Terjerat Pesona Tuan Muda Posesif 2

Terjerat Pesona Tuan Muda Posesif 2
Part 13


__ADS_3

"Apa kalian bilang?" Tanya Lora tidak percaya. Terpancar jelas raut kemarahan di wajahnya.


"Maafkan Kami nyonya" ucap Deni, kaki tangan andalannya.


"Plak" satu tamparan keras mengenai wajah Deni.


"Plak" tamparan kedua kembali mendarat dipipinya.


Namun dia hanya diam, dia tidak berani berkutik sama sekali. Walaupun di hatinya ingin sekali dia memberontak. Tapi dia masih sayang pada istri dan anak-anaknya.


"Kau tahu kan apa akibatnya jika Kau gagal dalam misi ini?" Ucap Lora.


"Ini diluar kendali Kami nyonya" ucap Deni lagi.


"Plak" satu tamparan keras mendarat dipipinya lagi.


"Diam. Gara-gara kebodohan dan kerja kalian yang tidak becus ini. Semua rencana yang sudah aku susun matang-matang, musnahlah sudah. Sekarang kalian pergilah. Perjanjian kita gagal" ucap Lora.


"Apa maksud nyonya? bukannya nyonya sudah berjanji untuk membayar pengobatan istri saya?" Tanya Deni.


"Karena kamu gagal, perjanjiannya saya batalkan" ucap Lora dengan entengnya.


"Tapi saya sudah melakukan perintah Anda" ucap Deni dengan rangang yang mulai mengeras. Dia tampak begitu marah, bahkan tangannya saat ini sudah mengepal sempurna.


"Kau berani padaku?" Tanya Lora saat melihat gelagal Deni.


"Aku tidak takut padamu" ucap Deni kemudian mengeluarkan pistol ditangannya. dan


"Dooor" dengan sekali tarikan, sebuah peluru menancap tepat mengenai dada Lora, hingga membuatnya tumbang seketika. Deni yang melihat Lora terkapar, lari begitu saja bersama dengan kedua temannya.


"Bagaimana ini Den, kalau dia mati bagaimana?" Tanya salah satu dari mereka ketika sudah berhasil menjauh dan keluar dari rumah Lora.

__ADS_1


"Aku tidak peduli, yang penting dendamku sudah terbayarkan. Kalian kaburlah, biar aku menyerahkan diriku di kantor polisi" ucap Deni.


"Kau gila, istri dan anakmu bagaimana?" Tanya salah satu dari teman Deni.


"Aku serahkan pada kalian, jaga mereka. Lebih baik aku sendiri saja yang masuk penjara. Kalau kita bertiga, tidak akan ada yang menjaga anak dan istriku" ucap Deni kemudian membanting setir, berbelok ke arah kantor polisi.


"Den, kau serius dengan ucapanmu, aku yakin anak dan istrimu akan sedih karena keputusanmu ini" ucap salah satu dari teman Deni.


"Hmm, Aku lebih tidak tega jika bertemu dengan mereka tanpa harapan apapun. Si nenek sihir yang sudah menjanjikan pengobatan istriku, ternyata hanya memanfaatkanku. Aku tidak sanggup untuk mengatakan pada mereka kenyataannya" ucap Deni.


"Baiklah, kalau begitu biar aku yang menjaga anak dan istrimu. Aku akan membantu pengobatan istrimu" ucap sahabat Deni yang dari tadi hanya diam.


"Kau serius?" ucap Deni dengan mata berkaca-kaca.


Sahabat Deni hanya bisa menghela nafas berat kemudian mengangguk.


"Terima kasih banyak Di. Terima kasih banyak" ucap Deni.


"Tentu, selamat tinggal" ucap Deni kemudian berlalu pergi meninggalkan teman dan sahabat terbaiknya itu.


***


Disisi lain, Kirana masih terlelap karena pengaruh dari obat bius. Sedangkan disisinya saat ini ada Syam yang tengah menggenggam tangannya berharap Kirana segera bangun.


Di sofa sudah ada Korina dan Justine yang tengah memperhatikan Syam.


"Sepertinya dia begitu mencintai Kirana" batin Korina.


"Kriuks" suara perut Korina menarik perhatian Justine.


"Mama lapar? kita keluar cari makan dulu yuk" ucap Justine.

__ADS_1


"Tidak sayang, Mama tidak berselera makan" ucap Korina tanpa lupa menyisipkan senyuman kecil diwajahnya.


"Hmm, kalau mama sakit bagaimana? Aku tidak mau ya dua wanita terpenting dihidupku sakit" ucap Justine dengan wajah sedih.


"Tapi mama tidak bisa makan sebelum melihat Kirana sadar" ucap Korina. Justine menghembuskan nafasnya berat. Dia sangat tahu tabiat mama nya Yang keras kepala. Jadi akan sangat percuma untuk membujuknya. Tapi dia tidak ingin mama nya sakit.


"Ma, sekali saja dengarkan Justine. Justine tidak ingin mama sakit. Lagipula, jika mama seperti ini. Justine yakin Kirana pasti akan sedih nanti" ucap Justine.


Syam yang mendengarkan pembicaraan mereka langsung ikut menimpali.


" Justine benar. Nyonya makanlah. Biar Kirana, saya yang jaga. Nanti jika dia sadar. Syam pasti akan menghubungi Anda" ucap Syam yang membuat korina langsug berdiri.


"Baiklah-baiklah. Ayo kita makan" ucap Korina sambil berjalan cepat meninggalkan ruangan itu, meninggalkan Justine.


"Bagus bro" ucap Justine kemudian menyusul Korina.


"Mama Tunggu" ucap Justine saat melihat Korina terus berjalan cepat.


Dia merasa Mama nya aneh. Dia pun langsung berlari mengejarnya. Belum beberapa langkah dia berhasil mendahului Mamanya.


"Mama menangis?" Tanya Justine saat melihat mata Korina yang memerah.


"Tidak, mata mama kelilipan, ayo" ucap Korina. Justine hanya menggeleng, karena tahu tabiat mamanya.


Disisi Syam,


Dia terus menggenggam erat tangan Kirana. Menciuminya beberapa kali, berharap dia cepat bangun.


"Aku tidak akan memaafkan orang yang melakukan ini padamu, walaupun itu keluargaku sendiri. Maafkan ku sayang, aku tidak bisa menjagamu" ucap Syam kemudian mendaratkan kecupan di tangan Kirana lagi.


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2