
Lampu studio telah di matikan, menandakan film segara di putar. Pak Ardi tampak santai sembari menyomot popcorn yang ada di tangan Febry.
"Kenapa tadi g beli dua, pak? Kan ribet jadi minta punya aku." Protes Febry.
"Aku gak terlalu suka pop corn, jadi nebeng punya kamu aja gak papa."
Febry hanya menggerutu kecil, bagaimana bisa mengaku tidak suka popcorn tetapi sedari tadi lelaki itu tak berhenti mengunyah, batinnya.
Film telah di putar, terdengar beberapa orang sesekali berteriak kecil karena terkejut dengan adegan-adegan di film horor.
"Pak... Pak Ardi...." Febry berbisik pelan
"Hemmm...Opo'oo, Feb?"
"Serius bener ah nontonnya."
Pak Ardi tak menghiraukan ucapkan Febry, ia terlihat begitu menikmati film. Tanpa sengaja mata Febry menatap ke arah depan sudut ruangan, samar terlihat seseorang mengenakan gaun putih dengan rambut terurai panjang menutupi wajah.
Febry merasa tak ada yang aneh, hingga beberapa detik kemudian ketika ia mengalihkan pandangan lalu kembali melihat ke sudut itu, seseorang itu telah hilang.
Febry terpenjat kaget, ia reflek menarik tangan pak Ardi hingga lelaki itu juga ikut terkejut karena sikap Febry.
"Kenapa, Feb?" Sedikit berbisik
"Paak...pak, tadi aku liat ada orang rambut panjang di situ, tapi kok sudah gak ada."
"Itu cuma imajinasi kamu aja, karena lagi liat film horror." Pak Ardi mencoba menghibur, tetapi tampaknya sia-sia, Febry semakin mengeratkan pegangan tangannya.
"Gak mungkin lah, pak. Aku serius."
"Feb, jangan cari-cari kesempatan ya, pegang-pegang tangan aku," goda pak Ardi.
"Ihhhhh... Pak Ardi ngawur." Febry reflek melepaskan pegangannya lalu menepuk bahu lelaki di sampingnya itu. Lelaki itu lantas tertawa pelan karena melihat tingkah Febry yang seolah salah tingkah.
Febry mengamati sekitar, ia ingin memastikan jika yang ia lihat sosok wanita berambut panjang itu masih ada atau sudah hilang.
"Pak, aku kok takut ya." Febry menarik ujung lengan baju pak Ardi.
"Y sudah, kalau takut sini pegangan."
"iihhh.... Dasar yaaa." lagi-lagi Febry menepuk bahu lelaki bermata sipit itu hingga ia merasa kesakitan.
__ADS_1
*****
"Aku pamit dulu ya, makasih sudah nemenin hari ini."
"Etssss... Siapa bilang ini gratis. Sebagai bayarannya besok laporan mingguan bantuin ngerjain y, Pak. Biar g banyak kerjaan."
"Boleh, tapi gajimu tak potong separo. Wess pamit dulu, Assalamualaikum."
"Huh dasar bos jahat, waalaikum sallam." Mobil pak Ardi lantas pergi berlalu meninggalkan Febry yang masih tanpa sadar melambai ke arah mobil itu.
"Cieeee ka febry." Goda adik Febry yang berdiri di depan pintu.
"Ciee apaan, dah sana bocil." Febry berlalu pergi sembari menyembunyikan rona merah di pipinya.
"Oom itu ganteng ka," celoteh Ryan lagi, sembari mengunyah martabak yang dibelikan pak Ardi. Febry tak menghiraukan ucapan adiknya, ia lantas masuk meninggalkan sang adik.
"Kalau ibu liat, sepertinya bos kamu itu naksir kamu, Feb." Ucap ibu yang duduk di ruang tamu bersama ayah. Langkah Febry terhenti, ia lantas ikut duduk dan mengambil sepotong martabak yang ada di atas meja tamu.
"Gak lah Bu, kami cuma sebatas atasan sama bawahan aja."
"Tapi dia sopan dan kelihatannya baik." Ayah menimpali
Hati Febry seolah menghangat, ketika ia tidak sengaja menyebut nama Riko, sosok lelaki yang pernah menghiasi hatinya selama 4 tahun. Bagi Febry, Rico adalah cinta pertama nya, yaa orang pertama yang justru menorohkan luka yang terdalam.
****
"Riko, kamu ngapain? Kenapa pesanku gak di balas?"
Deretan pesan dan panggilan telpon tak terjawab. Lelaki berkulit putih itu sengaja mengabaikan ponselnya yang terus berdering.
