
"Brukk" satu tinju berhasil mendarat di pipi Syam.
"Cukup!!!" teriak Kirana sambil menatap Rian dan Syam dengan kesal.
"Rian, Alya lebih baik kalian keluar dari ruangan ini" ucap Kirana.
"Bagaimana bisa kau menyuruh-nyuruhku. Ini kantor kakak ku" ucap Alya tidak mau terima.
"Kakakmu ini adalah suamiku. Keluar atau aku panggil petugas keamanan" ucap Kirana. Syam hanya terpaku melihat Kirana. Dia tidak pernah melihat sisi Kirana yang ini.
"Kak Syam" rengek Alya tidak mau terima. Namun Syam hanya diam saja dan mengacuhkannya.
"Pulanglah dan jaga suami brengsek mu ini. Kalau aku tidak memikirkan mu, mungkin aku sudah membunuhnya" ucap Syam sambil mengelap bekas pukulan Rian tadi.
"Baiklah, aku akan pulang, tapi mulai besok aku bisa bekerja disini kan kak" ucap Alya.
Rian menatap Kirana. Kirana pun langsung membuang mukanya. Dia tidak membenci Rian sama sekali. Dia sudah memaafkannya, tapi tingkahnya yang menurutnya sangat aneh. Membuat Kirana memutuskan untuk menjauhinya.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Kirana sambil memegang sudut bibir Syam yang terlihat berdarah.
"Sakit" rengek Syam layaknya anak kecil.
__ADS_1
"Hmmm, lagian ngapain juga kamu berkelahi dengan Rian, Kau sudah dewasa dan bahkan mau punya anak" ucap Kirana sambil mengoleskan obat luka pada sudut bibir Syam.
"Liat sekarang, akibatnya. Wajah tampanmu ini menjadi seperti ini" Tambah Kirana lagi. Bukannya sedih karena dimarah oleh istrinya, Syam malah tersenyum dan mencubit pipi Kirana yang mulai berisi.
"Hey, aku sedang marah" ucap Kirana sambil cemberut.
"Wajahmu sangat manis saat marah seperti ini" ucap Syam kemudian mencium bibir Kirana yang cemberut.
"Hmm, terserah" ucap Kirana kemudian mendorong Syam dan membelakanginya.
"Adududu, istriku sedang marah?" ucap Syam sambil memeluk Kirana dari belakang.
"Hmmm, nanti kamu mau aku belikan roti pisang tidak?" Tanya Syam sambil bergelayut menja di bahu Kirana. Mencium pipi istrinya kemudian keleher dengan mesra.
"Geli mas" ucap Kirana sambil berusaha menjauhi suaminya. Namun bukannya malah lepas, Syam malah mempererat pelukannya. Tangannya malah bergerak menuju daerah sensitif Kirana.
"Aku harus memberimu hukuman karena berani melihat laki-laki lain di depanku" ucap Syam kemudian melanjutkan aksinya.
"Hmmm, mmmm, mas, Mmmm, ini, di kantor" ucap Kirana.
"Tenang saja, ruangan ini kedap suara dan aku sudah mengunci semua ruangan. Tapi kita melakukannya di kamar saja" ucap Syam kemudian membopong Kirana menuju kamar di samping ruangannya. Kirana hanya bisa pasrah dengan perlakuan suaminya. Karena memang dia juga sudah tidak menahannya akibat dari permainan suaminya tadi.
__ADS_1
***
"Dis" panggil Justine yang saat ini sudah di parkiran rumah sakit.
"Kenapa lagi Tin?" Tanya Gladis dengan raut wajah frustasi. Dia berusaha keras menjauhi Justine beberapa hari ini. Bukannya jauh, Justine terus saja muncul di depannya.
"Please, kasi aku kesempatan. Aku ingin memperjuangkan mu di depan Mama" ucap Justine
"Mau seperti apa lagi Tin. Kita tidak mungkin bersama. Please tinggalkan aku. Aku capek Tin" ucap Gladis.
"Please Dis" ucap Justine memohon.
"Maaf Tin" ucap Gladis kemudian pergi meninggalkan Justine.
"Baiklah Dis, kalau itu mau mu. Aku harap kau tidak akan pernah menyesal akan pilihanmu" Teriak Justine. Gladis terdiam sebentar, ada rasa ragu dalam dirinya. Namun dia tidak bisa juga untuk berbalik. Hingga pada akhirnya dia memutuskan untuk melangkah maju dan meninggalkan Justine dengan air mata.
Begitupun dengan Justine. Dia terlihat begitu frustasi. Dia menendang apapun di sampingnya untuk meluapkan emosinya.
"Haaahhh" teriaknya memenuhi tempat parkir yang cukup sepi itu.
-Bersambung-
__ADS_1