
[Lagi apa?]
Sebuah pesan masuk membuat Febry menghentikan bermain game di ponselnya. Dahinya mengernyit ketika membaca nama si pengirim pesan.
[Lagi main game, kenapa pak?]
[Besok aku berangkat ke Jakarta, mau ngantar ke bandara?]
[Memang bapak g Bawa mobil?]
[Rencana mau aku tinggal aja, lagi males nyetir. Mungkin minta antar security aja.]
[Berubah jadi hari Minggu ya? Kalau besok aku g bisa, udah ada janji.]
Febry merebahkan dirinya di kasur, ia seperti seseorang yang tengah kasmaran. Tertawa sendiri sembari membalas pesan yang masuk.
[Mau jalan sama Hesty?]
[Ada deh.]
[Jangan]
[Jangan apa?]
[Jangan ketemuan sama sepupu Hesty.]
Seketika Febry seolah kehabisan kata-kata, berulang kali ia menghentakkan kakinya di kasur, seperti ada ribuan kupu-kupu tengah berterbangan di hatinya.
Ia bingung ingin membalas pesan pak Ardi dengan kata-kata seperti apa. Ia justru memilih melanjutkan bermain game kesukaannya. Hingga satu jam kemudian terdengar seseorang mengetuk pintu kamarnya.
"Kakak...kak Febry.." Ryan mendongak kan kepalanya ke dalam kamar.
"Apaan?"
"Nohh gebetan kakak ada di depan?"
"Gebetan?" Febry tersentak kaget, apa mungkin maksud dia, Pak Ardi?
Febry langsung bergegas mencari sweater dan hijabnya, lalu berjalan keluar rumah.
Benar seperti dugaannya. Pak Ardi tengah berbincang hangat dengan ayah.
"Nah, ini Febry nya. Y sudah ayah ke dalam dulu ya." Ayah menepuk pundak pak Ardi, kemudian berlalu meninggalkan mereka berdua.
"Bapak ngapain malam-malam kesini?"
"Mau pamitan, kan besok satu Minggu gak ketemu, siapa tau kamu kangen sama aku."
__ADS_1
"Astagfirullah."
"Oooo, arek iki. Kita keluar bentar yuk nyari makan dekat sini. Aku udah izin ayah kamu."
"Whaatt?"
"Gak usah what whatan, ayo."
"Bentar, ganti baju dulu."
"Udah gitu aja, cuma di dekat sini aja. Gitu aja udah cantik."
"Helehhhh."
***
Mobil yang mereka naiki berhenti di salah satu cafe yang berada di dekat rumah Febry. Febry hanya mengenakan celana panjang, kaos, sweater dan hijab berwarna hitam. Bahkan ia tak sempat memoles wajahnya dengan bedak ataupun lipstik.
"Kamu baik-baik ya ditinggal satu minggu. Ojo kokean ngelamun Ben gak di tempelin demit," ucap pak Ardi sembari menatap wajah Febry. Belum juga pergi ia sudah merasakan rindu.
"Dalam rangka apa pak ke Jakarta?"
"Meating biasa, sama mau balik ke Surabaya dulu ada urusan."
"Ohh... Sekalian balik ya, pantesan jadi lama."
Febry hanya mencebik, membuat pak Ardi gemas ingin mencubit hidungnya.
Sebenarnya, Febry sangat ingin bertanya. Apa hubungan mereka saat ini? Tetapi ia takut dan gengsi jika harus bertanya terlebih dahulu. Takut jika di kira ia mengharapkan di tembak pak Ardi. Hingga ia memilih untuk diam dan membiarkan semua berjalan sampai entah dimana.
"Ternyata kamu lebih manis tanpa riasan apapun di wajah y, Feb" pak Ardi melipat kedua tangan di meja dan menyandarkan dagunya sembari menatap kebarah Febri. Ia ingin menikmati setiap detail wajah gadis di depannya dan menyimpan nya di dalam memori ingatannya.
Jelas saja tingkah pak Ardi membuat Febry salah tingkah dan mungkin wajahnya saat ini sudah seperti kepiting rebus.
"Permisi. Ini pesanannya" Seorang waiters datang membawakan pesanan. Febry menarik napas lega karena pak Ardi berhenti memperhatikannya.
Segelas capicino dan jus alpukat pesanan mereka telah tersaji.
"Kamu g makan malam? Cuma pesan ini aja?"
"Gak pak, takut nanti gendut."
