Terjerat Pesona Tuan Muda Posesif 2

Terjerat Pesona Tuan Muda Posesif 2
Part 14


__ADS_3

"Kak Syam" ucap Kirana sesaat setelah membuka matanya.


"Sayang, akhirnya" ucap Syam kemudian mencium tangan dan pipi Kirana.


"Kak, hiks" ucap Kirana yang tiba-tiba langsung menangis.


"Tenanglah, semuanya sudah baik-baik saja" ucap Syam sambil memeluk Kirana erat.


"Aku takut kak" ucap Kirana sambil terus memeluk Syam. Entah mengapa, perasaannya menjadi jauh lebih tenang saat memeluk Syam seperti ini. Bahkan rasa takutnya perlahan sudah mulai berkurang. Walaupun bayangan Jenny yang ingin membunuhnya masih terngiang dikepalanya.


"Na, Kau sudah sadar?" ucap Korina yang saat ini sudah di ambang pintu. Korina terlihat begitu bahagia, bahkan Justine yang ada disampingnya sekarang bisa ikut merasakannya.


Kirana terdiam sebentar kemudian malah mempererat pelukannya pada Syam. Menenggelamkan wajahnya di dada bidang Syam.


"Aku tidak ingin melihatnya Kak" ucap Kirana pelan.


Wajah Korina langsung berubah 180°. Anak kandungnya tidak ingin bertemu dengannya.


"Kenapa sayang?" tanya Syam.


"Dia pembohong, dia jahat, aku membencinya. Tolong suruh dia pergi dari sini" ucap Kirana sambil melihat mata Syam dengan tatapan memohon.


Syam menangkupkan tangannya di pipi Kirana. Menghapus setiap air mata yang jatuh merembes membasahi pipi cabi itu. Kemudian mencium matanya pelan.


Dia mengerti. Kirana sudah tahu siapa Korina sebenarnya. Tapi dia ingin tahu, kenapa Kirana begitu membencinya.

__ADS_1


"Atas dasar apa kau membencinya?" Tanya Syam. Yang membuat Kirana langsung tertunduk.


"Apa aku harus memberitahumu?" ucap Kirana sambil menundukkan wajahnya lesu.


"Tentu saja. Aku tidak mungkin mengusir seseorang tanpa alasan sayang" ucap Syam sambil mengacak rambut Kirana gemas.


"Aku akan memberitahumu, asalkan dia keluar dulu dari ruangan ini" ucap Kirana. Syam pun mengangguk, kemudian meminta Justine dan Korina untuk keluar sebentar.


Setelah hanya mereka berdua. Kirana langsung menangis, lebih lepas dari sebelumnya.


"Hey, kenapa kau malah menangis?" tanya Syam yang terlihat bingung bercampur khawatir.


"Dia ibu yang melahirkan ku kak, dia membohongiku, dia jahat, kenapa dia kembali sekarang, hiks" ucap Kirana sambil menutup wajahnya.


Syam terdiam sebentar, ternyata apa yang dia pikirkan tadi benar. Kirana sudah mengetahuinya. Dan dari mana dia mengetahuinya. pertanyaan itu mulai terngiang-ngiang di kepalanya.


"Kak Jenny" ucap Kirana yang membuat rahang Syam mengeras. Dia berusaha menahan amarahnya. Karena saat ini menurutnya Kirana jauh lebih penting.


Setelah itu, dia memilih diam dan memeluk Kirana erat karena dia tahu saat ini Kirana hanya butuh ketenangan dulu.


Karena dia sangat takut jika masalah yang bertubi-tubi menyerang Kirana. Bisa berakibat pada psikis istrinya. Mungkin membuatnya tenang dan melupakan masalah adalah solusi terbaik saat ini.


"Menangis lah, tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja, ada aku disini" ucap Syam sambil memeluk Kirana erat.


Disisi lain, Korina juga tengah menangis. Dia terus menyalahkan dirinya sendiri. Hingga membuat Justine kewalahan untuk menyikapi ibunya yang memang memiliki sikap lembut dan mudah menangis ini.

__ADS_1


"Tin, Kirana membenci Mama. Mungkin karena mama penyebab dia seperti sekarang ini. Lalu mama harus bagaimana Tin? hiks" ucap Korina.


"Tenang Ma, Justine yakin seorang anak tidak akan bisa marah pada ibu kandungnya. Mungkin Kirana sedang lelah dan butuh sendiri. Dia perlu menyembuhkan traumanya. Jadi mama tenang saja ya" ucap Justine.


"Tidak Tin, Kamu lihat sendiri tadi. Kirana tidak ingin bertemu denganku. Berarti memang dia memang membenciku. Hiks" ucap Korina.


"Ma, tahu nggak kalimat ini "semua hal terjadi sesuai dengan apa yang kita pikirkan"?" Tanya Justine.


"Iya, itu kalimat yang pernah mama ucapkan dulu padamu" ucap Korina.


"Nah, lalu kenapa sekarang mama terus berpikir buruk tentang apa yang terjadi" ucap Justine sambil tersenyum tenang pada Korina. Korina terdiam sebentar kemudian tersenyum.


"Hmm, Kamu benar sayang. Mama seharusnya berpikir positif ya. Hmm, baiklah. Terima kasih ya sayang" ucap Korina.


"Sama-sama Ma. Mama jangan bersedih lagi ya. Justine juga ikut sedih nih" ucap Justine sambil mengusap matanya yang tidak basah.


"Mana ada kamu sedih. Air matamu saja tidak ada yang keluar sedikitpun, Haha" ucap Korina.


"Kalau aku sedih, lalu nanti siapa yang menjaga Mama dan Kirana. Aku satu-satunya laki-laki di keluarga kita. Jadi aku harus kuat dong" ucap Justine sambil memegang dadanya.


"Duh mama jadi terharu banget. Terima kasih banyak ya sayang" ucap Korina.


"Ini sudah jadi tugas Justine Ma" ucap Justine kemudian memeluk Korina erat.


-Bersambung-

__ADS_1


Semoga suka ceritanya ya🤗


__ADS_2