
Sore itu hujan turun dengan derasnya. Febry baru saja selesai melakukan stok opname bulanan sisa barang produksi, harus menunggu sampai hujan teduh, agar bisa kembali ke kantor. Karena letak gudang yang cukup jauh dan berada di belakang pabrik membuat Febry mau tak mau harus berjalan melewati sisi pabrik, ia teringat kejadian beberapa waktu lalu saat ia harus ke ruang produksi dan melewati lorong yang membuat ia merasa trauma jika harus kembali masuk ke ruang produksi melewati lorong karyawan.
Ia berkali-kali membuang nafas, diliriknya jam disalah satu pergelangan tangannya yang sudah menunjukan pukul 16.00. Artinya satu jam lagi jam kerja akan selesai, dan jika ia belum menyelesaikan pekerjaannya maka mau tak mau ia harus siap lembur.
Febry mulai gelisah, ia takut jika harus bekerja sendirian. Membayangkan bekerja sendiri ditengah suasana senyap karena hujan pasti akan semakin horor. Ia menggigit bibir bawahnya, kemudian menghampiri Lisa yang berada di mejanya untuk meminjam payung atau apapun yang bisa melindunginya dari hujan.
"Lis, Kamu ada payung gak?"
"Gak ada, Feb. Kemarin dipinjam anak teknik, gak dibalikin sampe sekarang."
"Kerdus atau apa gitu ada?" Febry mengamati sekitar, mencari benda yang ia maksud.
"Gak ada juga, eh. Ada karung."
"Ya elah, karung? Dikira rongsokan ntar." Febry tertawa kecil, lalu kembali melangkah ke depan pintu gudang.
Hujan benar-benar deras, seperti air yang di tumpah ruah dari langit. Rasanya tidak mungkin untuk nekat berlari tanpa pelindung, sudah pasti ia akan basah kuyup.
Febry menyipitkan matanya, melihat ke arah lelaki yang berjalan di bawah guyuran hujan sedang menuju ke arahnya. Ia memastikan apa yang ia lihat itu bukanlah ilusi.
"Pak Ardi?" ucapnya lirih.
Lelaki yang baru saja sampai di halaman gudang itu melipat payungnya, kemudian menghampiri Febry yang tengah memeluk buku agenda kerjanya dengan ekspresi melongo.
"Kenpa kamu, Feb? Terpesona?" Pak Ardi mengibaskan jemarinya di depan wajah Febry.
"Iya terpesona, terpesona sama itu payung cantik bener warnanya pink," ledek Febry.
"Kira liat orangnya tadi. Lisa mana? Aku mau minta laporan dia."
"Ada tuh di dalam." Febry menujuk ke arah Lisa yang terlihat sibuk di depan layar komputernya.
Pak Ardi meninggalkan Febry, tak berselang lama ia kembali menghampiri Febry yang masih mematung di depan pintu.
"Kamu mau balik gak?"
__ADS_1
"Mau, tapi kan masih hujan."
"Yo wess, ayo bareng," tawar Pak Ardi.
"Kan payungnya cuma satu, Pak."
"Y kan bisa berdua."
Febry tampak ragu, tetapi hujan masih belum menunjukan tanda akan segera berhenti. Dengan perasaan tak enak Febry meng iyakan ajakan Pak Ardi, karena hanya itu satu-satunya solusi yang ada saat ini.
Mereka berdua kemudian berjalan di bawah guyuran hujan dengan satu payung berdua. Hawa dingin menyelusup hingga ke tulang. Suasana terlihat lenggang, hanya terdengar suara mesin dan air hujan yang menimpa payung mereka.
"Celana kamu, di naikin dikit biar gak basah."
Pak Ardi membetulkan posisi ganggang payung, lalu memegangnya erat.
"I-iya," jawab Febry terbata. Ia memang tak memiliki perasaan apapun dengan atasan yang sering membuatnya jengkel itu, tetapi terkadang ia juga tak mengerti kenapa ada yang berdebar di dalam sini, terlebih saat Pak Ardi menunjukan sisi baiknya.
Mereka berjalan melewati bangunan karyawan yang berada di sisi jalan. Di situ terdapat loker yang menjorok ke arah dalam. Suasana tampak sepi dan senyap. Ditambah rimbunnya tanaman bambu yang menjulang tinggi tepat di belakang loker menambah kesan angker.
"Allahu Akbar," pekik Febry kaget, ketika menyadari sosok yang ia lihat itu bukanlah manusia.
"Kenapa, Feb?" Pak Ardi yang berada tepat di sampingnya kaget, ia melihat ke arah Febry. Gadis itu tampak pucat dan tubuhnya gemetar.
