
Pagi ini cuaca terlihat cerah, cahaya matahari meringsek masuk melalui jendela yang tirainyasebagian telah di buka Ibu. Febry meraih ponsel yang tergeletak di sisi bantal, lalu mengamati satu persatu pesan yang masuk. Senyum tipis membingkai indah wajahnya saat melihat nama dari deretan pesan masuk dan panggilan telepon yang terabaikan.
Baru saja ia berniat untuk ke kamar mandi, ponsel yang ia genggam bergetar. Dengan perasaan sedikit malas ia menggeser ke kanan gambar berwarna hijau yang ada di layar ponsel.
"Assalamualaikum."
"Walaikumsallam. Apa, Pak?"
"Gimana? Kamu baik-baik aja kan?"
"Hemmmm," jawab Febry singkat.
"Oooo, arek iki. Ditanyain lho ya jawabannya gitu. Gak ngerti apa aku khawatir setengah mati," ucap Pak Ardi, yang kemudian menyesali ucapannya. Ia tak ingin Febry tau apa yang ia rasakan. Tapi di lain sisi ia tak bisa menyembunyikan rasa khawatir yang luar biasa. Terlebih saat deretan pesan yang ia kirim tak mendapat respon apapun dari gadis itu.
"Terus maunya dijawab apa?"
"Ya, yang manis dikit lah, ini judes banget."
"Ya udah besok ta tambahin gula," cletuk Febry. Tiba-tiba Ia merasa bersalah kerena telah berucap terlalu ketus dengan atasannya. Padahal Pak Ardi kemarin sudah berbaik hati mengantarkannya pulang.
Dan lebih bersyukur saat itu kedua orang tua nya sedang tidak ada di rumah. Sehingga ia bebas dari pertanyaan yang sebenarnya ia sendiri pun bingung harus bercerita apa. Ya, Febry memang tidak ingat apa yang ia alami kemarin. Yang masih terekam dalam memorinya ia dan pak Ardi ke gudang, lalu di antar pulang pak Ardi dan selebihnya tak ingat.
"Eh malah ngece. Yo wess, kamu istirahat aja ndek omah. Besok kalau sudah baikan baru masuk," oceh Pak Ardi dari ujung sana.
"Iyo bos Bawel. Assalamualaikum."
"Walaikumsallam."
Ada perasaan yang menghangat di dalam hati, ketika mengetahui jika gadis itu telah baik-baik saja.
***
Suasana kantor terasa sepi karena semua staf sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Hanya bunyi suara mesin dari pabrik dan suara mesin printer yang mendominasi di setiap ruangan.
Lelaki bermata sipit itu berkali-kali mengecek layar pipih miliknya. Membuka aplikasi berwarna hijau lalu kembali menaruhnya di atas meja. Pesan yang ia kirim satu jam yang lalu tak jua mendapat balasan. Ingin rasanya ia menyambar kunci mobil yang ada di nakas lalu bergegas menemui si penerima pesan. Ia hanya ingin memastikan, jika gadis itu dalam keadaan baik-baik saja. Tetapi niatnya kembali menciut saat menyadari ia bukan siapa-siapa dan nanti bagaimana jika gadis itu besar kepala, gumamnya dalam hati.
__ADS_1
"Hallo, beb. Gimana, udah baikan?" Hesty berbicara pada seseorang melalui telepon.
Pak Ardi sudah bisa menebak, siapa orang yang dipanggil "Beb" oleh Hesty itu. Dalam diam Pak Ardi menguping dari balik komputer. Mencoba mendengarkan apa yang sedang mereka bicarakan. Namun sialnya, Hesti seolah disadar jika ada yang menguping pembicaraannya.
Beb, kayanya di kantor ada yang kangen sama kamu," ucap Hesty sembari melirik ke arah Pak Ardi.
Pak Ardi salah tingkah, ia malu karena hal memalukan itu di ketahui oleh bawahannya. Mendadak ia sibuk menatap layar gelap komputer yang belum ia nyalakan.
Hesty lalu tertawa cekikikan mendengar jawaban dari lawan bicaranya. "Pak Ardi mau ngomong sama Febry, gak? Kalau enggak ta matikan teleponnya," goda Hesty, lagi.
"Ngawur kamu, seng genah ae, Hes," jawab Pak Ardi semakin salah tingkah.
