
Matahari sudah membumbung tinggi, tetapi belum jua Febry beranjak dari tempat tidur. Baginya, bermalas-malasan di kamar dengan ditemani Irama musik adalah me time terbaik.
"Kak, kak Febry." Adik satu-satunya menyembul dari balik pintu. Febry membuka kedua matanya yang terpejam. Dengan sedikit malas ia melihat ke arah asal suara.
"Hemmm, apa an?
"Ciyeee.., yang sudah punya gebetan."
"Gebetan apaan, bocil?" Dahi Febry mengernyit, mencerna maksud ucapan adiknya.
"Itu di depan, Mas ganteng datang."
Febry terpenjat kaget, dengan cepat ia meraih hijab yang tergantung di dinding, lalu memasangnya asal. Masih dengan mengenakan piyama, ia berlari ke depan memastikan jika apa yang ia dengar itu salah.
Namun apa yang di harapkan nyatanya meleset. Mobil berwarna merah yang sangat familiar di matanya, kini sudah terparkir rapi di halaman rumah.
Menyadari kehadiran Febry, lelaki yang tengah asik berbincang dengan sang Ayah itu tersenyum. Ia tau, jika kehadirannya pasti akan membuat Febry terkejut.
"Pak Ardi?" Febry memperhatikan sosok di depan matanya itu dengan seksama. Bukan hanya terkejut karena kehadiran Pak Ardi yang mendadak, tetapi juga karena penampilan lelaki itu kini sangat berbeda.
Jika biasanya ia terbiasa mengenakan kemeja tapi lengkap dengan rambut klimis, kali ini Pak Ardi tampak lain. Dengan kaos berwana hitam yang pas di tubuh, dipadukan celana Chino abu gelap, serta sepatu kets yang melengkapi penampilan, membuat lelaki berumur tiga puluhan itu terlihat tampan. Febry mengucek matanya berkali-kali. Meyakinkan dirinya bahwa lelaki itu memang Pak Ardi.
"Pak Ardi, ngapain di sini?
"Huusss... sama atasan sendiri kok gak sopan," tegur Ayah, yang duduk di samping Pak Ardi.
"Di kantor atasan, di luar orang biasa, Yah," Febry mencebik.
"Mau ngajak kamu jalan, sekalian ada yang dicari."
"Jalan? Gak ah. Gak boleh kan, Yah?" Febry meraih tangah Ayahnya. Berharap sang Ayah tak mengizinkan, jadi ia tak perlu mencari alasan yang lain untuk menolak.
"Boleh kok, asal jangan pulang malam dan gak macam-macam."
"Ihh, Ayah." Febry mendengus kesal.
"Udah, mandi dulu sana. Gak malu apa anak gadis jam segini belum mandi. Tuh lihat, masih ada iler kering di samping bibir," ucap Ayah, sembari menonyor jidat Anak gadisnya.
Febry reflek metup mulut dengan kedua tangan. Lalu berbalik arah dan masuk ke dalam rumah dengan bibir menggerutu. Ia heran dengan sikap Ayah, biasanya Ayah akan sangat protektif. Terlebih dengan teman laki-lakinya. Tapi kali ini, ia justru terlihat sangat senang dengan kedatangan Pak Ardi.
__ADS_1
Dalam hati pak Ardi seolah -olah ingin bersorak, ia merasa menang karena telah di bela dan di berikan izin untuk pergi berdua.
***
"Memang mau kemana sih, Pak?" Febry yang duduk di samping Pak Ardi memasang wajah masam.
"Ke mall, nonton."
"Hah?"
"Tadi mau ngajak Yuda, anak Teknik. Tapi kok aneh nonton sama cowok. nanti digosipin aneh-aneh."
"Lah memang kalau sama aku gak digosipin apa?"
"Y mending di gosipin sama kamu, ketimbang di gosipin sama Yuda."
"Aku gak mau!"
"Memang aku mau juga?"
