
"Pak Ardi kenapa kesini malam-malam?"
"Oh, tadi..tadi anu, aku nyari makan di luar dekat sini, jadi sekalian mampir?"
Sebaris senyum tersungging di wajah Febry, ia yakin. Jika lelaki di depannya ini sebenarnya tak tega dengannya yang harus seorang diri di rumah sakit.
"Sudah dapat makannya?"
"Belum, ehh sudah. Ibu Sama Ryan pulang?" Pak Ardi memperhatikan sekitar, mencari keberadaan ibu dan adik febry yang tak terlihat.
"Iya, besok Ryan sekolah, jadi biar istirahat di rumah."
"Kalau kamu mau cuti besok, g papa. Nanti biar aku urus."
"Makasih y, pak."
Lelaki itu hanya mengangguk, lalu menyerahkan sebuah kantong belanja yang berisi makan dan beberapa cemilan.
"G usah repot-repot, pak. Tapi makasih ya. Tau aja belum makan."
"Oooo arek iki."
"Pak Ardi mau langsung pulang?"
"Engga, aku temenin di sini dulu."
Febry menunduk, menatap lantai rumah sakit dengan tatapan hampa. Ada perasaan sesak yang sudah tak mampu ia bendung lagi. Perlahan, pak Ardi menarik tubuh Febry, membiarkan Febry membenamkan wajah cantiknya yang telah basah dengan air mata, bersandar pada dadanya yang bidang. Ia tau, jika gadis yang ia cintai saat ini tidak dalam keadaan baik-baik saja.
***
"Dokter ada bilang, ayah kamu sakit apa?"
"Kata dokter semua baik dok, tadi sudah cek organ vital juga. Kemungkinan besok hasilnya keluar."
"Lah terus kamu tidur di luar sini?"
"Lebih nyaman di luar sini, pak. Di dalam ngeliat ayah kaya gitu, gak karuan rasanya."
Pak Ardi mengelus punggung Febry, mencoba menguatkan gadis yang tengah duduk di sampingnya itu sembari menyantap makanan yang ia bawakan.
__ADS_1
"Pak, pak Ardi percaya santet?"
"Santet? Kenapa?"
"Mau di bilang percaya, aku gak percaya zaman sudah modern gini. Tapi di bilang gak percaya, kok feeling aku kesana."
"Memange kamu ngerasa apa?"
"Beberapa Minggu sebelum ayah sakit, Ibu ada cerita, kalau pas Ryan main bola di halaman. Dia nemuin bungkusan kain kecil warna putih, isinya itu jarum sama rambut."
"Terus?"
"Sama Ryan di kasihkan ke ibu, terus sama ibu di bakar. Tapi mbuh lah, semakin di pikirin semakin bingung."
"Y sudah sekarang kita berdoa saja, semoga ayah kamu lekas pulih. Kamu mu kesehatannya di jaga, jangan sampe ikutan tepar."
Pak Ardi lantas melepaskan jaket Boomber hitam yang ia kenakan, lalu memasangkannya pada punggung Febry. Gadis itu tampak canggung dan salah tingkah.
"Maaf y malam ini aku gak bisa nemenin lama. Soalnya ada kerjaan yang harus aku kerjakan malam ini."
"Iya gak papa, pak. Ngomong-ngomong ini jaketnya wangi bener. Bapak semprot parfum berapa botol?" Febry mencium bagian tangan jeket. Aroma parfum yang begitu wangi tetapi terasa lembut, menusuk hidungnya.
"Yo wess aku balik dulu. Kalau ngantuk tidur di dalam aja, jangan di luar sini. Nanti di gondol demit kamu." Pak Ardi menunjuk ruang jenazah yang tak jauh dari mereka berdiri saat ini dengan wajahnya.
****
Febry tengah seorang diri di depan ruangan ICU. Sesekali ia masuk ke dalam untuk melihat keadaan sang ayah, namun tak ada perubahan. Ayah nya masih terpejam tak sadarkan diri.
Seorang dokter dan perawat tampak berjalan tergesa lalu masuk ke dalam ruangan tempat ayah Febry di rawat. Febry terdiam, mungkin mereka ingin memeriksa pasien yang satu ruangan dengan ayah, batin Febry.
