Teror Penunggu Pabrik

Teror Penunggu Pabrik
Masa Lalu


__ADS_3

Reyna bukan tak menolak ketika tau akan di jodohkan. Ia marah, ia hancur, bahkan ia menangis dalam diam nya. Namun, semua ia pendam seorang diri.


"Ayah, Reyna gak bisa menikah sama mas Arya, ayah. G bisa."


(Plaakkkkk)


Sebuah tamparan mendarat di pipi kanannya.


"Cukup, Ayah! Kalian jangan bertengkar lagi." Ibu memeluk anak gadisnya yang sesenggukan sembari memegang pipi nya yang memerah. Jauh di dalam hatinya, ia merasa bersalah pada Reyna. Ia sadar jika mereka tak berhak mengatur siapa pasangan hidup anak mereka.


"Mau gak mau, kamu harus tetap menikah Reyna. Mau di taruh mana muka kami? Semua sudah siap, undangan sudah di sebar, dan kamu mau batalkan? Kamu mau ngelepas Ardi demi Bayu tukang roti itu? Gendeng kamu nduk, gendeng!"


Ayah lalu pergi meninggalkan Reyna yang masih menangis dalam pelukan ibunya.


Reyna sadar, sekuat apapun ia meronta, itu Takan mengubah apapun. Dan ayah, akan tetap pada pendiriannya.


****


Tamu undangan telah berdatangan, begitu juga dengan rombongan keluarga ardi. Rona bahagia begitu tampak menghiasi wajah Ardi. Menggunakan pakaian beskap berwarna putih, Ia tak berhenti menebar senyum ramah kepada tamu undangan.


"Ayo pengantin wanitanya di bawa keluar, sebentar lagi, akad akan di mulai," ucap salah seorang keluarga Reyna.


Ibunda Reyna dan beberapa orang wanita lantas beejalan menuju kamar untuk menjemput pengantin.


Acara sebentar lagi akan di mulai. Penghulu yang di minta untuk menikahkan Ardi dan Reyna juga sudah tampak datang. Ada degup bahagia di dalam dada Ardi, sebentar lagi ia akan menyandang status sebagai suami. Bahkan ia tak sabar untuk melihat pengantinnya yang pasti terlihat cantik di hari spesial ini.


"Reyyyyynaaaaaaaaaaa." Jeritan seseorang terdengar dari dalam kamar pengantin. Ayah yang familiar dengan suara itu lantas berlari menuju kamar di ikuti oleh yang lain. Suasana yang tadi khidmat, mendadak berubah dengan kepanikan.


Pintu kamar tidak di tutup. Tampak istrinya begitu histeris menangis di lantai, sembari memegangi kaki seorang wanita yang mengenakan kebaya berwarna putih. Sosok itu tergantung dengan lilitan kain selendang yang terikat dari ventilasi jendela kamar.


"Ree...yyy...naaa?" pengantin pria ikut menyusul ke kamar. Dia tertegun, diam, terpaku melihat pemandangan di depannya.


*****


"Pak, maaf ya selalu ngerepotin."


Lelaki di balik kemudi itu tersenyum tipis.


"Pak kata Hesty, pak Ardi mau balik ke Surabaya y?"


"Hooh, opo o?"


"Lama?"


Pak Ardi hanya mengangkat bahunya, membuat Febry yang duduk di sampingnya cemberut.


"Memang nya kenapa?"


"Lama apa sebentar?"


"Mungkin dua hari aja. Sabtu berangkat, Senin udah balik."


"Oooooooo."


"Ojo kangen lho ya."


"Gak lah. Pak Ardi gak mau nawarin aku minta oleh-oleh apa gitu?" Febry terkekeh pelan.


"Engga, gak kepikiran." Sahut pak Ardi, gadis yang duduk di samping nya itu mendengus kesal.


"Hiihhhhh."


Lelaki itu tertawa puas melihat ekspresi Febry.


Mobil pak Ardi memasuki halaman. Sebuah mobil Honda Civic warna putih dengan plat yang begitu familiar terparkir di pekarangan rumah.


