
Saat ini usia kandungan Kirana mencapai 2 bulan. Pengaruh kehamilan membuatnya menjadi sangat manja dan cengeng. Bahkan dia tidak bisa berjauhan dari suaminya sedetikpun.
"Sayang, aku harus ke kantor. Ada masalah penting yang harus aku selesaikan" ucap Syam.
"Aku boleh ikut mas?" Tanya Kirana sambil menggenggam tangan suaminya erat.
"Tidak sayang. Aku tidak ingin sesuatu buruk terjadi padamu karena diluar sana ada banyak rival bisnisku yang masih berkeliaran" ucap Syam.
"Hmmm, ya sudah" ucap Kirana kemudian memperlihatkan raut wajah cemberutnya.
"Sayang, aku hanya pergi sebentar. Aku pasti pulang cepat kok" ucap Syam mencoba membujuk Kirana.
"Hmm" Jawab Kirana malas.
"Nanti aku belikan makanan yang banyak, kau tinggal pilih saja, bagaimana?" ucap Syam.
"Benarkah?" Tanya Kirana dengan wajah berbinar.
"Iya sayang" ucap Syam sambil mencubit pipi istrinya yang sudah mulai berisi itu.
"Baiklah. Kau boleh pergi. Lagi pula mama Korina juga hari ini akan kesini" ucap Kirana.
"Mama sudah pulang?" tanya Syam. Mungkin karena terlalu sibuk mengurus ngidam istrinya. Dia sampai tidak tahu informasi ini.
"Iya. Ya sudah. Sana berangkat kerja mas. Hati-hati" ucap Kirana kemudian mencium tangan suaminya.
__ADS_1
"Kau mengusirku?" ucap Syam kesal.
"Astaga. Bukannya begitu sayang. Tadi kau bilang mau kerja, sekarang saat aku sudah mengizinkan. Kamu tidak berangkat-berangkat" ucap Kirana sambil mencubit pipinya gemas.
"Hmm, ya sudah. Aku berangkat dulu ya. Jaga dirimu baik-baik. Jangan terlalu banyak beraktivitas" ucap Syam
"Jangan kelelahan. Jangan kemana-mana tanpa sepengetahuanku. Jangan menerima tamu yang tidak dikenal. Begitu kan mas" ucap Kirana melanjutkan ucapan suaminya dengan wajah kesal. Karena setiap hari dia selau mendengar kalimat tersebut sejak dia hamil. Dia bahkan takut jika anaknya nanti malah menghafal kalimat tersebut.
"Hehe. Pintar juga istriku. Aku pergi dulu" ucap Syam kemudian mencium kening Kirana.
"Hati-hati mas" ucap Kirana sambil melambaikan tangannya.
"Hmm" Kirana sebenarnya tidak sanggup untuk melepaskan Syam pergi bekerja. Entah mengapa, dia tidak bisa berjauhan dari suaminya. Mungkin bawaan kehamilannya.
"Papa sudah berangkat sayang. Tinggal kita berdua disini. Bibi dan yang lainnya pasti sedang sibuk mengerjakan pekerjaan nya. Kita nonton tv saja yuk. Sambil menunggu mama Korina datang" ucap Kirana sambil mengelus perutnya
Berbeda halnya dengan Gladis yang saat ini tengah termenung sendiri di depan meja kerjanya. Sudah lebih dari satu bulan, Justine tidak pernah menghubunginya lagi. Dia ingin sekali menghubunginya terlebih dahulu. Namun rasa gengsinya mengalahkan segalanya.
Hingga membuatnya sekarang terjebak pada perasaan rindu yang susah untuk ditahan. Benar kata pepatah, semakin kau pendam, maka perasaan itu akan tumbuh semakin besar.
"Huhhh, aku kenapa tidak bisa berhenti memikirkannya. Kau boleh diizinikan. Aku ingin meng-install ulang memori di kepalaku. Lalu menghapus semua hal tentang dia" ucap Gladis sambil menarik rambut nya frustasi.
"Hubungi saja dia terlebih dahulu" ucap Dr. Rani, sahabat baik Gladis sejak SMA.
"Bagaimana bisa kau disitu?" Tanya Gladis karena dia memang merasa tidak ada yang membuka pintu ruangannya sejak tadi.
__ADS_1
"Hahaha, Segitu frustasinya kah kamu Dis. Aku masuk pun ku tidak menyadarinya. Aku sudah disini 5 menit yang lalu asal kau tahu" ucap Dr.Rani.
"Hmmm, Aku juga tidak tahu Ran. Kenapa orang itu sangat mendominasi dipikiranku" ucap Gladis.
"Itu karena kau kangen sama dia Dis. Atau mungkin kau sudah mencintainya. Hubungi saja duluan. Tanya bagaimana kabarnya" ucap Dr. Rani.
"Aku perempuan Ran" ucap Gladis yang membuat Dr. Rani hanya menggeleng. Dia sudah tidak tahu lagi cara mengatasi sikap keras kepala Gladis.
"Terserah kau saja. Yang penting aku sudah menyarankan yang terbaik untukmu. Aku pergi kerja dulu. Makan tu gengsi Dis" ucap Dr. Rani kemudian berlalu pergi meninggalkan Gladis.
"Huffhhh" Gladis mencoba memikirkan perkataan Rani tadi. Hatinya sangat ingin menghubungi Justine. Namun, Entah mengapa tangannya terasa sangat kaku bahkan hanya untuk mencari kontaknya.
Disisi lainpun, Justine juga sedang mengutak Atik Hp nya beberapa kali. Dia terlihat gusar sambil memandangi Hpnya.
"Kau telpon saja dia. Jangan menyiksa dirimu seperti ini. Kau itu lelaki" Ucap Rudy sahabat baiknya.
"Aku sudah berjanji untuk tidak menghubunginya sebelum dia menghubungiku terlebih dahulu. Aku hanya ingin tahu perasaannya, agar aku bisa memperjuangkannya" ucap Justine.
"Terserah kau saja. Kalau aku jdi kamu, aku tidak akan mau menyiksa perasaanku seperti itu" ucap Rudy.
"Hmm, sudahlah. Jangan bahas itu. Oya hari ini aku akan menemani Mama pergi ke rumah adikku. Apa kau sudah mengatur jadwal meeting clien nanti siang?" Tanya Justine mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Ku tenang saja. Semuanya sudah beres. Kau selesaikan saja dulu urusan cintamu itu. Kau sudah besar, masih saja seperti ini" ucap Rudy kemudian berlalu pergi meninggalkan ruangan Justine.
Justine hanya bisa mendengus menahan kekesalannya. Iya kesal, tapi bukan kesal pada Rudy, tapi kesal pada dirinya sendiri karena tidak mampu mengambil keputusan yang tepat dalam hidupnya karena takut akan penolakan dari wanita pertamanya.
__ADS_1
"Kenapa jatuh cinta harus seribet ini" ucap Justine sambil meremas rambutnya frustasi.
-Bersambung-