Namun, tak berselang lama, terdengar teriakan histeris dari dalam ruangan. Febry lantas bergegas masuk untuk melihat keadaan.
"Bu, jangan tinggalin bapak sendiri. Bapak nanti sama siapa?"lelaki yang duduk di samping ranjang rumah sakit itu terdengar sesenggukan menangis.
Tampak perawat wanita mencoba menenangkan si bapak yang begitu kehilangan sang istri.
Febry yang baru kali pertama ini melihat kematian di depan matanya terasa lunglai, ia memilih keluar ruangan dengan perasaan campur aduk. Ada perasaan takut karena yang meninggal satu ruangan dengan sang ayah.
Febry mencoba menenangkan pikirannya, ia lantas berjalan menuju kantin rumah sakit untuk membeli air mineral.
__ADS_1
Ia memilih jalan memutar agar tak melewati lorong yang berada di depan ruang jenazah. Suasana rumah sakit nampak hening, namun ada beberapa keluarga pasien yang terlihat tertidur di depan kursi ruangan-ruangan rawat inap.
Netra Febry menjelajah kesana kemari memperhatikan sekitar, ada perasaan takut yang menjalar di tubuhnya. Ia melintasi sebuah ruangan dengan lampu teras yang terlihat redup sehingga membuat suasana begitu mencekam.
Ia mempercepat langkahnya, hampir saja Febry berteriak karena kaget, ketika melihat seseorang yang terlihat berumur dengan pakaian daster tampak duduk di depan kursi panjang di depan sebuah ruangan. Wajah wanita itu tampak pucat, ia menatap Febry yang melintas di depannya. Merasa sedari tadi di perhatikan, membuat Febry salah tingkah.
Febry yang kini benar-benar melintas tepat di depan sang ibu, reflek menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. Namun wanita itu tak merespon. Hanya menatap Febry tanpa ekspresi apapun. Febry mempercepat langkahnya, setelah beberapa meter ia memberanikan diri menatap ke belakang. Namun ibu itu sudah tak terlihat.
Febry celingkukan kebingungan, karena ibu itu benar-benar seperti di telan bumi. Bahkan jika seandainya ia berjalan harusnya bunyi langkah kaki nya terdengar. Seolah menyadari sesuatu, Febry berlari ketakutan. Ia yakin jika ibu tadi bukan lah keluarga pasien yang tengah menunggu sodaranya yang sakit, melainkan mahkluk tak kasat mata.
Febry berlari tak karuan, sesekali ia melihat ke arah belakang, bulu kuduknya meremang hebat.
(Brukkkkkkk) Febry tertabrak tubuh seseorang yang mendadak keluar dari ruangan, ia jatuh terduduk. Dengan cepat seseorang yang bertabrakan dengannya itu membatu Febry berdiri.
"Febry?"
"Riko?"
"Kamu kenapa malam-malam di sini? Siapa yang sakit?"
"Ayah, Rik."
Lelaki di depannya itu tampak kaget, ia tak tahu sama sekali jika ayah Febry tengah di rawat di rumah sakit tempat ia bekerja.
"Ayah kamu di ruangan mana? Kapan masuk?"
"ICU."
Riko terdiam, ia menahan diri untuk kembali bertanya, ia baru menyadari, jika gadis di depannya itu pasti tengah bersedih.
"Kamu kenapa lari-lari?"
"Ah, engga, tadi takut aja." Febry menyunggingkan senyumannya. Ia tampak malu di depan Riko. Lelaki itu mengacak pucuk kepala Febry gemas.
"Kamu jaga malam ini?"
"Iya, aku baru datang, tadi ada urusan jadi agak telat."
"OWwhhh, y udah aku mau ke kantin dulu nyari minum."
__ADS_1
"Aku temenin ya, sekalian aku mau visit ke ruangan ayah kamu."
Febry mengangguk, ia mencoba mengesampingkan ego nya. Bukan karena ayah, tapi karena ia takut jika harus melewati lorong tadi seorang diri. Ia masih terbayang, betapa dinginnya tatapan ibu tua tadi. Febry lantas mengelus tengkuknya yang masih meremang.