Febry tertegun, menyadari jika ia akan bertemu dengan Riko kembali. Ada perasaan senang dan tak nyaman yang bercampur jadi satu.


Mobil yang mereka naiki kini benar-benar telah berhenti. Tampak Riko yang tengah duduk di teras rumah sedang asik berbincang dan bercanda dengan seseorang. Bukan ayah, namun Ryan. Adik febry. Bocah itu sesekali terlihat tertawa lepas seolah begitu nyaman bersama Riko.

__ADS_1


"Assalamualaikum," ucap Febry, sembari mengulurkan tangannya pada Ryan.


"Wa'alaikum sallam. Lama kok telat kah pulangnya?" Ucap Ryan, sembari mencium punggung tangan kakak nya.


"Iya, tadi mampir dulu. Di ajak pak Ardi makan. Oh iya, ayah ibu sudah berangkat?" Febry melirik sekilas ke arah garasi mobil yang tampak kosong. Tak ada mobil ayahnya yang terparkir.


"Udah, nunggu kakak kelamaan kata ayah. Nanti malam kakak jangan pindah ke kamar aku ya. Aku kunci biar gak bisa masuk."


"Dasar bocah GR banget, siapa juga yang mau pindah ke kamar kamu." Febry memukul pelan kepala ryan. Bocah itu malah tertawa kegirangan.


"Memang ibu ayah kamu kemana, Feb?" Pak Ardi yang berdiri di belakang Febry menyela. Ada perasaan canggung ketika bertemu dengan riko. Namun ia coba untuk bersikap normal. Ia bahkan terlebih dahulu mengajak Riko untuk bersalaman. Namun baginya saat ini, Riko adalah rival nya.


"Ayah ibu ke luar kota, pak. Ada acara keluarga. Tapi besok siang sudah pulang."


"Bocil, sana masuk. Nih tadi pak Ardi beliin tahu bakso." Febry menyerahkan kantong plastik berwarna hitam. Bocah laki-laki itu mengintip isi bungkusan di tangannya. Ia tersenyum sumringah melihat isi di dalamnya.


"Makasih ya om."


"Ehhh kok om sih?" Protes pak Ardi. Febry yang berdiri di sampingnya mengulum senyum.


"Kan bos nya kak feb, terus panggil apa?" Ryan bertanya dengan polosnya.


"Pakde." Febry menimpali


"Hussshh, ngawur kamu. Panggil kakak juga lah." Pak Ardi menepuk dadanya bangga


"Siappp om, ehhh kak." Ryan terkekeh, kemudian berlalu meninggalkan mereka.


Kini hanya ada mereka bertiga. Suasana terasa aneh, tapi semua mencoba bersikap biasa. Febry menyadari, jika sedari tadi ia belum ada menyapa Riko.


"Dah dari tadi Rik datangnya?"


"Iya, tadi sempat ketemu ayah ibu kamu sebelum mereka berangkat."


"Ooohh. Oh iya, pak Ardi mau langsung pulang atau mampir dulu?"


"Aku langsung aja, Feb. Ada janji mau ketemu sama orang, habis dari sini."


"Y udah aku pamit, Riko duluan ya," ucap pak Ardi sembari menjabat tangan Riko. Ada perasaan tak rela harus meninggalkan Febry bersama Riko berduan.


Pak Ardi telah meninggalkan rumah Febry, kini hanya mereka berdua. Dengan sedikit canggung dan malu, Febry menarik kursi yang ada di samping Riko.


Ia sengaja duduk sedikit menjauh dari mantan kekasihnya itu.


Beberapa menit mereka hening, sibuk dengan perasaan dan pikiran masing-masing.


"Feb."


"Hemm." Febry menoleh, lalu membuang wajahnya lagi.


"Hp kamu rusak?"


"Hp? Engga... Kenapa?"


"Tapi Kenapa pesan aku gak pernah di baca?"


Febry terdiam. Ia sadar jika apa yang Riko ucapkan barusan sedang menyindir dirinya. Selama ini ia memang sengaja tak pernah membuka pesan WhatsApp yang di kirim Riko.


