Teror Penunggu Pabrik

Teror Penunggu Pabrik
Masa lalu


__ADS_3

Beberapa kali ponsel Febry berdering, nama pak Ardi terpampang di layar ponsel miliknya. Alih-alih mengangkat telepon ia justru mematikan ponselnya.


Ia lelah, lelah dengan sikap pak Ardi. Ia bimbang, apakah perhatian pak Ardi selama ini adalah tulus karna cinta atau hanya sebuah lelucon. Bila benar cinta, mengapa tak ada sekali pun lelaki itu mengutarakan perasaannya, Hanya bualan-bualan yang membuat Febry tersipu malu.


Kedua orang tua dan adik febry sedang pergi ke luar kota, hanya ada Febry seorang diri.


Ia merasa pusing dan badannya terasa hangat. Bahkan pagi tadi beberapa kali ia ke kamar mandi untuk muntah. Terdengar beberapa kali bel berbunyi. Dengan badan lemas dan kaki yang masih sakit, pelan-pelan Febry mengintip dari balik tirai jendela.


Tampak pak Ardi tengah berdiri di depan pintu. Sebenarnya Febry merasa enggan untuk membuka pintu, karena ia ingin istirahat. Tetapi karena merasa kasihan ia pun akhirnya menemui pak Ardi.


"Kok lama bener baru di bukakan pintu?"


Febry tersenyum, wajahnya tampak pucat dan sayu.


"Kamu sakit?" Pak Ardi meletakan tangannya di dahi Febry yang terasa hangat, namun segera di tepis oleh gadis itu.


"Yohhhh, panasee. Aku antar berobat y? Orang rumah mana kok sepi?"


"Pada pergi pak, Senin pagi mungkin baru datang," jawab Febry sembari menyandarkan badannya pada pintu.


"G bisa ini, ayo siap-siap, aku antar berobat aja. Kalau kamu nanti pingsan malah bahaya karna gak ada orang."


"Gak pak."


"Buruan ganti baju, apa mau aku yang gantikan. Ayo."


"Hissshhh, iyooo iyooo, bapak duduk dulu. Aku siap-siap." Febry lantas masuk ke dalam rumah, kali ini ia tak bisa membantah, karena ia memang merasa badannya sedang tidak baik-baik saja.


****

__ADS_1


Mereka tiba di sebuah rumah sakit swasta. Setelah mendaftar mereka menunggu antrian. Kali ini Febry benar-benar merasa lemas, hingga ia seakan tak sadar telah menyandarkan kepalanya pada bahu pak Ardi.


"Nona Febry Khairunisa."


Panggil seorang perawat, dan memberi aba-aba untuk masuk ke dalam ruangan dokter.


Dengan langkah kaki yang masih pincang Febry berjalan masuk ke dalam di ikuti pak Ardi di sampingnya, sembari memegang erat pundak Febry.


"Febry?" Sapa lelaki berjas putih yang tengah duduk di balik meja dokter.


Febry tertegun. Sesaat kemudian mata mereka bertemu. Febry baru menyadari jika sosok lelaki di depannya itu adalah lelaki yang pernah menemani hari-harinya.


"Keluhan kamu apa? Maaf mas ini siapanya?"


"Calon..,"


"Temen kantor, atasan aku." Potong Febry.


Sebaris senyum menghias di bibir lelaki berjas putih itu. Seolah kali ini ia menang akan sesuatu.


Dr. Rico Wicaksana


Sebuah name tag di atas meja, membuat jantung pak Ardi berdetak lebih cepat. Ia baru menyadari jika lelaki yang ada di depan mereka saat ini adalah laki-laki yang menelpon Febry dahulu. Laki-laki bergelar mantan kekasih dari gadis yang ia sukai.


***


"Kamu ada muntah?"


Febry mengangguk. Ia merasa berada di situasi yang sangat pelik. Rasanya ia ingin berbalik meninggalkan ruangan itu. Bagaimana mungkin ia bisa di obati olah lelaki yang justru memberi luka terdalam di hatinya.

__ADS_1


"Silahkan naik ke tempat tidur, biar saya periksa dulu." Rico lantas berdiri dan menggeser kursi miliknya, ia berniat ingin membantu febry, namun lelaki di sampingnya sudah terlebih dahulu melakukannya.


Febry berbaring di atas tempat tidur, ia berusaha mengatur nafas agar irama jantung yang saat ini berdebar kencang tak ketahuan oleh Rico.


Setelah menutup gorden periksa, Riko lantas meraih tangan Febry untuk melakukan pemeriksaan.


"Ini kenapa? Kamu kecelakaan?"


"Gak papa, udah periksa aja." Febry memalingkan wajah, ia tak ingin menatap lelaki itu terlalu lama, ia takut jika perasaan yang belum sepenuhnya hilang, kembali hadir.


"Kita tes darah ya? Aku curiganya tipes kamu kambuh."


Febry terdiam, ia masih memikirkan kalimat yang pas untuk menolak.


"Ayah sama ibu ada? Kenapa mereka gak nganterin"?


"Mereka ke luar kota, Senin pagi baru pulang."


"Kamu pucat banget, Feb. Tekanan darah kamu juga rendah. Kita tes darah aja, aku gak mau kenapa-kenapa."


Pak Ardi yang mendengar pembicaraan mereka seolah merasakan sesuatu yang menghimpit di dadanya, cemburu? Ya. Kali ini ia benar-benar merasa cemburu karena wanitanya bertemu dengan seseorang dari masa lalunya.


Lelaki bernama Riko itu menanyakan tentang orang tua Febry, sudah sejauh apa hubungan mereka dahulu? Apa kah Febry beberapa hari ini terlihat seperti menghindarinya karena sosok Riko?? Semua pernyataan itu seolah berputar putar di kepala pak Ardi.



Dr. Ricko wicaksana


__ADS_1


Febry kairunisa


__ADS_2