Teror Penunggu Pabrik

Teror Penunggu Pabrik
Malam dengan pak ardi


__ADS_3

Febry telah terlelap, sementara pak Ardi masih berjibaku dengan pikirannya. Ia merebahkan diri di atas tempat tidur yang letak nya tak jauh dari ranjang pasien. Ia mencoba untuk ikut tertidur namun tak berhasil.


Ia lantas bangun, lalu menarik kursi dan duduk di samping ranjang Febry. Sesekali ia merapikan selimut dan selang infus yang menempel di tangan Febry. Dalam hening ia menatap lekat wajah Febry yang tengah tertidur pulas. Manis, batinnya.


Pelan-pelan ia membelai pipi gadis itu, ada perasaan hangat yang menjalar di hatinya. Ia sangat ingin memiliki gadis di depannya itu, namun ia takut. Takut jika ternyata cintanya hanya bertepuk sebelah tangan.


Terdengar suara pintu di buka, Riko yang melihat pak Ardi tengah membelai pipi Febry, merasa cemburu. Ia lantas menghampiri pak Ardi yang juga terkejut dengan kehadiran Riko secara tiba-tiba.


"Bapak ngapain?"


"Engga, aku cuma penasaran. Alasan bodoh apa yang membuat kamu dulu melepaskan wanita seperti Febry?"


"Maksud, bapak?"


"Maksud ku, kamu dulu terlalu bodoh sampai membuat Febry terluka. Sekarang saat dia sudah mulai membuka hati untuk orang lain, kamu mengganggu nya," ucap pak Ardi dengan nada tegas.


Riko terdiam, ucapan itu benar-benar menampar wajahnya. Ia seperti tak menemukan sedikit pun kalimat untuk membantah apa yang di katakan pak Ardi


Ia sadar, jika ucapan itu memang benar. Ia telah menyakiti Febry sedemikian dalam dan kini ia kembali seolah-olah tak terjadi apa-apa.


"Pak ardi?" Febry terbangun, ia terkejut melihat pak Ardi yang duduk di sisi ranjangnya, dan juga kehadiran Riko di dalam ruangan.


"Kenapa bangun? Udah istirahat lagi, ini baru jam sebelas malam." ucap pak Ardi sembari merapikan selimut yang tersingkap.


"Aku lapar sm haus, pak."


"Harusnya infus itu bukan di pasang di tangan, tapi harusnya mbok minum ben kenyang, Feb. Ini ada apel, tadi sudah ta potongin," ucap pak Ardi sembari menyuapkan buah pada febry.


Gadis itu membuka mulut dan mengunyahnya dengan lahap.


Ada perasaan sakit ketika melihat Febry yang mendapat begitu manis dari pak Ardi. Ia merasa berkecil hati jika melihat sosok pak Ardi yang menurutnya sangat baik dan wajahnya pun terbilang lumayan.


"Aku mau pamitan, besok aku jaga lagi dan akan mampir ke sini."


Febry pura-pura tak mendengar, ia bahkan tak menatap ke arah Riko. Ia memilih menikmati suasana demi suapan buah yang di berikan pak Ardi.


"Oke pak dokter, tenang. Aku jagain Febry."


Riko tersenyum, lalu berbalik dan meninggalkan ruangan dengan perasaan hampa.


"Bapak gak tidur?" Febry memperhatikan pak Ardi yang wajahnya terlihat sangat lelah.


"Istirahat pak, jangan sampe nanti aku keluar rumah sakit terus gantian bapak yang masuk rumah sakit."

__ADS_1


"Kalau aku masuk rumah sakit, berarti kamu gantian jagain?"


"Emoohhhh."


"Oooo arek iki, Yo wess nanti kalau kamu perlu apa-apa, panggil aja." Pak Ardi merapikan piring buah yang sudah kosong, lalu berjalan menuju tempat tidurnya.


Hanya hitungan menit, lelaki itu telah tertidur pulas. Sementara Febry justru tidak bisa tidur kembali.


Netra nya menatap langit-langit kamar. Ia teringat kejadian tadi, ketika Riko mengecup hangat bibirnya. Ia lantas mengutuk dirinya sendiri, karena membiarkan Riko melakukan itu.


