
Febry akhirnya terpaksa harus rawat inap, karena hasil tes darahnya positif tifus. Di tambah maag yang kambuh, membuat gadis yang biasa ceria itu kini tampak lemah tak berdaya.
"Pak Ardi kalau mau pulang, pulang aja pak. Gak papa. Nanti kalau aku perlu apa-apa tinggal panggil perawat," ucap Febry dengan suara lirih.
"Seng genah aja kamu, Feb. Kamu drop kaya gini masa aku tinggalin. Gak papa tak temenin sampe ortu kamu besok datang."
"Balik aja pak, g enak masa berduaan."
"Tenang aja, gak tak apa-apakan kamu, paling towel-towel dikit," goda pak Ardi, dan di balas Febry dengan tatapan matanya yang membesar.
Mereka seperti tak menghiraukan keberadaan Riko yang tengah memasang infus di tangan Febry.
"Feb, aku sudah izin ayah kamu buat nemenin kamu di sini, malah kata ayah kamu sekalian aja."
"Sekalian apa?"
"Sekalian di hallalin," ucap pak Ardi lalu terkekeh. Ia sengaja menggoda Febry di depan Riko. Ia ingin membuktikan, jika Riko hanyalah sekeping masa lalu bagi Febry.
"Nanti kalau jam visit aku selesai aku ke sini, Feb. Biar kamu gak kesepian juga."
"Gak usah, Rik. Aku udah di temenin pak Ardi," Febry mencoba bersikap biasa kepada Riko.
Pak Ardi yang mendengar jawaban Febry, menjadi salah tingkah. Kali ini ia merasa menang banyak atas gadis itu. Ia yakin jika Riko memang telah menjadi kenangan untuk Febry. Kenangan yang hanya bisa di kenang namun tidak untuk di ulang.
***
Ruangan terasa sepi. Hanya ada Febry di dalam ruangan. Pak Ardi memesankan kamar VIP untuk rawat inap, sehingga Febry bisa beristirahat tanpa merasa terganggu oleh pasien lain.
Gadis itu merasa sedikit takut, karena pak Ardi keluar untuk membeli makanan dan beberapa keperluan untuk mereka. Mendadak Febry terbayang jika di ruangan yang ia tempati saat ini mungkin saja pernah ada orang yang meninggal di sini, dan kasur yang ia tiduri juga bekas orang yang meninggal itu.
Bulu kuduk Febry berdiri, tiba-tiba ia merasa takut. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa. Bahkan untuk bangun saja, badannya serasa tak kuat. Dan sialnya, kali ini ia merasa sangat ingin ke toilet untuk buang air kecil.
Berkali-kali ia mengutuk dirinya sendiri jika ia sakit di waktu yang tidak tepat. Karena tak ada keluarga nya yang bisa menemani.
__ADS_1
Ia semakin tak tahan untuk ke toilet, perlahan Febry mencoba untuk bangun, tangannya berpegangan kuat pada sisi ranjang.
(Praaankkkkkk)
Suara mirip besi jatuh, berasal dari kamar mandi. Ia merasa ketakutan tapi tak bisa berbuat apa-apa. Keningnya terasa seperti berkeringat dingin. Ia terdiam di tempat, dan mencoba untuk berfikir positif namun gagal.
Terlihat pintu di buka, seseorang masuk ke dalam ruangan. Lelaki berjas putih itu kaget ketika melihat Febry yang kesulitan untuk bangun. Dengan sigap ia mendekat untuk membantu.
"Kamu mau ngapain?" Riko meraih tangan Febry, namun di tepis oleh gadis itu.
"Cuma mau ke toilet." Febry masih mencoba untuk bangun dengan susah payah, dan akhirnya ia berhasil untuk duduk.
"Sini aku bantuin."
"Gak usah, aku bisa sendiri."
"Feb, jangan liat aku sebagai Riko, tapi liat aku sebagai dokter kamu. Dokter yang ingin mengobati dan membantu pasien nya."
