Teror Penunggu Pabrik

Teror Penunggu Pabrik
Bagian 38


__ADS_3

Mobil telah beranjak meninggalkan rumah, kali ini situasi terasa canggung. Febry lebih memilih diam, sementara pak Ardi sesekali memperhatikan gadis yang duduk di sampingnya itu dengan berjuta tanya yang terus berputar di kepala.


"Di sana nanti nginap di mana, Feb?" Pak Ardi mencoba memecah keheningan, karena sekian menit berlalu, gadis itu hanya diam sembari menatap pemandangan dari jendela mobil di sisi kirinya.


"Di rumah mendiang kakek, nenek, pak."


"Owhh."


Suasana kembali hening, Febry lebih memilih menatap riuh nya jalanan.


"Feb."


"Hemm." gumam Febry, tanpa menatap ke lawan bicaranya.


"Jujur, aku merasa aneh sama situasi kaya gini."


Febry menoleh, menatap lelaki di sampingnya itu, dalam. Tampak hidung mbangir dan lesung pipinya membuat hati Febry kembali berdesir.


"Situasi?"


"Iya, situasi kita saat ini?"


Jantung Febry berdebar, ia menantikan kalimat yang akan meluncur detik selanjutnya.


"Situasi apa?" Febry penasaran.


"Situasi kamu gak banyak ngomong, diem aja dari tadi."


"Huft." Febry menghela nafas panjang, lalu kembali membuang pandangan ke sisi jalan. entah laki-laki seperti apa yang duduk di sampingnya saat ini, benar-benar memiliki tingkat ke peka an yang sangat rendah, batin Febry.


"Feb. Ngomongo to. Marah-marah y Ndak papa."


"Lagi males, pak!"


"Kalau aku ada salah, aku minta maaf. Tapi jujur, aku tu nggak bisa kalau di suruh bujuk-bujuk orang yang lagi marah."


"Pak Ardi gak salah, hanya aku yang ber ekpektasi tinggi tentang hubungan kita," ucap Febry dalam hati, y semua ini hanya bisa ia ungkapkan dalam hati. Karena Febry terlalu gengsi untuk mengatakan yang sejujur nya.


Mobil yang di kemudikan ayah dan pak ardi telah memasuki halaman parkir. Setelah memarkir mobil, pak Ardi lantas membantu Febry untuk menurunkan koper.


Gadis itu hanya tersenyum tipis, saat pak Ardi menyerahkan koper. lalu tanpa berbasa basi Febry menghampiri kedua orang tuanya.


"Tunggu, kak. Bestie aku bentar lagi sampe," ucap Ryan ketika Febry dan pak Ardi mendekat.


"Bestie?"

__ADS_1


"Yoiiiii, besti dong." Ryan terkekeh sembari melirik ke arah sang mamah yang hanya geleng-geleng.


"Nah, itu dia." Ryan menunjuk sosok laki-laki yang berjalan ke arah mereka. Sontak, mereka semua reflek menatap arah sang lelaki yang melambaikan tangan.


"Kak, Riko!"


"Udah dari tadi?"


"Baru juga sampai," jawab ayah.


"Maaf ya, Rik. Jadi bikin kamu repot-repot nyempetin datang ke sini." Ibu ikut bersuara.


"Eh engga, mah. Sekalian mau ke rumah sakit. Jadi di sempatin mampir. Nih, yan." Riko menyerahkan sebuah tas belanja. Tampak beberapa bungkus Snack yang menyembul.


"Makasih, kak. Tau aja nanti aku lapar. Tapi ini buat aku kan? Bukan buat kak Febry?"


"Iya..iya.."


"Tuh ka, dengerin. Kakak beli sendiri. Awas minta punya aku."


"Huh dasar, bocil. Jitak juga nih."


Tanpa sengaja pandangan pak Ardi dan Riko bertemu. Ada senyuman canggung di antara keduanya yang berusaha mereka tutupi.


Setelah berbasa-basi sebentar, Febry dan keluarga lantas berpamitan. begitu juga dengan pak Ardi dan Riko yang lantas ikut beranjak.


Tempat tinggal ayah Febry berada di sebuah desa yang cukup jauh dari kota. Untuk menuju kesana, mereka harus melewati jalanan utama selama tujuh jam perjalanan. Namun tak sampai hanya di situ, mereka kembali harus melewati jalanan yang membelah hutan selama kurang lebih satu jam.


Tak banyak mobil atau kendaraan yang lalu lalang. Karena memang kampung halaman sang ayah berada di pelosok.


Biasanya, mobil angkutan tujuan desa sang ayah m, memiliki jadwal atau jam keberangkatan tertentu. Para supir angkutan hanya melayani keberangkatan pukul delapan pagi dan pukul tiga sore. Mereka menghindari melewati jalanan hutan di malam hari.


Selain karena wilayah yang masih hutan dan rawan binatang buas, juga karena cerita yang sudah turun temurun di kalangan para supir. Konon dahulu ada seorang supir angkutan yang mengantarkan penumpang tujuan desa di tengah hutan. Namun supir itu tak pernah kembali lagi.


