
Hawa dingin menusuk kulit, perlahan Febry membuka mata. Samar cahaya matahari menyelusup di tengah lebatnya dedaunan. Febry terkejut, ia berada di tengah-tengah hutan yang entah ada dimana, dan tak terlihat ada seseorang selain dia.
Kepalanya terasa sakit, Ia tak berani bangun, hanya duduk sembari memeluk lutut yang terasa gemetar. Netranya kesana kemari mengamati sekitar. Ia mencoba mengingat bagaimana bisa ia berada di tengah hutan seperti ini.
"Tolong...." teriaknya sekuat tenaga. Namun suara teriakan hanya menggema di tengah rimbun nya pepohonan.
"To....longggg," ucapnya lagi.
Ia terdiam sebentar, sayup-sayup terdengar suara gamelan. Mungkin di dekat sini ada sebuah desa, pikirnya.
Dengan cepat Febry berlari tak tentu arah mencari asal suara tersebut. semakin jauh ia berlari, rasanya semakin ia masuk ke dalam hutan. Ia berhenti, nafasnya mulai naik turun, ada rasa perih yang menjalar di sekitar kulitnya.
Sepertinya ia terkena sayatan dedaunan yang cukup tajam saat berlari tadi. Namun ia tak memperdulikan, ia hanya ingin. cepat pulang. Entah bagaimana caranya.
Suara gamelan itu terdengar semakin dekat. Ia kembali mencari asal suara. Semakin di dengarkan semakin terdengar jelas.
Ia terus berjalan, hingga kakinya berhenti di sebuah gubuk. gubuk itu tampak tua. Dari bangunannya yang hanya terbuat dari anyaman bambu dan beratap jerami, bahkan tampak tak terurus dari luar.
"Permisi..." Ucap Febry, tak ada sahutan dari dalam. Ia mengintip dari sela-sela lubang kayu, namun gubuk itu seperti benar-benar kosong tak berpenghuni.
Febry memberani kan diri untuk mendorong pintu kayu itu. Aroma pengap dan lembab begitu terasa ketika pintu terbuka. Dengan perlahan ia melangkahkan kakinya ke dalam gubuk. Netranya menjelajah sekitar, tak ada yang nampak aneh dengan gubuk itu.
Hanya ada dipan kayu dan sebuah lampu minyak yang terlihat sudah berkarat. Di dalam ruangan yang tak besar itu ada sekat pembatas yang terbuat dari anyaman bambu. Namun tubuhnya terasa kaku ketika netranya menatap sebuah pajangan yang ada di dinding gubuk.
Bukan sebuah foto ataupun gambar pemandangan. Melainkan sebuah tengkorak kepala manusia. Entah tengkorak itu asli atau palsu, namun tengkorak kepala di tengah hutan bukanlah sesuatu yang biasa, fikir febry.
Tubuhnya gemetar, kakinya tak mampu lagi menopang tubuh, hingga akhirnya ia jatuh terduduk di tanah. Keringat dingin membasahi pelipis Febry. Ia seperti tak bisa berfikir lagi harus berbuat apa.
"Per...misiiii, apa ada orang?" Febry yang masih terduduk di lantai tanah, merasa jika ada seseorang selain dia di dalam gubuk tua itu.
__ADS_1
Terdengar suara dari belakang, yang di sekat oleh sebuah bilik. Suara seperti benda yang dipukulkan ke tanah. Suara itu Sam. Persis seperti yang ia dengar dari kamar orang tuanya.
Ya, Febry mulai ingat. Jika ia tadi berada di kamar orang tuanya, mengapa saat ini ia berada di tengah hutan?
Belum hilang penasarannya, suara itu kembali terdengar. Namun kali ini lebih nyaring dan membuat Febry yang ketakutan mundur hingga ke pojok ruangan.
"Koe ngerti seng jenenge janji? janji mu Ra bakal ISO mbo ingkari. Gelis, engko, janjimu mesti tekan."
