Terjerat Pesona Tuan Muda Posesif 2

Terjerat Pesona Tuan Muda Posesif 2
Part 25


__ADS_3

Hari ini Kirana sudah bisa pulang dari rumah sakit. Dia sedang mengemasi barangnya dengan dibantu oleh Sofi.


"Kau dimana?" Tanya Kirana pada Syam dari seberang telpon.


"Sebentar lagi aku sampai. Bersabarlah sayang" ucap Syam dengan nada manja.


"Cepatlah, aku sangat merindukanmu" ucap Kirana


Sofi cukup terkejut dengan ucapan Kirana yang terdengar cukup manja tersebut. Begitupun dengan Syam.


"Jangan menggodaku sayang. Kita mungkin tidak akan pulang dari rumah sakit hari ini" ucap Syam.


"Haha. Cepatlah, aku benar-benar merindukanmu sayang" ucap Kirana kemudian mematikan sambungan telpon dan tersenyum tidak karuan.


Sofi hanya bisa menggeleng sambil memegang dadanya. Dia sungguh tidak habis pikir dengan sikap manja anaknya tersebut. Tapi dia juga tidak habis pikir jika anaknya bisa mengucapkan hal seperti tadi.


"Ayo sarapan dulu sayang" ucap Sofi setelah selesai membereskan semua baju Kirana.


"Kirana tidak lapar Ma" ucap Kirana sambil terus memandang layar Hp nya yang tengah memperlihatkan foto dirinya dengan Syam.


"Sedikit saja sayang. Kau baru sembuh jadi tidak baik menunda-nunda sarapan. Aaa" ucap Sofi sambil menyodorkan makanan pada mulut Kirana.


"Hoeek" belum saja dia membuka mulutnya. Dia langsung berlari ke kamar mandi, karena rasa mual yang tiba-tiba menjalar ditubuhnya.


"Na, Kau kenapa?" Tanya Sofi yang mengikuti Kirana ke kamar mandi sambil menepuk pelan tengkuk Kirana.


"Nggak tahu Ma, huekk" ucap Kirana kemudian memuntahkan isi perutnya kembali.


"Astaga. Mama panggilkan dokter dulu ya sayang" ucap Sofi, namun Kirana langsung menggeleng.


"Tidak Ma. Nanti kalau Kirana kenapa-kenapa lagi. Kirana akan diam disini lebih lama. Kirana mau pulang Ma" ucap Kirana.


"Tenang saja sayang. Feeling Mama, Kamu hamil. Jadi tidak akan terjadi apapun" ucap Sofi.


"Ha-hamil" tanya Kirana tidak percaya.


"Iya sayang" ucap Sofi.


"BRUKKK" tiba-tiba Kirana pingsan lagi. Sofi tentunya sangat panik dan bingung car mengangkat Kirana bagaimana. Untungnya Syam datang dan langsung mengangkat Kirana ke kasur dengan wajah paniknya seperti biasa.


Beberapa saat dokter datang dan langsung memeriksa Kirana.

__ADS_1


"Bagaimana dok?" Tanya Syam dengan cepat saat dokter sudah selesai memeriksa Kirana.


"Nona hanya kelelahan. Dan sepertinya nona sedang hamil tuan. Tapi saya tidak tahu pasti, karena saya bukan dokter kandungan. Tapi jika dilihat dari keadaan nona, dia sedang mengandung" ucap Dokter.


"Ha-hamil?" Tanya Syam dengan mata berkaca-kaca.


"Sepertinya begitu tuan, Tapi akan lebih baik jika Anda memastikannya dulu. Nanti saya akan minta dokter kandungan terbaik kami datang kesini dan memeriksa nona" tambah dokter tersebut.


"Cepatlah kau panggil dia. Sekarang juga" ucap Syam yang langsung di balas anggukan oleh dokter tersebut.


Syam langsung menggenggam tangan Kirana erat dan menciumnya beberapa kali.


"Terima kasih sayang. Aku harap kamu benar-benar hamil. Aku tidak sabar ingin menggendong anak-anak kita" ucap Syam.


Beberapa menit kemudian, dokter tersebut datang kembali dengan dokter Rani di sampingnya.


Setelah mendapat persetujuan, dokter Rani langsung memeriksa Kirana sesuai dengan apa yang sering dia lakukan.


"Bagaimana dok?" Tanya Syam.


"Selamat Tuan, Nona memang sedang mengandung. Untuk mengetahui kondisi kandungan dan umur janinnya. Anda bisa melakukan tes USG setelah nona sadar" ucap dokter Rani yang membuat Syam langsung terdiam. Kemudian dengan cepat sujud syukur yang sontak membuat semua orang disana kaget.


"Alhamdulillah, Aku akan punya cucu dok" ucap Sofi dengan girangnya.


