
"Kak Syam" hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut Kirana saat melihat Syam yang tengah duduk di sampingnya sambil memegang tangannya.
"Sayang, kau sudah bangun?" Tanya Syam.
"Pertanyaan apa yang tuan tanyakan. Jelas-jelas nona bangun" ucap Leon dalam hati.
Kirana hanya mengangguk kemudian menggenggam tangan Syam erat.
"Syukurlah. Bagaimana keadaan perutmu?" Tanya Syam.
"Perutku baik-baik saja Kak" ucap Kirana karena sudah tidak merasakan mual lagi.
"Syukurlah kau dan anak kita baik-baik saja. Terima kasih ya sayang. Aku sangat bahagia" ucap Syam sambil mencium perut Kirana.
"Anak? maksud kak Syam apa?" Tanya Kirana dengan polosnya.
"Kau sedang mengandung sayang. Disini ada anak kita berdua?" ucap Syam yang membuat Kirana langsung terdiam seketika. Ternyata itu semua bukan mimpi. Dia benar-benar sedang hamil.
"Sayang, apa kau tidak suka dengan kehamilanmu ini?" Tanya Syam karena melihat wajah Kirana Yang langsung berubah.
Dengan cepat Kirana langsung menggeleng.
"Kirana suka. Tapi Kirana juga takut. Karena dulu teman-teman Kirana bilang melahirkan itu sangat sakit" ucap Kirana dengan polosnya yang membuat seisi ruangan itu menahan tawanya.
__ADS_1
"Astaga sayang. Kau belum merasakannya. Melahirkan itu tidak sakit kok" ucap Sofi yang mencoba menguatkan Kirana.
"Serius Ma?" Tanya Kirana.
"Iya sayang" ucap Sofi yang membuat Kirana langsung tersenyum bahagia.
"Syukurlah. Kalau gitu Kirana mau punya anak banyak-banyak Ma" ucap Kirana antusias yang membuat semua orang langsung mengulum senyumnya menahan tawa.
"Kalau kau mau banyak. Berarti kita harus melakukannya lebih sering lagi" ucap Syam dengan senyum menggoda.
"Apa sih kak. Malu tahu" ucap Kirana sambil menutup wajahnya.
"Haha, Iya-iya. Terima kasih ya sayang" ucap Syam kemudian memeluk Kirana erat.
Sejak kepergian Justine. Entah mengapa hari-hari Gladis terasa berbeda. Dia merasa ada yang kurang di hidupnya. Bahkan tidak jarang dia berhalusinasi seperti melihat Justine yang tiba-tiba datang ke ruangannya.
"Kenapa aku selalu mengingat dia. Ini salah. Bagaimana bisa si kunyuk itu tidak bisa pergi dari pikiranku" ucap Gladis.
"Drrtttt Drrttt" Tiba-tiba hp nya berbunyi. Sebuah VC masuk di notifikasi hpnya.
"Astaga" ucapnya saat melihat siapa yang menelpon. Dengan secepat kilat dia langsung memperbaiki rambut dan bajunya.
"Hai" Sapa orang tersebut yang tidak lain adalah laki-laki yang mengganggu pikirannya beberapa hari ini.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya Gladis.
"Judes sekali. Tentunya aku menelpon karena aku merindukanmu" ucap Justine.
"Owh" balas Gladis singkat. Walaupun di dalam hatinya sedang tersenyum bahagia.
"Ya sudah, sepertinya kau tidak merindukanku jga. Aku matikan saja" ucap Justine dengan raut wajah dibuat sedih.
"Hey tunggu" ucap Gladis spontan yang membuat Justine langsung mengulum senyumnya.
"Apa lagi?" Tanya Justine mencoba menggoda Gladis.
"Hmmm, bagaimana keadaanmu disana?" Tanya Gladis.
"Aku baik. Kau bagaimana?" Tanya Justine.
Setelah itu mereka berbincang-bincang, menanyakan kabar masing-masing dan kegiatannya hari ini. Cukup lama mereka mengobrol hingga panggilan terputus karena Justine harus menghadiri rapat penting.
"Hmmm" ucap Gladis saat panggilan sudah ditutup. Entah mengapa diaa begitu nyaman berbincang dengan Justine. Walaupun sesekali Justine menggodanya hingga terjadi adu mulut. Namun, itu lah yang dia rindukan. Hingga sebuah senyum terus menghiasi bibirnya saat ini.
"Aduhh, Kenapa aku jadi seperti ini" ucap Gladis sambil memegang pipinya.
"Oya, aku harus menjenguk Kirana" ucap Gladis kemudian bangkit dari duduknya dan meninggalkan ruangannya.
__ADS_1
-Bersambung-