"Astaga..." gumam pak Ardi
***
Mobil berwarna merah pak Ardi telah meninggalkan pekarangan, Febry lantas masuk dan langsung merebahkan diri di kasur. Sesekali ia tersenyum mengingat moment kebersamaan dia dengan pak Ardi. Hatinya bertanya-tanya, apakah saat ini ia kembali jatuh cinta? Tapi di lain sisi ia takut, takut jika hubungannya akan berakhir sia-sia seperti saat ia bersama Riko.
__ADS_1
****
Suasana kantor ramai seperti biasa, tetapi Febry merasakan ada sesuatu yang hilang. Ia merasa kesepian di tengah keramaian, karena hilangnya sosok pak Ardi.
Berkali-kali Febry mengecek ponsel, berharap ada pesan atau telpon dari pak Ardi, namun nyatanya nihil.
"Beb, rabu kita lembur ya, kita ke gudang belakang cek barang." Hesty menyerahkan map berisi barang yang harus ia cek.
Febry ingin menolak tapi tak bisa, ia merasa takut jika ke gudang, selama ini ia selalu di temani pak Ardi. Pak Ardi yang tidak pernah meninggalkan Febry seorang diri.
Hingga malam menjelang, tak juga pak Ardi memberi kabar. Febry berkali-kali melihat layar ponsel, ingin rasanya menghubungi terlebih dahulu. Namun, rasa gengsi lebih tinggi dari pada rasa ingin taunya.
***
Sudah dua hari pak Ardi tak ada kabar. Bahkan keterangan di ponselnya pun terakhir online hari Minggu, dan setelah itu tak aktif sama sekali. Febry gelisah, ia ingin mencari tau tapi ia sadar diri, jika ia merka tak ada hubungan.
Sore menjelang, Febry dan Hesty pergi ke gudang untuk mencek barang. Jam kerja dua jam lagi akan berakhir. Mereka berniat menyelesaikan pekerjaan tepat waktu. Karena merasa takut jika hanya berduaan di gudang.
Dengan langkah yang cepat mereka berjalan menuju gudang storage, melewati ribuan karyawan yang sibuk bekerja.
"Hes, kita main sat set ya," ucap Febry dari balik kostum es kimo nya. Hesty mengangguk, mereka lantas dengan cepat berbagi tugas.
(Kraaakkkkkk)
Terdengar suara rak besi seolah bergeser di deretan rak paling pojok, padahal mereka tak ada menyentuh sama sekali. Rak-rak setinggi manusia itu memang memiliki roda kecil di setiap kaki nya. Tetapi untuk mendorong rak tersebut perlu tenaga ekstra, terlebih jika rak besi itu berisi muatan.
Febry dan Hesty saling berpandangan, Febry seolah mengerti arti tatapan sahabatnya itu. Dengan segala keberanian mereka tetap melanjutkan pekerjaan meski saat ini Febry merasa bulu kuduknya berdiri.
(Kraaaakkkkkkkk brukkkk)
Kali ini rak itu seperti di dorong lebih kuat hingga terdengar seperti menabrak dinding. Hesty dengan cepat menarik tangan Febry untuk keluar ruangan. Namun karena licinnya lantai membuat dua sahabat itu terpeleset jatuh bersamaan.
Mereka merintih kesakitan, namun seketika sama-sama tersadar untuk cepat bangkit dan berlari ke luar meski merasakan nyeri pada lutut mereka.
"Hufftttt, astagfirullah," ucap Hesty dengan nafas masih ngos-ngosan. Mereka telah berada di ruang gudang storage.
"Kenapa Hes, kok pada lari-lari." Tegur Sani yang berada di meja admin depan gudang.
"Kak, tadi kami dengar rak nya kaya nya nabrak dinding. Takutnya ada barang yang jatuh. Bisa minta tolong buat ngecek ga?"
"Oke bentar, biar anak buah aku yang ngecek ke sana." Sani pun menyuruh dua orang anak buah nya untuk masuk ke dalam storage.
"Kamu g papa, Feb?" Tanya Hesty yang melihat Febry memegang lutut karena kesakitan.
"Gak papa, cuma nyeri aja."
"Hes, gak ada apa-apa. Semua masih seperti semula, gak ada yang geser apalagi jatuh," terang anak buah Sani, menjelaskan.
__ADS_1
Hesty dan Febry berpandangan, mereka sama-sama berfikiran jika kali ini mereka di ganggu oleh mahluk penghuni storage, yang tak suka dengan mereka. Tanpa aba aba mereka berdu lantas segera naik menuju kantor.