Ia dan Riko sudah tak ada hubungan apa-apa, bahkan mereka sudah satu tahun berpisah.


Febry masih tak bisa tertidur, jam di dinding kamar telah menunjukan pukul satu pagi. Ia merasa ingin ke toilet namun ada perasaan takut. Untuk membangunkan pak Ardi ia juga tak tega.


Ruangan begitu hening, netranya menatap sudut-sudut ruangan, ada perasaan takut yang menjalar di hatinya. Tak sengaja ia menatap ke arah jendela, tampak kain gordennya sebagian tersingkap. Ia melihat seseorang bermata besar dan merah tengah menatap ke arah nya.


Seketika bulu kuduknya berdiri, ia menutup kedua matanya lalu membukanya perlahan dan melihat ke arah jendela. Mata besar merah menyala itu sudah tak ada. Irama jantung Febry berdegup kencang. Febry menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Ia terus menerka sosok apa yang ada di balik jendela tersebut.


Gadis itu berniat untuk bangun dan pergi ke toilet, tetapi tubuhnya seolah di tindih oleh sesuatu yang besar. Ia tak bisa bergerak bahkan untuk berteriak memanggil pak Ardi seolah suaranya tertahan di tenggorokan.


Ia hanya mampu melafadz kan doa-doa dan berharap pak Ardi terbangun untuk membantunya. Sekian menit berlalu, Febry tak bisa bergerak, keringat dingin menetes di pelipisnya.


"Feb...feb... Kamu kenapa?" Pak Ardi menyingkap selimut yang menutupi wajah Febry.


Gadis itu lantas menarik lengan pak Ardi hingga tubuh lelaki itu menjadi sangat dekat dengannya.


"Apa?" Pak Ardi berniat mengecek namun lengan nya kembali di tarik oleh Febry.


"Bapak sini aja, aku takut."


Pak Ardi menatap gadis itu, tampak bulir keringat di keningnya. Ia mengusap lembut kening itu dengan jemarinya.


"Yo wess, kamu istirahat lagi. Aku temenin di sini." Pak Ardi mencoba menenangkan.


"Tapi aku mau pipis, pak."


"Y udah, ayo ta bantu." Pak Ardi membantu Febry untuk bangun dan memapah nya hingga ke depan pintu kamar mandi.


"Pak, temenin sini ya, jangan kemana mana."


"Iyooo, wess Tah masuk o."


"Beneran ya."

__ADS_1


"iyooo, Feb."


"Tungguin bentar."


"Takon meneh, aku ikut masuk ke dalam nanti."


Febry lantas bergegas masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintu.


"Pak, masih di depan kan?"


"Hemmm."


"Pakkkk tungguin."


"Iyaaa sayangggg."


Beberapa saat kemudian, Febry keluar. Ia kembali menuju ranjang pasien dengan di bantu pak ardi. Dengan telaten pak Ardi membantunya naik ke ranjang dan memasangkan selimut.


"Pak."


"Iya."


"Pak Ardi, sini aja ya. Sampe aku tidur baru bapak boleh pindah." Febry melirik ke arah jendela, ia bergidik ngeri.


"Iya, tapi aku punya satu permintaan."


"Apa? Jangan macam-macam ya!"


"OOO arek iki. Memange aku mau minta opo?" pak Ardi menyentil pelan hidung Febry.


"Aku cuma minta, jangan panggil aku bapak kalau di luar, panggil mas aja. Aku merasa tua banget jadinya."


"Oh, cuma itu? Okee."


"Memang kamu pikir aku mau minta apa?"


"Engga, kira tadi mau potong gaji," kilah Febry. Padahal ia berharap pak Ardi memintanya untuk menjadi kekasihnya.


"Wess tidur o."


"Tungguin sini y."


"Iyaaaaa, gitu tadi siang nyuruh aku pulang. Sok-sok an mau sendirian. Tibak ne Yoo Wedi."

__ADS_1


"Jangan kemana-mana dulu ya, mas Ardi."


Febry terkekeh malu, ia lantas menutup kedua matanya dan mencoba untuk tidur. Sementara pak Ardi, duduk setia di sisi ranjang Febry sembari membiarkan jemarinya di genggam erat oleh gadis itu.


__ADS_2