Terjerat Pesona Tuan Muda Posesif 2

Terjerat Pesona Tuan Muda Posesif 2
18


__ADS_3

"Aku sangat takut dan malu untuk bertemu denganmu, semua yang terjadi padamu karena kesalahanku. Lalu bagaimana aku harus menghadapimu nanti. Menatap wajahmu saja aku tidak mampu" ucap Syam.


Dia benar-benar merasa bersalah dan sungguh dilema. Dia bingung harus melakukan apa. Disisi lain dia sangat ingin menemui dan memeluk istrinya. Meminta maaf dan menceritakan semuanya. Namun disisi lain, ada perasaan malu dan bersalah. Sehingga dia tidak bisa menemui istrinya.


"Hah" hanya kata itu yang bisa keluar dari bibirnya. Hanya kata itu yang bisa meluapkan semuanya.


Disisi lain, Kirana sedang duduk sambil memandangi jendela rumah sakit. Entah kemana pikirannya saat ini. Raganya di rumah sakit namun jiwanya seperti entah terbang kemana.


Dia dari tadi terus memikirkan suaminya. Ada perasaan yang menjanggal di hatinya. Dia merasakan gelisah yang tidak bisa dia artikan. Yups, sepertinya hatinya sudah terkoneksi dengan Syam suaminya.


"Makanlah dulu sayang" ucap Sofi. Kirana dengan cepat langsung menggeleng.


"Kirana mau makan jika kak Syam yang menyuapi Kirana" ucap Kirana. Sofi bingung harus menjawab apa. Dia tidak mungkin mengatakan yang sesungguhnya. Dia takut kondisi Kirana akan semakin drop nantinya.


"Suamimu sedang mengurus pekerjaan di kantornya Na. Biar mama saja yang suiapin ya. Kamu belum makan dari tadi pagi. Mama takut kamu sakit" ucap Sofi sambil mengelus rambut anaknya.


Kirana hanya menggeleng, kemudian membaringkan tubuhnya lagi di kasur rumah sakit dengan posisi membelakangi mamanya.

__ADS_1


Sofi pun hanya bisa menarik nafasnya berat, sambil berharap Syam datang secepat mungkin.


"Drttt Drttt" sebuah panggilan masuk ke Hp Sofi. Dia pun langsung mengangkatnya.


"Bagaimana keadaan Kirana? apakah Syam sudah datang kesana. Maaf aku tidak bisa kesana sekarang karena masih mengurus kematian Lora" ucap Surya dari seberang telpon.


"Iya tidak apa. Kirana sampai sekarang belum mau makan karena menunggu Syam. Aku sangat takut kondisi kesehatannya memburuk" ucap Sofi.


"Apa, aku pikir dia sudah disana. Sepertinya aku harus turun tangan. Kau tenanglah, aku pastikan dia akan disana 1 jam lagi" ucap Surya kemudian memutuskan panggilan telpon.


Dia sangat tahu bahwa Kirana sedang menangis saat ini. Tapi dia tidak bisa berbuat banyak. Dia sangat tahu juga sikap keras kepala Kirana. Hingga dia hanya bisa menghembuskan nafasnya berat.


Berbeda dengan Kirana yang saat ini tengah merutuki perutnya sendiri. Karena dia merasakan lapar yang sangat luar biasa. Tapi di sisi lain dia juga sedang merutuki suaminya


"Aku tidak akan makan. Aku tidak akan makan. Biarkan saja aku mati. Tapi kalau aku mati, nanti kak Syam nikah lagi. Aku benar-benar tidak ikhlas. Tapi aku sudah bilang tidak akan makan. Ya sudah, kalau aku mati, aku akan meneror kak Syam" batin Kirana


Menit dan jam terus berjalan. Hingga tepat 1 jam kemudian Syam datang dengan wajah yang sangat lusuh.

__ADS_1


"Syam" ucap Sofi dengan wajah yang sangat bahagia. Mendengar nama suaminya dipanggil, Kirana langsung bangkit dari tidurnya.


Dia menatap suaminya dari atas sampai bawah. Begitu pun Syam yang saat ini juga sedang mengamati wajah pucat istrinya. Tanpa pikir panjang dia langsung berlari dan memeluk istrinya erat.


Kirana diam saja dan malah membalas pelukan suaminya. Dia bahkan melupakan rasa kesalnya. Sebaliknya dia malah menangis dipelukan suaminya.


"Hikss"


"Maafkan aku" ucap Syam sambil terus memeluk Kirana erat. Melepas semua rindu dan rasa bersalah yang bercampur jadi satu.


"Maafkan aku" sekali lagi hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut. Tanpa dia sadari pun, air matanya sudah mengalir membasahi pipinya.


"Maafkan aku sayang" ucap Syam sekali lagi.


-Bersambung-


Terima kasih ya buat pembaca setiaku. Kalau ada saran dan kritik bisa langsung di tulis di kolom chat ya. Author sangat terbuka dan fleksibel orangnya. Happy reading ya

__ADS_1


__ADS_2