Ditengah guyuran hujan Pak Ardi menghentikan langkah, Febry pun demikian. Tubuh gadis itu masih gemetar. Pak Ardi menepuk-nepuk bahu Febry, berharap Febry segera sadar. Tetapi Febry hanya terdiam dengan raut wajah ketakutan.
Sadar sesuatu sedang menimpa Febry, Pak Ardi tak tinggal diam. Ia meraih jemari Febry yang terasa dingin, lalu menariknya dengan paksa agar gadis itu segera berjalan mengikutinya.
Payung yang tadi Pak Ardi genggam telah jatuh terlepas, ia panik. Takut sesuatu menimpa Febry. Ia mempercepat langkahnya, dibawah guyuran hujan tubuh mereka basah kuyup. Tak ada respon apapun dari Febry, ia hanya diam saat Pak Ardi menarik jemarinya.
"Pak Dwi... Pak Dwi, Pak Dwi, mana?" panggil Pak Ardi yang baru saja masuk ke dalam kantor dengan tubuh basah kuyup. Lelaki itu melepaskan genggaman tangan yang sedari tadi ia pegang erat. Pak Dwi yang merasa penasaran karena namanya dipanggil-panggil kemudian menghampiri Pak Ardi. Diikuti staf lain yang ikut penasaran.
Ruangan mendadak heboh, bukan tanpa alasan Pak Ardi mencari Pak Dwi. Karena setiap ada kejadian kesurupan masal, Pak Dwi salah satu orang yang membantu karyawan agar kembali sadar.
"Kenapa ini, Pak?" Pak Dwi meraba tangan Febry yang terasa dingin. Tubuhnya masih diam dan tak merespon sekitarnya.
__ADS_1
"Tadi kami dari gudang belakang, lewat depan loker kok langsung gini," terang Pak Ardi.
Hesty dan salah satu staf perempuan menghampiri Febry yang tegeletak di atas kursi tamu kantor, mereka mencoba berkomunikasi dengan Febry namun nihil. Tak ada respon dari gadis berhijab itu.
Pak Dwi meraih cup air mineral di atas meja tamu, merobek tutupnya lalu membacakan doa dengan suara lirih. Air mineral itu lalu diserahkan pada Hesty. Gadis berkulit hitam manis itu perlahan meminumkannya pada Febry yang seolah seteng sadar
"Bismillahirahmannirahim," ucap Hesty.
Semua yang berada di situ tampak gugup, terlebih Pak Ardi. Lelaki itu panik, namun bersusah payah mencoba menyembunyikan perasaannya. Ia tidak ingin terlihat berlebihan di depan semua orang, meski sebenarnya jauh di dalam hati ia sangat ingin menggenggam erat jemari Febry seperti tadi.
Perlahan Febry tampak sadar, ia berkali kali mengedipkan matanya dengan pelan. Tubuhnya terasa lemas hingga Hesty harus membantunya untuk bersandar pada kursi.
"Kenapa?" tanya Febry, pelan.
"Alhmdulillah, Mba Febry, ini siapa?" Pak Dwi menunjuk ke arah Hesty yang berada tepat di sampingnya.
"Hesty," sahut Febry, lirih.
Semua yang berada di situ menarik nafas lega, Pak Ardi memberi isyarat pada mereka agar bubar dan kembali ke ruangan masing-masing. Hanya tersisa Pak Ardi, Pak Dwi dan Hesty di situ.
"Dingin, Hes," keluh Febry. Pak Ardi yang mendengar ucapan Febry, seketika pergi ke ruangannya. Lalu kembali lagi dengan langkah terburu sembari membawa jaket berwarna coklat miliknya. Ia menyerahkan jaket itu pada Hesty. Dengan cepat Hesty menutup tubuh Febry yang basah itu dengan jaket.
"Lebih baik Mbak Febry di antar pulang saja, Pak. Dan kalau di izinkan baiknya besok Mba Febry izin dulu biar istirahat di rumah," ucap Pak Dwi.
Pak Ardi sebenarnya bingung dengan maksud ucapan Pak Dwi, ia tak menanyakan alasannya kenapa. Tetapi jika itu yang terbaik. Pak Ardi akan mengiyakan nya.
"Ayo, Feb ta antar pulang."
"Nanti aja, Pak. Aku masih ada kerjaan," tolak Febry pelan.
"Heleh, wes to manut. Hes, tolong ambilin barang Febry ya, biar ta antar pulang dia."
Hesty mengangguk, lalu beranjak pergi menuju ruang administrasi. Sementara Febry masih tampak lemas dengan tubuh menggigil karena basah.
Berjuta pertanyaan seolah ingin pak Ardi katakan, perasaan takut dan khawatir bercampur jadi satu. Ia tak tega melihat Febry yang biasanya ceria kali ini terlihat begitu lemas tak berdaya.
__ADS_1