Febry terdiam sejenak, bukan karena ucapan Riko yang membuatnya tersentuh. Tetapi ia sudah tidak tahan lagi ingin buang air kecil di tambah ia merasa takut jika harus ke kamar mandi sendiri, setelah mendengar ada benda yang jatuh tadi.
Febry membuka kamar mandi, dan melihat lihat di lantai apakah ada benda yang terjatuh, namun hasilnya nihil. Lantas, suara benda jatuh tadi berasal dari mana? Batin Febry.
"Mau di temenin sampe dalam?"
"Engga lah," Febry melepaskan
pegangan tangannya, lelaki itu tampak tersenyum menatap Febry yang salah tingkah.
Setelah beberapa menit, Febry keluar dengan botol infus di tangannya. Ia tertegun di depan pintu, ia mengatur nafas dan mengumpulkan tenaga untuk melangkah.
"Kaki kamu masih sakit?"
Febry mengangguk pelan.
__ADS_1
Tanpa meminta persetujuan, Riko lantas menggendong Febry menuju ranjangnya.
Febry terkejut, namun tak punya tenaga untuk menolak. Ia pun pasrah di gendong Riko.
Dengan perlahan Riko meletakan tubuh Febry di atas ranjang. Tangan kiri yang menopang leher Febry tak segera ia tarik, membuat jarak mereka begitu dekat.
Ada sesuatu yang menghangat di dalam hati Febry ketika mencium aroma parfum yang menyeruak dari tubuh riko. Febry masih ingat. Jika itu adalah parfum kesukaannya, dan dahulu mereka selalu membeli merk dan aroma yang sama. Ternyata itu tak berubah hingga kini.
"Beri aku alasan yang masuk akal, alasan yang membuat mu tak mencintaiku lagi setelah sekian lama kita bersama," ucap Febry yang masih berpegang erat pada leher Riko.
"Aku tak pernah mengatakan, tak mencintaimu lagi, Feb. Bahkan hingga detik ini, cuma kamu, kamu yang aku mau." Riko menatap wajah Febry, namun gadis itu memalingkan wajahnya. Ia tak ingin Riko melihat air mata yang hampir menetes.
"Feb, tolong. Maafin aku, beri aku kesempatan lagi. Kali ini aku mau serius." Febry hanya diam, jarak wajah mereka saat ini sangat dekat.
Riko lantas meraih wajah Febry, dan mendaratkan kecupan hangat di bibir gadis yang saat ini bukan kekasihnya lagi. Febry tak menolak, ia bahkan seolah menikmati kecupan itu hingga beberapa detik.
Seperti dadar jika yang ia lakukan saat ini salah, Febry lantas mendorong tubuh Riko hingga lelaki itu Mundur beberapa langkah kebelakang.
"Maaf, Feb. Aku gak bermaksud."
Febry merasa malu, ia memalingkan wajahnya karena tak berani menatap Riko.
"Ehhh ada tamu." Pak Ardi datang dengan membawa kantong belanja yang terlihat full.
"Itu apa pak? Kok banyak banget." Febry mencoba menutupi rasa gugupnya.
"Aku beli buah, makanan sama ada beberapa barang buat kamu."
Pak Ardi mengeluarkan boneka beruang kecil dari kantong belanja, Febry tersenyum malu menerima pemberian pak Ardi.
"Makasih, pak. Maaf udah ngerepotin."
"Engga lah, sebagai calon suami, ini hal yang wajar," ucap pak Ardi sembari melirik ke arah Riko.
__ADS_1
Reflek Febry melempar boneka kecil itu hingga mengenai perut pak Ardi. Lelaki itu tertawa gemas melihat Febry yang salah tingkah.
Riko yang berdiri di sisi ranjang merasa cemburu dengan perhatian yang di berikan pak Ardi, ia sadar. Jika perasaan pak Ardi tak sebatas bawahan dan atasan, tetapi lelaki itu menyukai Febry, mantan kekasihnya. Mantan kekasih yang masih sangat ia cintai.