"Ih kan, Pak Ardi nih memang ngeselin." Febry melipat kedua tangannya di depan dada, lalu melempar pandangan jauh keluar jendela mobil. Sebenarnya ia bisa saja bersikeras menolak ajakan Pak Ardi, tetapi entah mengapa hatinya pun berkata iya. Saat lelaki itu berucap, lebih baik digosipkan dengannya. Febry merasa ada sesuatu yang hangat di dalam sini. Sesuatu yang sudah lama tak pernah ia rasakan kini berdesir kembali.
***
"Isshhhh... Kamu ngapain jalan di belakang aku? Sudah kaya anak bebek aja."
Febry hanya tersenyum, tampak gigi gingsulnya menyembul dari bibir tipisnya.
"Sini lho, jalan samping aku. Apa mau ta gendong sekalian biar kaya karung beras?"
"Iya... Iyaaa, bos bawel."
"Mau makan dulu atau makannya habis nonton?"
"Terserah Pak Ardi aja. Eh tapi mau nonton apa memangnya pak?"
"Terserah kamu aja, Feb."
Febry memanyunkan bibirnya kesal, kali ini ia merasa di balas pak Ardi dengan jawaban "Terserah"
__ADS_1
*****
"Yakin pak mau nonton horror?" Febry bertanya, ragu
"Terus mau nonton apa? Film yang romantis-romantis nanti kamu nangis di pojokan gara-gara iri."
"Heleh, sesama jones gak usah ngeledekin ya."
"Berarti horror aja, ya?"
"Iya deh, nurut sama orang tua."
"Oooo Arek Iki." Pak Ardi memukul pelan hidung Febry menggunakan tiket yang ada di tangannya. Gadis itu reflek menutup hidungnya dengan kedua tangan seolah kesakitan padahal tidak.
Sebenarnya Febry sedikit ragu untuk menonton film horror, karna ia merasa jika akhir-akhir ini kerap mendapat hal - hal menyeramkan.
******
Jadwal film masih beberapa jam lagi, mereka memilih untuk makan terlebih dahulu. Seorang pelayan cafe tengah mencatat pesanan mereka.
"Aku mau pesan nasi goreng sama lemon tea aja, pak. Eh tapi nambah kentang goreng sama.... Eh itu aja dah."
"Sama apa? Kentang goreng?"
"Iya itu tadi, nasi goreng, lemon tea, kentang goreng, jamur crispy juga deh."
"Udah?"
Febry mengganguk. Sembari menunggu pesanan Febry terlihat sibuk memainkan ponsel yang ada di dalam tas. Ia tampak tersenyum sembari membalas pesan.
Ia tak menyadari jika lelaki yang duduk di depannya sedari tadi diam-diam mencuri pandang ke arahnya. Sesekali ia tersenyum menatap paras gadis di hadapannya, tetapi sesaat kemudian ia melempar jauh pandangannya, takut jika si empunya tau jika ia tengah di perhatikan.
Pak Ardi merasa ada debaran tak biasa ketika ia berada di dekat gadis yang belum satu tahun ia kenal , hatinya seolah bertanya-tanya, perasaan apa yang saat ini ia rasakan. Cinta? Ataukah hanya rasa nyaman yang tak berharap untuk dibalas.
"Badan kamu ini kurus, tapi ternyata makan kamu banyak y, Feb," celetuk Pak Ardi sembari menikmati makanan yang telah ia pesan.
"Laper soalnya, pak. Pagi tadi belum sempat sarapan, ehhh ada yang ngajak jalan. Mbuh dalam rangka apa."
Pak Ardi terdiam, ia seolah kehabisan kata-kata untuk membalas ucapan Febry. Karena ia sendiri pun tak menemukan alasan lain selain ia hanya ingin terus bisa melihat gadis di depannya itu. Y itu saja.
__ADS_1
Ia berfikir, mungkin karena mereka kerap berdebat kecil dan tuntutan pekerjaan yang membuat mereka sering bertemu, sehingga membuat hari-hari nya yang dahulu biasa saja kini menjadi luar biasa. Luar biasa rindu jika tidak melihat dan berdebat kecil dengan Febry.
*****