"Terima kasih sayang" ucap Syam kemudian mengecup kening Kirana dengan lembut.


"Oya, kalian semua keluarlah. Aku ingin berduaan dengan istriku" ucap Syam yang membuat semua orang di ruangan tersebut menggeleng namun langsung menuruti perintah Syam. Sepertinya tingkat bucinnya tiba-tiba meningkat setelah mengetahui kehamilan istrinya.


"Mama juga keluar?" Tanya Sofi dengan polosnya.


"Oya, Mama sudah sarapan?" Tanya Syam. Sofi langsung menggeleng Yang membuat Syam tersenyum.


"Mama sarapan dulu saja. Biar Syam yang menjaga Kirana. Syam ingin menjadi orang pertama yang memberitahukan hal baik ini" ucap Syam.


"Baik nak" ucap Sofi kemudian berlalu pergi.


"Sebentar, bukannya tadi aku sudah memberi tahu Kirana terlebih dahulu, makanya dia pingsan. Haha. Bagaimana mungkin dia bisa jadi orang pertama yang memberitahukan kehamilan Kirana. Tapi ya sudahlah" ucap Sofi.


***


"Bagaimana bisa aku berciuman dengan si kunyuk itu. Kenapa aku tidak tendang saja juniornya tadi. Kenapa aku malah menikmatinya. Haaahhh, bagaimana ini?" Tanya Gladis pada dirinya sendiri. Bahkan dia terlihat tidak fokus melakukan pekerjaannya.

__ADS_1


Setiap orang yang ditemuinya tiba-tiba menjadi wajah Justine.


"Akhh, sepertinya aku sudah gila. Lebih baik aku pulang saja dan beristirahat. Otakku seperti nya sedang tidak benar" ucap Gladis kemudian melepas jas putihnya dan mengambil tas nya untuk pulang.


"Tittttt Tiiiitttt" terdengar suara klakson yang membisingkan dari arah parkiran. Hal ini tentunya membuat fokus Gladis langsung terarah pada sumber suara tersebut.


"Dia lagi, aku harus kabur secepat kilat" ucap Gladis kemudian setengah berlari menuju mobilnya tanpa berniat menengok Justine sedikitpun.


Melihat diacuhkan, tentunya membuat Justine tidak tinggal diam. Malah turun dari mobilnya dan mengejar Gladis.


Dia langsung tersenyum saat berhasil meraih tangan Gladis.


"Kenapa kau kabur dari ku?" Tanya Justine.


"Aku tidak kabur darimu. Aku hanya sedang buru-buru" ucap Gladis mengelak.


"Apa kau yakin?" Tanya Justine.


"Ya-yakin" ucap Gladis. Justine tersenyum kemudian memeluk Gladis erat. Gladis tentunya berusaha menghindar, namun tenaganya tidak cukup kuat untuk terlepas dari Justine.


"Sebentar saja, sepertinya aku akan merindukanmu. Aku akan ke Singapura untuk menemani pengobatan Mama. Mungkin akan butuh 1 bulan disana" ucap Justine yang membuat Gladis terdiam. Ada rasa tidak rela mendengar ucapan Justine tersebut. Namun Gladis berusaha untuk tidak peduli.


"Kau baik-baiklah disini. Jangan sedih lagi. Tunggu aku pulang dan jangan pernah berdekatan dengan si singa itu. Mengerti?" ucap Justine.


"Singa?" Tanya Gladis.


"Iya, si Leon-Leon itu" ucap Justine sambil mengelus rambut Gladis dengan lembut.


"Hmm, kenapa aku harus menuruti perkataan mu? Kamu bukan siapa-siapaku" ucap Gladis yang membuat Justine langsung men**** b**** Gladis lembut. Cukup lama, hingga Gladis membalasnya dan mulai terbiasa dengan itu. Walaupun masih kaku karena ini adalah ***** kedua kalinya. Hingga mereka kehabisan nafas dan melepaskannya.


"Mulai hari ini, kau milikku. Jadi jangan membantah oke" ucap Justine sambil mengusap bibir Gladis lembut.


Gladis hanya diam, sambil mencoba mencerna semua ucapan Justine barusan. Namun entah mengapa dia langsung mengangguk.


"Pintar. Aku berangkat dulu Kamu hati-hati dijalan. Jaga kesehatanmu dan jangan bersedih lagi. Aku akan kembali untuk melamarmu" ucap Justine kemudian berlalu pergi meninggalkan Gladis yang masih mematung sendiri.


Setelah kesadarannya kembali. Gladis langsung merutuki kebodohannya.


"Dia mengambil ****** keduaku lagi. Memang dia siapa? kenapa aku harus menunggunya. Hugh, bodoh-bodoh" ucap Gladis kemudian masuk ke mobilnya. Namun Entah mengapa dia secara tidak sadar malah tersenyum disela-sela omelannya tadi.


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2