Hesty mematikan telepon, ia kemudian melanjutkan kembali pekerjaannya. Sedangkan Pak Ardi yang sedari tadi gelisah, akhirnya bisa sedikit benapas lega saat mengetahui gadis yang tengah membuatnya rindu itu sedang dalam keadaan baik-baik saja.
***
"Selamat pagi semua," ucap Febry yang menyembul dari balik pintu.
"Pagi, beb. Udah kerja aja. Kira mau libur lagi hari ini."
"Engga, orang kerjaan kamu di ambil alih Pak bos kok." Hesty melirik ke arah Pak Ardi yang sedang menelpon seseorang.
Febry memperhatikan lelaki itu, lalu membuang wajah saat mata mereka bertemu. Febry tak mengerti apa yang ia rasakan, ia tak suka atasannya itu. Atasan yang sering membuatnya jengkel dan punya rasa percaya diri yang terlalu tinggi. Tetapi di lain sisi ada perasaan sepi saat ia tak bertemu dengan lelaki yang ia rasa mirip opa Korea, kang Hae null itu.
"Gimana, sudah enakan?" Pak Ardi yang sudah selesai menelepon, menghampiri meja Febry. Gadis itu hanya mengangguk, ia mencoba menyembunyikan degup jantungnya, sementara Pak Ardi berusaha menutupi rasa malunya karena begitu banyak mengirim pesan via WhatsApp.
***
"Hes, aku mau tanya. Jawab jujur ya," Febry berucap dengan raut wajah serius. Hanya ada mereka berdua di dalam ruangan, sedangkan Ryo dan Pak Ardi tengah berada di dalam pabrik.
"Soal apa dulu, nih." Hesty menelan ludah.
"Jawab jujur, kemarin pas hari hujan, aku sebenarnya kenapa ya? Kamu pasti tau kan?"
Hesty tampak ragu untuk bercerita, tetapi setelah dibujuk berulang kali akhirnya ia mau bercerita hal yang ia ketahui.
__ADS_1
"Jadi, ceritanya pas hari hujan itu, kamu kan mau balik ke kantor sama Pak Ardi berdua. Nah kamu itu liat penampakan atau lebih tepatnya dia itu mau nyerang kamu,beb."
"Maksudnya," tanya Febry, ia tak mengerti maksud ucapan Hesty.
"Aku gak tau kamu liat penampakannya dimana, yang jelas dia mau ganggu kamu. Dia mau masuk ke tubuh kamu, tapi ternyata di halangin sama mahkluk yang tinggal di pohon mangga dekat parkiran motor, makanya dia gak bisa."
"Kenapa dihalangi? Aku masih belum paham."
"Ya mungkin, mungkin nih, dia suka sama kamu. Suka dalam artian kamu baik, gak ganggu siapa-siapa jadi dia ngelindungin kamu."
"Terus, kemarin aku kenapa? Pingsan apa gimana?"
"Kaya ngeblank gitu."
"Hemmm." Febry mengangguk-angguk, ia terlihat tengah berfikir. "Terus?"
"Terus, Bos kamu khawatir luar biasa," goda Hesty, lalu ia tertawa lepas saat menyadari wajah sahabatnya merah merona.
Febry masih tidak terlalu memahami maksud dari ucapan Hesty. Karena selama ini ia memang tidak terlalu percaya dengan hal berbau mistis. Tetapi, semua berubah ketika ia mulai bekerja di sini.
***
Febry berada di dalam ruangan seorang diri, sementara Hesty tengah melaksakan ibadah sholat Dzuhur. Seseorang membuka pintu lalu masuk ke dalam ruangan Administrasi. Lelaki itu berjalan menuju meja Febry, dengan cepat ia meletakan kaleng susu bergambar naga di atas meja Febry, lalu kembali berjalan dengan santai ke arah meja kerja miliknya.
Gadis itu melepaskan headset yang menempel di telinga. ia mengamati siapa sosok itu, lalu terkejut saat menyadari siapa orang yang meletakan susu di atas mejanya.
"Apa ini, Pak?" Febry bertanya hati-hati, takut jika atasannya itu tersinggung.
"Susu lah, memang kamu lihat apa?"
"Ee..,"
"Gak usah salah paham, aku ngasih susu itu biar kamu cepat pulih. Kalau kamu sakit, nanti aku juga yang repot, ngerjain laporan kamu lagi," sela Pak Ardi.
"Emm, tapi aku alergi susu sapi, Pak."
__ADS_1
Hening.