
"Brukkk" suara bantingan pintu terdengar begitu jelas memenuhi apartemen Alya dan Rian. Bagaimana tidak, Rian membanting pintu kamar nya dengan keras kemudian menguncinya dari dalam.
"Yan, buka pintunya" teriak Alya dari luar.
Bukannya membuka pintu, Rian malah membanting tubuhnya di kasur dan menutup matanya.
Dia memijat kepalanya beberapa kali. Rasanya hatinya sangat hancur sekarang. Dia begitu kesal jika mengingat bagaimana Kirana yang tidak mau menatapnya tadi. Bahkan tega mengusirnya.
"Haahh" Teriaknya lagi saat dia menyadari bahwa Kirana sedang mengandung. Dia berusaha keras untuk menjaga kesuciannya demi untuk Kirana. Karena dia berpikir untuk menceraikan Alya dan merebut Kirana kembali. Namun, sangat susah untuk dilakukan. Bahkan sangat sulit hingga dia terjebak sampai hari ini.
"Diam!!!" Teriak Rian karena Alya tidak henti-hentinya mengedor pintu kamarnya. Hingga membuat kepalanya pusing berkali-kali lipat.
Namun bukannya diam, Alya malah semakin mengedor pintu sambil menangis dan berteriak. Hingga membuat Rian kesal dan mau tak mau keluar.
"Apa yang kau lakukan? Kau bosan hidup huh?" bentak Rian dengan emosi yang sudah tidak bisa ditahan lagi.
"Iya, aku memang bosan hidup. Kau mau apa Huh? Mau pukul aku, mau bunuh aku, silahkan" ucap Alya.
"Plakkk" satu tamparan berhasil mendarat dipipi Alya. Tamparan yang cukup keras hingga membuat pipi Alya memanas saat ini.
__ADS_1
"Pukul lagi pukul? biar kau puas. Aku lebih baik dipukul seperti ini daripada melihatmu memandang wanita lain dengan tatapan bangsat itu" teriak Alya dengan air mata yang sudah bercucuran.
"Jaga mulutmu itu!" ucap Rian dengan tangan yang sudah bersiap ingin menampar Alya. Namun entah kenapa malah terhenti diudara.
"Kalau aku tidak mengingatmu sebagai seorang wanita, mungkin aku sudah memukulmu sampai babak belur sekarang. Merobek mulutmu yang kurang ajar itu" ucap Rian kemudian berlalu pergi meninggalkan apartemen.
"Brukkk" suara bantingan pintu apartemen kembali terdengar. Karena sudah menjadi kebiasaan Rian ketika marah, selalu melampiaskan nya kesana. Untung pintu apartemen itu sangat kuat.
"Hikss, Hiksss, Hiksss" yang terdengar hanya tangisan. Alya benar-benar sudah lelah dengan pernikahannya. Ingin sekali dia mengakhiri semua ini. Namun rasanya dia juga tidak sanggup untuk melakukannya.
"Aku capek Yan, sampai kapan harus seperti ini, hiks hiks" ucap Alya.
***
"Tidak biasanya kamu seperti ini, Ada apa?" tanya Syam sambil menatap wajah Kirana dengan tatapan curiga.
"Tidak ada, aku hanya merindukan Kak Gladis" ucap Kirana berkilah. Terlihat jelas dia sedang menyembunyikan sesuatu disana.
"Baiklah, besok kita kesana ya" ucap Syam. Namun Kirana langsung menggeleng.
__ADS_1
"Tidak aku maunya sekarang" ucap Kirana dengan manjanya.
"Baiklah, iya-iya, Ayo kita pergi" ucap Syam kemudian mengambil kunci mobilnya.
Kirana langsung berhore ria kemudian mengikuti Syam menuju parkiran.
"Makasi ya mas" ucap Kirana.
"Tidak ada yang gratis. Sini cium dulu" ucap Syam sambil mendekatkan wajahnya.
"Mas, ini di kantor. Rame, malu" ucap Kirana sambil menutup wajahnya. Karena beberapa orang sedang melihatnya dengan tatapan iri.
"Baiklah, jika kau tidak mau disini, ganti nanti malam saja. Aku mau yang banyak ya" ucap Syam sambil menarik Kirana kedalam pelukannya.
"Mas malu" ucap Kirana kembali.
"Ini Kantor milikku. Kau tenang saja, bagi mereka yang kepo atau berbicara buruk tentang kita dibelakang. Sudah tahu sendiri kpnsekuensinya" ucap Syam Yang membuat mereka langsung menunduk dan terdiam seketika.
"Wah, jangan terlalu keras mas" ucap Kirana karena merasa kasian pada karyawan disana yang terlihat ketakutan.
__ADS_1
"Sudahlah, ayo pergi" ucap Syam kemudian merangkul pinggang Kirana mesra.
Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju rumah Gladis.