Terjerat Pesona Tuan Muda Posesif 2

Terjerat Pesona Tuan Muda Posesif 2
Part 15


__ADS_3

"Istirahat ya" ucap Syam pada Kirana yang saat ini telah berbaring lagi di tempat tidur sehabis makan dan minum obat.


"Iya Kak" ucap Kirana. Syam hanya tersenyum, kemudian mendaratkan ciuman singkat di kening Kirana.


"I love you" ucap Syam saat Kirana sudah terlelap. Dia kemudian memilih duduk di sofa rumah sakit sambil memandang Kirana yang kini tengah terlelap.


"hmmm,


Aku tahu, ini cobaan untuk rumah tanggaku,


Tapi kenapa harus istriku yang menanggung semua ini,


Tidak bisakah engkau membaginya saja,


Aku tahu dia wanita kuat,


Tapi aku tidak sanggup melihatnya seperti ini,


Aku tidak sanggup melihatnya bersedih,


Aku tidak sanggup melihat air mata itu keluar dari mata cantiknya,


Aku hanya punya satu wanita di dunia ini,


Jadi tolong, jangan bebankan masalah yang terlalu berat untuknya tuhan,


aku begitu mencintainya" batin Syam sambil terus memandangi wajah istrinya.


"Tit" seseorang terlihat masuk dengan wajah paniknya.


"Dimana anakku?" Tanya Sofi.

__ADS_1


Saat mengetahui mertuanya datang. Syam langsung bangun dan meletakkan jari telunjuknya di bibir.


"Astaga, maafkan aku" ucap Sofi kemudian menutup mulut dengan tangannya.


"Tidak apa-apa, ayo kita keluar dulu ma" ucap Syam setengah berbisik kemudian mengajak Sofi keluar untuk menjelaskan keadaan Kirana. Dia sengaja berbicara diluar karena takut membangunkan Kirana.


"Kenapa harus diluar? aku ingin bertemu anakku" jawab Sofi tak kalah pelannya.


"Ada yang Syam mau beritahukan pada Mama, Syam takut mama akan kaget mendengar ini" ucap Syam yang membuat wajah Sofi semakin khawatir.


"Apa Kirana sakit parah?" Tanya Sofi.


"Tidak ma, Ayo kita berbicara di luar saja" ucap Syam.


"Baiklah, ayo" ucap Sofi kemudian mengikuti Syam dari belakang.


Mereka kemudian memilih duduk di kursi depan ruangan Kirana.


"Kau tidak bercanda kan?" tanya Sofi.


"Iya Ma, aku masih belum yakin, tapi setelah aku selidiki terus, memang benar dia adalah ibu Kandung Kirana" ucap Syam.


"Hmmm, syukurlah kalau ibu kandungnya sudah datang dan dari keluarga kaya" ucap Sofi sambil tersenyum. Namun Syam bisa melihat jelas bahwa ada kekhawatiran di wajahnya.


Syam hanya bisa mengangguk tanpa berani mengucapkan sepatah katapun.


"Apa aku boleh masuk melihat Kirana?" Tanya Sofi


"Tentu Ma, Kirana tetap anak Mama" ucap Syam dengan senyum yang tentunya membuat Sofi terpana.


"Aku baik-baik saja nak" ucap Sofi kemudian berlalu masuk melihat Kirana.

__ADS_1


"Maafin Syam Ma, Syam harus memberitahukan hal ini pada Mama. Syam harap, Mama Sofi bisa membantu Kirana" ucap Syam pelan sambil mengusap air matanya yang sedikit berair.


"Drrtttt" Sebuah panggilan tiba-tiba mengusiknya.


"Hallo" ucap Syam.


"Apa?" ucap Syam saat mendengar penjelasan dari seseorang di seberang telpon.


Dia langsung berlari meninggalkan rumah sakit. Bahkan lupa untuk meminta izin pada Mama Sofi.


"Bagaimana bisa?" Tanya Syam pada dirinya sendiri. Sambil terus memukul setir mobil.


Sesampainya di sebuah rumah bercat putih. Dia langsung turun dan menerobos beberapa kawanan polisi yang tengah berjaga diluar.


Semakin masuk ke dalam, dia bisa mendengar suara tangisan beberapa orang yang dia kenali.


"Kak Syam" Teriak Alya kemudian memeluk Syam erat.


Syam hanya terdiam, mematung, melihat beberapa orang yang tengah memandangnya dengan air mata.


Ditambah dengan seorang wanita yang sudah terbujur kaku dengan balutan kain berwarna putih.


"Bagaimana bisa?" Tanya Syam pada Leon.


"Nyonya dibunuh oleh orang suruhannya Tuan. Untuk kronologinya sendiri, anak buah saya sedang mencari tahu dan mencari laki-laki itu" ucap Leon.


"Hmmm" ucap Syam menarik nafasnya berat sambil memejamkan matanya.


"Aku harap ini mimpi" batin Syam.


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2