Riko Wicaksana, pria yang baru saja menamatkan dirinya dari sekolah kedokteran kini tengah merasa bimbang. Di lain sisi ia merasa masih mencintai kekasihnya, tetapi entah, ada perasaan jenuh yang perlahan menyelinap.
Ia sengaja mengabaikan pesan dan panggilan telpon dari Febry, bukan karena ada orang ketiga. Ia hanya ingin terlepas beberapa waktu dari sebuah ikatan yang bernama "pacaran".
"Hallo, ya,Feb." Kali ini Riko mencoba untuk memperjelas semuanya. Ia sadar bahwa tak benar jika membiarkan Febry menunggu terlalu lama.
"Kamu kenapa? Gak ada ngasih kabar sama sekali."
"Feb, aku mau bicara."
"Boleh, kita ketemu dimana?"
__ADS_1
"Di telpon aja cukup. Maaf sebelumnya, sudah membuat kamu khawatir, tapi..."
"Tapi apa?"
"Gak tau kenapa beberapa waktu ini aku merasa sedikit jenuh dengan hubungan kita. Aku ingin meminta jeda waktu untuk aku sendiri dan memikirkan bagaimana hubungan kita selanjutnya."
"Jadi, 4 tahun hubungan kita gak berarti apa-apa bagi kamu, Rik?"
"Bukan begitu, aku cuma merasa,"
"Sudah Rik, aku sudah tau arah pembicaraan kamu. Kalau kamu mau putus, harusnya kami bilang, jangan malah jadi pengecut kaya gini. Semakin kamu diam semakin kamu nyakitin aku." nada suara Febry bergetar, seolah menahan tangis.
"Aku cuma minta waktu, Feb."
"Baik, Aku beri kamu waktu buat mikir, mikir kalau kamu sudah sejauh apa nyakitin aku. Lebih baik kita putus aja Rik, percuma terus bersama kalau kenyataannya kamu udah gak ada rasa." Febry mematikan telponnya, tanpa mau mendengar jawaban Riko. Bagi Febry, semua suda jelas, jika selama 4 tahun ini, tak ada yang berarti bagi Riko.
Febry membenamkan wajahnya dalam bantal, ia ingin menangis sepuasnya. Baru satu bulan lalu ia mendampingi Riko wisuda, bahkan foto mereka berdua saat Riko mengenakan toga, terpajang manis di dinding kamar, dan hari ini, dengan mudahnya Riko ingin mengakhiri hubungan hanya karena alasan jenuh.
Febry masih ingat jelas, bagaimana dahulu saat kali pertama mereka bertemu, saat-saat mereka mulai dekat dan akhirnya Riko menyatakan cintanya pada Febry. Semua kenangan yang ia bangun selama empat tahun akhirnya hancur hanya dalam hitungan menit di telpon.
Seminggu pasca putus Febry mencoba melamar pekerjaan di salah satu perusahaan, dan akhirnya ia bertemu dengan sosok laki-laki bernama Arya Permana. Lelaki sedingin kulkas dua pintu, yang kini seolah mencair karena bertemu Febry.
*****
"Selamat pagi semua," ucap Febry yang baru saja datang. Karyawan lain terlihat sudah mulai bekerja di depan komputer masing-masing. Bahkan pak Ardi juga terlihat sibuk dengan panggilan-panggilan telponnya.
"Hess...hestyy..."
Si pemilik nama terlihat cuek, hanya menoleh sekilas lalu memilih melanjutkan kesibukannya.
"Hes, sibuk banget ya?"
"Feb, kacau. Kok bisa kamu ada salah input data banyak banget, kita selisih barang sampe 7 ton. Pak Ardi di telpon pusat karna barang sama laporan beda jauh."
"Hah, masa Hes? Laporan kapan?"
"Harusnya kalau kamu gak ngerti, kamu tanya aku. Jangan nekat input data sendiri, jadi pusingkan." Raut wajah hesty terlihat sewot.
Febry merasa bersalah, ia menatap ke arah pak Ardi yang terlihat serius bicara dengan seseorang di balik telepon. Tanpa sengaja mata mereka bertatap saling bertemu. Tetapi, dengan cepat Febry mengalihkan pandangan, ia merasa sangat bersalah kali ini. Bahkan, Hesty yang biasanya ramah dan sabar mengajari nya, hari ini terlihat seolah menahan perasaan kecewa.
"Pak..." Febry memanggil pak Ardi yang lewat di samping meja kerjanya. Lelaki itu hanya memberi isyarat dengan tangannya, jika ia tengah menelpon.
__ADS_1