
Korina terlihat mengusap air matanya beberapa kali sambil memandang ke arah luar jendela.
"Mama" panggil Kirana kemudian memeluk Korina dari belakang.
"Hmm"ucap Korina.
"Kenapa Mama tidak merestui kak Justine" tanya Kirana sambil terus memeluk mamanya yang dia yakini sedang menahan air matanya untuk tidak keluar lagi.
Korina perlahan berbalik, kemudian menatap anak perempuannya itu.
"Ada suatu hal antara keluarga kita dan keluarga Gladis, dan hal tersebut tidak bisa mama ceritakan padamu" ucap Korina sambil mencubit pipi Kirana yang saat ini di dadanya.
Kirana pun melepaskan pelukannya, kemudian mengajak mamanya untuk duduk di Sofa ruangan itu.
"Apa karena perlakuan Tante Lora pada keluarga kita Ma?" Tanya Kirana yang membuat Korina sedikit syok.
"Kau sudah tahu sayang?" Tanya Korina dengan wajah terkejut. Kirana mengangguk kemudia tersenyum.
"Iya Ma, Kirana tahu. Awalnya Kirana marah dan kesal seperti Mama. Tapi Kirana sadar bahwa itu tidak ada gunanya Ma. Lagipula, Kirana yakin Tante Lora pasti sudah mendapatkan balasannya. Dan Kak Gladis sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan kematian Papa dan kecelakaan yang aku alami Ma. Akan sangat tidak adil jika kita melimpahkan semua kesalahan Tante Lora pada kak Gladis" ucap Kirana.
"Hmmm, Mama bisa menerima Gladis sebagai sepupu suamimu Na. Tapi Mama belum bisa menerima dia sebagai menantu mama" ucap Korina.
__ADS_1
"Hmm, baiklah. Kirana tidak bisa memaksakan kehendak Mama. Tapi Kirana harap mama memikirkan perasaan kak Justine" ucap Kirana. Namun Kirana hanya diam saja tanpa berniat membalas ucapan Kirana.
"Ya sudah. Kirana kedepan dulu ya Ma. Nggak enak sama kak Gladis" ucap Kirana kemudian meninggalkan Korina sendiri yang sedang sibuk dengan pemikirannya sendiri.
Diruang tamu terlihat Justine sedang tertunduk sendiri sambil memegang kepalanya.
"Kak Gladis Mana Kak?" Tanya Kirana. Justine langsung menatap Kirana. Terlihat jelas matanya merah seperti sedang menahan air matanya.
"Kak Justine" ucap Kirana kemudian memeluk Justine.
"Kenapa kak?" tanya Kirana.
"Bagaimana bisa kak?" Tanya Kirana yang terlihat begitu sangat khawatir.
"Tadi dia mendengar pembicaraanmu dengan Mama" ucap Justine.
"Huh, Lalu bagaimana sekarang kak?" tanya Kirana.
"Kakak juga tidak tahu. Tadi awalnya kakak pikir masih ada harapan untuk membujuk mama. Tapi kesalahan Kakak tadi malah mengajak Gladis dan dia mendengar semuanya. Sekarang tembok penghalangnya bertambah Na" ucap Justine.
"Kakak sayang banget sama kak Gladis?" tanya Kirana.
__ADS_1
"Iya Na. Dia cinta pertama kakak. Dan Kakak harap menjadi cinta terakhir kakak. Kakak nggak mau kehilangan dia" ucap Justine. Terlihat jelas ketulusan dimatanya.
"Kalau begitu kejar kak. Perjuangkan. Kirana yakin, sebesar apapun tembok penghalang itu. Pasti akan runtuh dengan ketulusan dan kerja keras" ucap Kirana.
"Kamu Kirana adikku kan?" ucap Justine karena tidak percaya kata-kata bijak tersebut keluar dari mulut adiknya yang terkenal manja itu.
"Iya iya lah. Kakak pikir siapa?" ucap Kirana dengan wajah cemberut.
"Haha, rupanya adikku sudah dewasa nih" ucap Justine sambil mengacak rambut Kirana gemas.
"Hmmm, aku kan sudah mau punya anak. Ya dewasalah. Ya udah sana, kejar kak Gladis. Sebelum dia diambil sama orang" ucap Kirana.
"Mama bagaimana?" ucap Justine.
"Tenang, nanti Kirana sama kak Syam akan bantu kak Justine untuk mendapat restu dari mama. Sana dah. Kirana mau makan kue pisang ini dulu. dedek bayi udah lapar banget ini" ucap Kirana sambil mengelus perutnya.
"Dasar bumil rakus. Ya udah, kakak pergi dulu ya. Bye" ucap Justine kemudian mencomot paksa kue pisang yang ada di tangan Kirana. Sehingga membuat pemilik langsung protes dan meneriakinya.
"Satu saja. Jangan pelit. Nanti juga Syam pasti membawakan mu lagi" ucap Justine kemudian menghilang dari balik pintu.
-Bersambung-
__ADS_1