
Setelah dua hari libur bekerja, hari ini Febry memutuskan untuk hadir. Meski jahitan di tangannya masih belum kering dan kakinya masih sakit, tapi ia nekat bekerja karena tak nyaman jika harus berlama lama izin.
"Selamat pagi semua," sapa Febry dengan langkah tertatih menuju ke meja kerjanya.
"Loh kok udah masuk, beb? Kenapa gak terus aja sampai hari Minggu, Senin baru masuk, jadi udah benar-benar fit," ucap Hesty yang khawatir dengan keadaan sahabat nya.
Febry hanya tersenyum sembari menghidupkan layar komputernya.
"Hiiih, ini pasti pak Ardi kan yang nyuruh Febry masuk? Punya bos kok tega bener." Hesty menatap sinis ke arah pak Ardi.
"Opo o, aku lho udah nyuruh dia libur, tapi dia ngeyel mau kerja. Katanya g bisa lama-lama gak liat aku," celoteh pak Ardi, menggoda Febry.
Febry hanya tersenyum, ia sudah bertekad dalam hati untuk menjaga jarak. Ia tak ingin tinggal dalam sebuah hubungan tanpa kejelasan. Baginya, ia baru saja sembuh dari luka yang di ciptakan Riko, dan sekarang ia tak ingin terluka kembali Karena sikap pak Ardi yang tak jelas.
Jam makan siang telah tiba, Febry memilih membawa bekal karena kakinya yang terasa sakit jika harus pergi ke kantin. Hanya ia seorang diri yang berada di ruangan, namun tak lama pak Ardi datang.
"Kamu udah beneran sehat?"
"Iya."
"Nanti pulang mau aku antar?"
"Ayah udah janji jemput."
"Aku siap kok buat antar jemput, Feb."
__ADS_1
Febry hanya tersenyum tipis, baginya, ucapa pak Ardi hanyalah bulan para buaya yang sedang mencari mangsa. Dan bodohnya ia kemarin hampir termakan bualannya.
Suasana menjadi hening, pak Ardi terlihat sibuk dengan ponselnya, sedangkan Febry terlihat asik memainkan game di ponsel.
Sebuah panggilan telepon masuk, dari nomor tak di kenal. Ia lantas mengangkat panggilan tersebut.
"Assalamualaikum," ucap Febry terlebih dahulu, karena si penelpon belum bersuara.
Pak Ardi yang tadi sibuk dengan ponselnya, mendadak penasaran, Febry sedang di telpon oleh siapa. Diam-diam dia mencoba menguping dari meja kerjanya, sembari pura-pura sibuk menatap layar komputer.
"Hallo," ucap Febry lagi.
"Waalaikumsallam, Febry!"
Sesaat hening, seolah Febry menyadari siapa yang sedang menelponnya. Suara yang begitu familiar, suara yang setengah mati ia lupakan. Tanpa bicara lagi, Febry lantas mematikan panggilan teleponnya.
"Siapa nelpon, Feb?" Pak ardi mencoba mencari tau, tetapi sebenarnya ia sudah bisa menebak jika yang baru saja menelpon ada lah lelaki dari masa lalu Febry, yang bernama rico.
"Gak tau, mungkin salah sambung."
"Ganti nomor aja, Feb. Biar gak di ganggu terus."
Febry memilih diam tak merespon uacapan. Pak ardi, ia sibuk berjibaku dengan pikirannya. Ada banyak pertanyaan yang muncul di benaknya. Jika benar itu Riko, untuk apa riko menghubungi nya kembali. Bukan kah satu tahun berpisah itu waktu yang sudah sangat cukup untuk dia mencari wanita lain, wanita yang membuatnya bahagia bukan membuatnya bosan, batin Febry.
Sementara pak Ardi, sesekali mencuri pandang ke arah Febry. Tampak gadis itu terlihat pucat dan seperti tengah memikirkan sesuatu.
__ADS_1
"Feb, Sabtu aku ndek omah mu ya."
"Jangan, kami mau pergi."
"Kemana?"
"Ada deh."
"Oo arek iki, aku mau minta risol ibu mu. Minggu y kalau gitu?"
"Kami belum datang," jawab Febry berbohong. Ia benar-benar merasa lelah dengan sikap pak Ardi. Ia tak ingin semakin jauh di permainkan dalam hubungan tanpa status ini.
Terlebih jika harus melibatkan kedua orang tuanya. Ya, ayah dan ibunya sudah berfikir jika mereka ada hubungan spesial dan seolah memberi restu. Namun kenyataannya Febry hanya menjadi layangan yang di tarik ulur oleh pak Ardi.
Febry tak ingin kedua orang tuanya kecewa kembali, seperti dahulu ketika mereka mengetahui jika Febry dan Riko memilih berpisah.
****
Jam kerja telah usai, hanya tertinggal Febry dan pak Ardi. Lelaki itu menghampiri Febry dan berniat membantu membawakan sebagian barang milik febry.
"Sini tas kamu biar ga bawakan, kita bareng-bareng keluarnya."
"Gak papa pak, ini bisa kok," tolak Febry, lalu memilih berjalan meninggalkan pak Ardi.
"Kamu kenapa? Kok kaya beda hari ini."
__ADS_1
Lagi-lagi Febry hanya tersenyum, ia seolah tak menghiraukan ucapan pak Ardi. Namun lelaki itu tetap memilih mengekor di belakang Febry.
Ayah sudah menunggu di lobby, tanpa berpamitan Febry langsung masuk ke dalam mobil dan meninggalkan pak Ardi yang bertanya-tanya dalam hatinya. Mungkin kah Febry berubah karena hadirnya lelaki bernama Riko? Kenapa, kenapa hatinya merasa panas membayangkan mereka kembali merajut kasih.