
"Siapa yang merebut Justine" suara orang yang sangat dikenalnya tiba-tiba terdengar.
Gladis langsung menengok ke arah suara tersebut. Dia begitu terkejut saat melihat siapa yang sedang berdiri dibelakangnya.
"Kalian" ucap Gladis.
"Dis" ucap Justine lembut kemudian mendekati Gladis. Terlihat jelas ada kesedihan yang begitu mendalam disana.
Gladis memalingkan wajahnya. Dia begitu malu atas apa yang telah dia katakan tadi. Dia malu untuk menghadapi Justine yang saat ini sedang di depannya.
"Maafkan aku" kalimat itu berhasil lolos dari mulut Justine.
Gladis tidak berkutik, dia masih mencoba untuk menghindari Justine. Hingga tangan Justine terarah untuk memegang pipi Gladis. Mencoba menghapus air mata yang sudah membasahi wajahnya.
" Maafkan aku Dis" ucap Justine kemudian memeluk Gladis erat. Gladis yang mendapat perlakuan seperti ini, tidak tahan lagi. Dia kembali menangis untuk mengeluarkan semua bebannya selama ini.
" Kamu jahat Tin" ucap Gladis sambil terus memukul dada Justine. Justine mempererat pelukannya dan membiarkan Gladis melakukan apa yang dia mau, berharap wanita yang dicintainya ini lekas membaik.
"Keluarkan semua Dis. Maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuatmu sedih seperti ini" ucap Justine.
"Kamu jahat Tin. Hiks. Kamu jahat. Kamu sudah membuatku mencintaimu, tapi kau malah bersama wanita lain. Dan wanita itu sahabatku sendiri, hiks. Aku benci sama Kamu Tin" ucap Gladis sambil terus menangis dipelukan Justine. Justine hanya diam, menunggu Gladis selesai meluapkan semua emosinya untuk kemudian nanti menjelaskan semuanya.
Hingga Gladis pun akhirnya terdiam dalam pelukan Justine. Rupanya dia sudah kelelahan meluapkan semua emosinya.
"Aku mencintaimu Tin. Tapi kenapa kamu jahat sekali padaku" kata Gladis dengan suara yang melemah.
"Dis, dengarkan aku" ucap Justine kemudian melepas pelukannya dan menatap Gladis lembut.
"Aku sangat- sangat mencintaimu. Aku hanya mencintaimu. Tidak ada wanita lain di hatiku. Untuk kejadian tadi, itu rencana Rani. Dia ingin membantuku. Dia ingin menyadarkan bagaimana perasaanmu padaku. Jadi, tolong Dis. Mari kita sama-sama berjuang untuk cinta kita. Aku akan memperjuangkan mu di depan Mama. Jadi aku harap kamu juga mensuport aku Dis. I love U more than U know" Ucap Justine kemudian mencium kening Gladis.
Kening mereka menyatu. Justine kembali lagi mengatakan:
__ADS_1
"I love U Dis. Maukah kau memperjuangkan cinta kita?" ucap Justine sambil mengelus pipi Gladis. Gladis pun mengangguk pelan.
"Terima kasih Dis" ucap Justine kemudian memeluk Gladis erat.
"Aku juga mencintaimu Tin" ucap Gladis dengan senyum diwajahnya namun dengan mata yang begitu sembab.
'Badai pasti berlalu,
Tidak ada kisah cinta yang mulus,
Lika liku adalah salah satu bumbu pemanisnya,
Bersyukurlah untuk Kamu yang bisa merasakan cinta,
Jangan pernah takut untuk jatuh cinta,
Sebesar apapun halangan yang menghadang,
Jika cinta itu kuat, pasti akan selalu ada jalan untuk menyelesaikan masalah itu,
perjuangkan cinta selagi bisa,
jangan sampai kamu menyesal dikemudian hari ya'
"Hmmm" ucap Kirana karena merasa jadi nyamuk disana.
Justine dan Gladis pun sontak langsung melihat kearah Kirana dan Rani yang sedang berdiri tidak jauh dari mereka.
"Kau menganggu saja" ucap Justine kesal pada adeknya.
"Ish, kau seharusnya berterima kasih pada adikmu ini. Malah marah-marah. Menyesal aku mengajakmu mengikuti kak Gladis tadi" ucap Kirana.
__ADS_1
"Hmmm, iya deh ya. Terima kasih ya adikku sayang" ucap Justine. Yang membuat Kirana malah cemberut.
"Nggak ikhlas" ucap Kirana.
"Astaga. Ya sudah kau mau apa? katakan saja nanti aku belikan. Tapi sekarang kau pulanglah. Suamimu menunggu tuh" ucap Justine pada Kirana. Sontak Kirana langsung melihat kearah Syam yang saat ini tengah menatap kearah mereka dengan wajah masam.
"Astaga. Aku sampai lupa. Ya sudah, Aku balik dulu ya. Ingat nanti belikan aku es cream pisang dan kue pisang seperti biasa. Eh, sama bakso bakar juga. Aku pulang dulu, bye kak" ucap Kirana kemudian berlalu pergi. Namun langkah nya langsung terhenti ketika mengingat sesuatu.
"Kak Rani pulang sama Kirana yuk" ajak Kirana.
Namun Rani langsung menggeleng.
"Tidak Na. Kakak sudah dijemput seseorang" ucap Rani sambil tersenyum malu.
"Owh, ya sudah. Duluan ya kak. Bye kak Gladis. Kak Gladis jangan sedih-sedih lagi. Ingat cinta diperjuangkan ya kak. Jangan sampai kak Justine diambil wanita lain. Walaupun nggak mungkin ada yang suka sama dia sih" ucap Kirana kemudian setengah berlari meninggalkan mereka.
"Ehh dasar adik sialan" teriak Justine.
"Na hati-hati. Ingat kau sedang hamil" teriak Gladis yang membuat Kirana otomatis memperlambat jalannya.
"Siap Kak. Aman-aman" teriak Kirana kemudian masuk ke mobilnya.
Justine dan Gladis sontak menggeleng bersamaan melihat tingkah Kirana yang masih terbilang kekanakan. Sangat belum cocok untuk menjadi seorang ibu.
"Oya Ran. Kau dijemput siapa?" Tanya Gladis.
"Pacar" ucap Rani dengan senyum yang mengembang
"Huh? sejak kapan? siapa?" Tanya Gladis lagi.
Belum sempat Rani menjawab. Sebuah mobil tiba-tiba muncul dan seorang laki-laki keluar dari sana dengan kaca mata hitamnya.
__ADS_1
"Dia kan?" ucap Gladis.
-Bersambung-