Febry tak begitu mengerti bahasa Jawa, ia hanya mengerti kalimat janji. Selebihnya ia tak paham. Namun anehnya Suara dari balik bilik itu terdengar seperti suara seorang nenek-nenek. suara pukulan di tanahpun tak terdengar lagi.
Febry yang di liputi rasa penasaran dan ketakutan, mencoba merangkak. Ia penasaran ada apa di balik bilik itu.
Perlahan ia mencari sela-sela lubang untuk mengintip, Ia tak melihat ada seseorang di dalam, ruangan itu terlihat kosong, namun jantungnya seperti mau copot ketika melihat penampakan di pojok ruangan.
Seorang wanita tua dengan rambut terurai panjang, dan yang membuat Febry bergidik ngeri, kepala nenek itu seolah patah hingga kepalanya terlihat menjuntai ke depan.
Febry ketakutan, ia lantas berlari keluar. Ia berlari tak tentu arah, Ia semakin mempercepat larinya ketika mendengar suara tawa wanita yang begitu nyaring. Suara itu mengikutinya. Febry menangis ketakutan, ia berlari tak karuan kesana kemari sembari sesekali menoleh kebelakang. Ia tak memperhatikan langkahnya, kakinya tersandung, Febry lantas jatuh begulung gulung di atas tanah yang menurun.
"Feb....Febry...Febry..,"
Febry menyipitkan matanya, kepalanya terasa pusing, bahkan badannya terasa sakit. Ia lantas terbelalak kaget ketika melihat sosok di depannya.
"Pak Ardi?"
"Syukurlah kamu sudah sadar."
Febry yang tengah berbaring di atas ranjang, reflek memeluk pak Ardi yang duduk di sisi nya. Lelaki itu terkejut, namun ia membiarkan gadis itu memeluknya beberapa saat. Sebelum akhirnya gadis itu melepaskan pelukannya.
"Aku dimana, pak? Aduh sakit," ucap Febry ketika meraba keningnya."
__ADS_1
"Jangan di raba, itu kening Kamu tadi berdarah. Kamu di rumah, tadi kamu pingsan di kamar orang tuamu."
"Pingsan?" Febry terdiam, ia mengingat-ingat kejadian tadi. Bukan kah ia berada di tengah hutan? tapi kenapa sekarang ia ada di rumah?
"Tadi aku ke rumah sakit, ibu kamu khawatir kamu gak bisa di hubungi, terus minta tolong aku buat ngecek. Kamu kenapa?"
"Apa nya?"
"Y kamu itu kenapa? Tadi pingsan di lantai, syukur aku sudah makan, jadi kuat gendong kamu ke atas sini."
"Pak aku mimpi aneh."
"Mimpi apa?"
Febry tak menjawab, ia meraba kaki nya yang terasa sakit. Bahkan celana panjang yang ia kenakan tampak kotor seperti habis terjatuh.
"Kamu habis dari mana? Celana kamu kotor banget." pak Ardi mengibas ngibaskan noda di celana Febry. Gadis itu hanya diam seperti memikirkan sesuatu.
"Pak."
"Iya?"
"Aku takut," Febry lantas kembali memeluk lelaki di sampingnya itu. Air matanya kembali luruh. Pak Ardi tak mengerti dengan apa yang terjadi pada gadis itu, namun ia membiarkan Febry melepaskan sesak di dadanya. Ia membelai pelan rambut Febry. Perlahan ia mencium pucuk kepala febry. Ia sadar, jika mereka tak memiliki hubungan apa-apa, namun tak bisa di pungkiri jika ia begitu menyayangi Febry dan sangat ingin melindungi gadis itu.
****
Pak Ardi menunggu Febry di ruang tamu, Sementara gadis itu mandi. Dibawah guyuran air , Febry meraba kakinya yang terlihat memar biru. Ia kebingungan, dari mana ia mendapat memar biru yang cukup besar itu.
Keningnya pun terluka, namun telah di tutup plester luka oleh pak Ardi. Ia merasa kejadian di hutan tadi begitu nyata, tapi kenyataannyan ia berada di dalam rumah. Febry lantas mempercepat mandinya karna mendengar pak Ardi memanggilnya.
__ADS_1