"Feb. Aku mau minta maaf buat semuanya. Saat ini, aku gak minta kita balikan. Tapi setidaknya kita bisa dekat. Gak canggung kaya gini.bisa?" Riko menatap Febry. Ia ingin sekali menatap mata lawan bicaranya, namun gadis itu justru membuang pandangannya jauh, seolah tak ingin melihat ke arahnya.


"Kamu lucu, Rik. Setelah yang terjadi di antara kita, sekarang kamu mau kita bisa dekat lagi?"


Riko mengangguk pelan.


"Kenapa?" Febry mentap riko, kini netra mereka bertemu.


"Karena ada perasaan yang belum selesai, Feb. Aku...aku masih cinta sama kamu."


****

__ADS_1


Febry berniat tidur di kamar adiknya. Ia bahkan sudah membawa bantal dan selimut miliknya menuju kamar Ryan. Namun bocah itu ternyata benar-benar mengunci pintu kamarnya. Febry mencebik kesal. Ia lantas kembali ke kamar nya. Yang berada di depan.


Ada perasaan takut yang tiba-tiba hadir. Namun ia berusaha untuk mengalihkan rasa takutnya. Jam dinding sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Febry memainkan ponsel miliknya, berharap rasa kantuk segera menghampiri.


(tokkk...tokkkk...tokkk.)


Suara ketukan di jendela kamar membuat Febry terkejut. Ia yakin jika itu bukan ulah manusia.


"Ryannnn...Ryaaannn..." panggil Febry dari dalam kamar. Namun tak ada jawaban dari si pemilik nama.


(tokkkk....tokkkk...tokkk.)


ketukan di jendela itu kembali terdengar. Jantung Febry berdegup kencang. Perasaan takut tiba-tiba menjalar. Ia tak tau harus berbuat apa. ia ingin berlari ke kamar Ryan, namun untuk menuju ke kamar ryan pun ia tak berani.


Febry memilih menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Ia bahkan nyaris menangis karena ketakutan.


ponsel miliknya bergetar, seseorang tampaknya ingin menelepon. Terpampang nama "Pak Ardi" di layar ponsel. Dengan cepat Febry menggeser gambar telepon berwarna hijau tersebut.


"Pak Ardi."


"Hohhh, Kenapa Feb? Kok tumben langsung di angkat?"


"Pak, aaaa..aaakk.kk akku takut. Tadi ada yang ngetuk jendela." Febry mencoba mengatur nafasnya.


"O ya? sudah di cek siapa? takutnya maling."


"Gak lah, aku yakin bukan maling."


"Kamu tenang dulu, sekarang baca doa seingat kamu aja."


"Udah, tapi masih takut."


"Ojo doa makan lho ya, engko langsung di emplo kamu."


"Pak Ardi ini, orang serius juga."


"Mau ta Vcall? Eeee, tapi aku lagi gak pake baju." Pak Ardi mencoba mencairkan suasana. Ia yakin jika lawan bicaranya saat ini tengah ketakutan dan mungkin sedang berusaha menahan tangis.


"G lah, telepon aja. Jangan di matikan y pak."


"Lah, kalau aku mau ke WC gimana?"


"Iiiiih pak Ardi."


"Ahahha kamu ini. Feb...."


"Hemm, apa?"


"Tadi Riko ngapain?"


"G ada."


"Maksud aku, ada bilang apa?"


"Oohhh..tadi bilang dia masih cinta."


"Terus?"


"Kemana?"


"Y itu, terus kamu jawab apa, kok bilang kemana!"


"Kan pak Ardi bilang terus, jadi aku jawab kemana. Memang salah?"


"Iyooo engga salah febbbbbb. Aku aja yang lola. Terus kamu jawab apa?"


"Y gak jawab gimana gimana."


"Gak balikan?"

__ADS_1


"Engga."


"Alhmdulillah, ehhh." Pak Ardi menghentikan bicaranya. Ia seolah malu telah kelepasan bicara. Sementara di ujung sana, ada seorang wanita yang berkali-kali mengulum senyum malu-malu.


__ADS_2