
Setelah bergelut hampir 5 jam, Syam dan Kirana saat ini tengah duduk berdua sambil menikmati senja dari balkon rumah sakit. Kirana duduk dipangkuan Syam, dengan tangan kanan Syam yang memegang kepala Kirana dan tangan kiri yang memegang perut Kirana.
"Oya, kamu ingin mengatakan apa padaku tadi?" Tanya Kirana namun dengan posisi yang sama.
"Hmmm, tapi kau janji tidak akan membenciku?" ucap Syam.
"Tergantung" ucap Kirana kemudian membalikkan tubuhnya sehingga mereka sekarang pada posisi saling berhadapan.
"Tergantung?" Tanya Syam sambil menaikkan alisnya.
"Ho'o" ucap Kirana sambil mengangguk mantap.
"Ya sudah tidak jadi" ucap Syam kemudian membalikkan tubuh Kirana sehingga menghadap matahari yang mulai terbenam sambil memeluknya erat dari belakang.
"Haha, Iya-iya, aku berjanji tidak akan membencimu, lagipula aku tidak akan mungkin membenci orang yang aku sayang" ucap Kirana sambil menggenggam tangan dan mendongang memandang Syam dengan tersenyum.
Syam pun mengangguk, kemudian menarik nafasnya pelan. Berharap pikirannya tenang dan mempunyai cukup kekuatan untuk mulai bercerita.
__ADS_1
"Hmmm, Tante Lora meninggal.." ucap Syam namun langsung terhenti karena Kirana langsung memotongnya.
"Astaga? Kapan? kenapa kau tidak memberitahuku?" tanya Kirana.
"Sebentar dulu sayang. Dengarkan aku bercerita ya" ucap Syam. Kirana langsung menutup mulutnya dan mengangguk.
"Tante Lora meninggal beberapa hari yang lalu. Saat aku mulai tidak menghilang. Tapi itu tidak penting. Hmm, setelah Tante Lora meninggal. Aku langsung mencari tahu penyebabnya. Dan aku menemukan kenyataan diluar dugaanku" ucap Syam.
"Diluar dugaan seperti apa kak?" tanya Kirana. Syam hanya diam kemudian memeluk Kirana semakin erat.
"Hmmm, Tante Lora penyebab kecelakaan yang membuat kita amnesia diwaktu kecil dulu. Dia juga yang membuatmu terpisah dengan mama Korina. Dia juga penyebab alam. papa Albert meninggal" ucap Syam sambil memejamkan matanya. Kirana terdiam sesaat, berusaha mencerna semuanya dengan benar. Bagaimana bisa, dia benar-benar tidak bisa mempercayai itu semua.
"Papa Albert nama papa kandungmu" ucap Syam.
"Kak Syam sedang bercanda kan?" Tanya Kirana sambil memandang wajah Syam mencoba mencari kebohongan disana. Namun memang Syam terlihat benar-benar serius dengan ucapannya.
"Boleh Kirana tahu alasan dia melakukan itu semua pada keluargaku?" Tanya Kirana dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
__ADS_1
"Hmm, Dia pernah mempunyai hubungan dengan papa Albert. Tapi, papa Albert lebih memilih dijodohkan dengan Mama Korina. Dia pun memiliki dendam pribadi yang sangat besar pada papa mu dan mamamu. Dia beberapa kali mencoba melakukan pembunuhan pada mama korina. Namun selalu berhasil digagalkan. Begitupun pada Justine. Karena papa Albert berusaha untuk memperketat penjagaan.." cerita Syam terhenti karena dia sungguh tidak sanggup melihat air mata Kirana yang mulai menetes di pipinya.
"Lanjutkan kak, hiks" ucap Kirana.
"Namun takdir berkata lain. Keamanan keluarga Albert jebol. Kamu berhasil diculik. Dan papa Albert yang langsung mencoba mengejar penculik tersebut mengalami kecelakaan dan meninggal di tempat. Setelah kematian papa Albert dan hilangnya kamu. Mama Korina sangat terpukul. Dan sakit-sakitan bertahun-tahun. Bahkan sempat mengalami gangguan jiwa. Tapi syukurnya sekarang sudah sembuh. Dan kamu tahu, satu-satunya penyebab semua kejadian buruk di hidupmu adalah tanteku, untuk itulah aku benar-benar tidak bisa menemuinya. Karena merasa malu" ucap Syam sambil menundukkan wajahnya.
Kirana hanya terdiam mencoba mengendalikan dirinya yang tengah berperang dengan pikirannya sendiri.
"Bagaimana bisa?" hanya itu yang bisa keluar dari mulut Kirana saat ini. Hingga tubuhnya lunglai dan hampir jatuh. Namun beruntung Syam langsung menariknya kedalam pelukannya.
"Maafkan aku" ucap Syam sambil memeluk Kirana erat.
"Hikss hikss, kenapa dia jahat sekali. Aku bahkan tidak pernah melihat papaku. Kenapa dia tega membunuh nya hiks" ucap Kirana dengan air mata yang sudah banjir membasahi pipinya. Hingga tiba-tiba, "Brukk" Kirana tidak sadarkan diri.
Syam yang melihat itu langsung panik. Dia langsung mengangkat Kirana ke ranjang rumah sakit. Dan menekan tombol disamping ranjang beberapa kali.
Beberapa menit kemudian, Dokter datang lengkap dengan para perawat di sampingnya.
__ADS_1
-Bersambung-