Banyak yang mengatakan jika si supir telah di bawa ke alam para lelembut. Namun ada pula yang mengatakan jika si supir di begal lalu di bunuh dan jenazahnya di buang entah kemana.


****


"Yah, desa nya masih lama ya?" Keluh Ryan yang sudah mulai kelelehan karena terlalu lama di jalan.


"Sebentar lagi sampe, sayang." jawab sang ibu, mencoba menenangkan Ryan.


Sementara Febry, ia sibuk menatap jalanan. Sejak turun dari bis lalu berpindah ke mobil angkutan desa, ia tak banyak bicara dan protes seperti Ryan. Ini kali pertama nya ia datang ke kampung sang ayah.


Sepanjang perjalanan, netranya sibuk menjelajah, menatap deretan pohon-pohon besar yang mereka lewati.

__ADS_1


Ada perasaan tak nyaman yang menyelusup di hatinya, namun ia berusaha menepis perasaan itu.


Mobil semakin masuk ke dalam hutan, yang tadinya masih terdapat satu dua rumah, kini benar-benar hanya pepohonan besar tinggi menjulang yang tampak.


Mobil angkutan desa pun berjalan perlahan, karena jalanan sudah tak sebagus saat di awal. Tampak sebuah gapura besar yang menandakan jika sebentar lagi mereka akan sampai di tujuan.


Febry menatap layar ponselnya, namun ia sedikit kecewa karena ternyata wilayah itu minim jaringan internet. Bisa ia bayangkan, betapa suramnya satu Minggu kedepan tanpa tau dunia luar dan hanya berteman dengan suara jangkrik.


"Huftt." Gadis itu menghela nafas panjang, lalu kembali menatap jalanan yang sepi. Mobil yang mereka tumpangi melewati seorang nenek tua yang tampak berjalan pelan sembari memikul kayu di pundaknya.


Ada perasaan kasian ketika Febry tanpa sengaja melihat nenek itu, namun ketika ia mencoba melihat sang nenek untuk kedua kali, disitulah hal aneh terjadi. Nenek tua itu bahkan tak tampak di sisi jalan.


Febry yang bingung terlihat celingukan. Hal itu membuat sang adik menjadi penasaran.


"Kenapa, kak? Kok tolah toleh?"


tegur sang adik yang duduk di sampingnya.


"Anu, tadi kamu liat nenek yang bawa kayu gak?"


"Nenek? Nenek mana? perasaan gak ada orang dari tadi." Ryan ikut menoleh kesana kemari, mencari sosok nenek yang Febry maksud.


Febry yakin, jika ia tadi melihat seorang nenek yang berjalan perlahan karena membawa tumpukan kayu di pundaknya. Kayu itu ia gendong menggunakan selembar kain selendang.


Namun anehnya, Ryan yang juga sama-sama sedang menatap jalanan justru tak melihat sosok yang Febry maksud.


****


Mobil angkutan memasuki sebuah pekarangan rumah. Ketika mobil telah benar-benar berhenti, perlahan Febry keluar dari dalam mobil angkutan di susul oleh yang lainnya.


Tubuhnya terasa lelah, karena ini kali pertamanya ia melakukan perjalanan jauh. Ia memperhatikan sekitar, pemenangan yang baru kali ini benar-benar ia tamui.


Jarak satu rumah dengan lainnya cukup jauh. Dan rata-rata rumah penduduk terbuat dari anyaman bambu dan beratap daun Nipah yang telah berwarna coklat.


Namun tidak dengan rumah mendiang sang kakek. Kakek nenek Febry tergolong keluarga yang cukup berpunya di desa. itu bisa terlihat dari bangunan rumah yang begitu kontras dengan rumah penduduk lainnya.


Rumah itu cukup besar, berdinding tembok dan pintu serta jendela yang terbuat dari pohon jati, lengkap dengan ukiran di sisi-sisi nya. Halaman pun cukup luas. Rumah itu telah terlalu lama kosong, selama ini hanya seorang tetangga sekitar yang di percaya untuk membersihkan rumah satu Minggu sekali dan memangkas rumput jika meninggi.


Warna bangunan rumah tampak memudar, sebuah pohon sawo besar yang berada di sisi rumah, seakan memberikan kesan angker untuk rumah bercat putih itu.


Terdapat kolam ikan berukuran kecil di sisi kiri halaman rumah, hanya beberapa meter dari pohon sawo. Namun kolam itu kosong dan hanya menyisakan kerak berwarna hijau kehitaman di pinggiran kolam. menandakan rumah ini telah terlalu lama di tinggalkan dan kurang ter urus.


Sedikit ragu, Febry mengekor di belakang ayah dan ibunya untuk beranjak masuk ke dalam rumah.


Cekrekkkkk

__ADS_1


Pintu rumah dibuka, ayah menarik ganggang pintu ke arah dalam, seketika Febry merasakan hawa aneh seakan berputar-putar di sekitar tubuhnya.


__ADS_2