berlalu meninggalkan Kirana.
"Mamaku hanya mama Sofi. Untuk apa juga aku harus memanggilnya Mama. memang dia siapa. Cih, aku ingin pulang. Kak Syam kenapa tidak mencari ku" ucap Kirana sambil meghentakkan kakinya.
__ADS_1
"Aku ada ide" ucap Kirana sambil menatap ke arah gerbang utama.
***
"Tuan, Diluar ada Syam dari perusahaan Wijaya group" Ucap Sindy.
"Biarkan dia masuk" Kata Justine kemudian melepas pena di tangannya.
Beberapa detik kemudian Syam terlihat masuk bersama Leon di sampingnya.
Dia terdiam sebentar sambil menatap Justine yang sedang duduk di depannya.
"Silahkan duduk" ucap Justine. Kemudian berjalan menghampiri Syam dan duduk di sofa.
"Langsung saja, Kamu sembunyikan dimana istriku?" Tanya Syam dengan rahang yang terlihat mengeras.
"Aku tidak suka mengulang pertanyaanku dua kali. Leon cepat katakan pada si kunyuk ini" ucap Syam.
"Baik tuan" ucap Leon. Kemudian menyampaikan maksud kedatangannya pada Justine.
"Owh, kalian sedang mencari Kirana?" Ucap Leon dengan santai.
"Kamu kemanakan istriku?" Tanya Syam sambil memegang kerah Justine.
"Kau ingin aku memberitahumu kan? lepaskan tanganmu ini dulu" ucap Justine dengan santainya.
__ADS_1
"Cih, cepat beritahu dimana istriku" ucap Syam lagi setelah dia melepaskan kerah Justine.
"Aku tidak menyangka, bagaimana bisa adikku itu menikah dengan laki-laki tempramen seperti ini" batin Justine.
"Aku tidak bisa memberitahumu sekarang. Tapi yang terpenting, Kirana baik-baik saja" ucap Justine.
"Apa maksudmu?" ucap Syam yang sudah berniat ingin memukul Justine namun di hadang oleh Leon.
"Tuan, jika Anda membuat keributan disini maka citra perusahaan kita akan buruk" ucap Leon.
"Aku tidak peduli. Yang terpenting Kirana kembali" ucap Syam.
"Ternyata dia sangat mencintai Kirana. Boleh juga" ucap Justine sambil tersenyum.
"Cepat katakan dimana istriku. Jika tidak, aku akan porak porandakan kantormu ini. Bahkan membunuh seluruh anggota keluargamu" ucap Syam dengan wajah yang sudah memerah.
Dia terlihat begitu marah, karena memang saat itu dia berpikir Justine menyukai Kirana dan berniat mengambilnya darinya.
"Jika kau membunuhku dan keluargaku. Maka Kau sudah membunuh kakak dan ibu kandungnya" ucap Justine dengan senyum khasnya.
"Apa maksudmu?"ucap Syam.
Justine tersenyum kemudian menatap Syam dengan senyuman penuh arti.
"Ternyata, Syam Surya Wijaya tidak sehebat yang aku bayangkan" ucap Justine.
__ADS_1
-Bersambung-