
Jam kerja hampir usai, beberapa staff bahkan sudah mulai merapikan meja kerjanya sembari menunggu jam kepulangan. Namun tidak untuk Febry. Gadis dua puluh tiga tahun itu masih setia menatap layar laptopnya.
"Feb, Febry." Panggil Hesty dengan suara pelan. Gadis yang ia panggil itu menoleh, lalu mendekatkan kursi miliknya ke arah Hesty.
"Hari ini aku pulang ontime gak papa? Aku mau nganter mamah aku soalnya."
"Iya gak papa, Hes." Febry mencoba meyakinkan Hesty, ia tau jika sahabatnya itu pasti merasa tak nyaman jika harus pulang duluan, terlebih jika mengingat insiden tadi siang di mess pak Ardi.
Sebenarnya ada ketakutan di hati febry jika harus seorang diri di kantor, namun ia harus tetap profesional.
Sesekali Febry melirik ke arah jam dinding, ia gelisah karena hanya ia seorang diri di dalam ruangan. Sementara yang lain sudah pulang, dan pak Ardi sedang pergi keluar. Hanya ada beberapa OB yang terlihat masih mengerjakan tugasnya.
(Hahahahah)
Suara tawa anak kecil terdengar begitu nyaring hingga ke dalam ruangan febry. Suara itu berasal dari lobby kantor. Febry mencoba berfikir positif, mungkin itu adalah suara anak-anak pak Anton yang main ke kantor. Ya, anak-anak pak Anton berumur empat dan tujuh tahun, mereka sering datang ke kantor untuk menemui ayahnya lalu asik mengganggu staff lain.
(Hahahaha hahahaha hahah)
Suara itu terdengar kembali, namun kali ini berulang dan lebih nyaring dari sebelumnya. Febry tak begitu memperdulikan, ia beranjak dari kursi lalu berjalan menuju pantry.
Suasana tampak lengang. Tak ada siapapun sejauh ia menatap sekitar. Namun ia tetap melanjutkan langkahnya menyusuri lorong ruangan menuju pantry yang berada di ujung.
Samar ia mendengar suara kran air kamar mandi yang menyala. Seperti nya masih ada karyawan lain yang bekerja, batin Febry.
Ia memberanikan diri ke arah kamar mandi yang berada di samping pantry. Letak Kamar mandi itu seperti lorong kecil dengan tiga buah ruangan. Dua toilet dan satu kamar mandi yang terletak di ujung. Febry mematung di depan lorong, ia ingin mengecek pintu kamar mandi yang tertutup sebagian.
Febry mengurungkan niatnya, ia hanya ingin membuat secangkir teh hangat untuk teman lembur, bukan berburu hantu, batinnya.
__ADS_1
Ia lantas dengan cepat membuat teh hangat, namun kembali ia mendengar suara kran air kamar mandi yang sedari tadi menyala kini seperti ada yang mematikan. Febry terdiam, netranya menatap ke arah lorong, jika memang ada seseorang di kamar mandi, pasti ia akan lewat di depan pantry. Namun nyatanya tak ada seorangpun yang lewat.
Ia mulai gelisah dan yakin jika kali ini ada sesuatu yang tidak beres. Febry lantas bergegas kembali ke ruangannya. Netranya kesana kemari menatap ruangan yang memang tak ada siapa-siapa.
Hanya ia seorang.
Ditengah kegelisahan hatinya, ia mencoba untuk tetap fokus dengan pekerjaannya. Namun semakin ia mencoba mengabaikan, semakin ia dibuat tak nyaman, di tambah Jam dinding sudah menunjukan tepat pukul enam sore.
(Hahaha hahaha hahahahaha)
Suara tawa anak kecil kembali terdengar. Di iringi suara langkah seperti sedang berlarian di sepanjang koridor lorong. Febry yang sedari tadi sudah gelisah kini semakin menjadi jadi ketakutannya. Ia terdiam di kursinya dengan degup jantung yang tak karuan.
Terdengar derap langkah berasal dari lorong, semakin di dengarkan langkah itu semakin mendekat, lalu berhenti tepat di depan pintu ruangannya. Jemari Febry berkeringat karena gugup. Netranya pelan-pelan melirik ke arah pintu yang berada di samping belakangnya,namun pintu itu tak juga ada yang membuka. Lantas siapa yang berjalan di sepanjang lorong?
Perasaan Febry kini campur aduk, ia ingin segera pulang, namun pekerjaannya belum selesai. Dengan susah payah ia mencoba mengumpulkan keberaniannnya. Baginya, selama ia tak melihat makhluk menyeramkan, hanya mendengar suara-suara. itu sudah cukup.
Baru saja Febry mencoba fokus dengan pekerjaannya, namun suara derap langkah itu kembali terdengar. Derap langkah itu kembali berhenti di depan pintu ruangannya. Febry menutup wajah menggunakan tangannya, ia ketakutan. Seolah sedang di teror.
"Loh, kok belum pulang, Feb."
Suara yang begitu familiar, Febry mendongak. Menatap asal suara itu dengan jantung masih berdegup cepat.
"Pak Ardi?"
"Opo oo? Kamu liat aku kaya liat setan aja." Lelaki itu kini berdiri tepat di samping meja kerja Febry.
"Y ampun pak, syukur bapak datang." Febry mengusap wajahnya berkali kali, ia lega melihat sosok yang ada di depannya saat ini adalah pak Ardi.
__ADS_1
"Pak tadi anak pak Toni main ke sini?"
"Engga, istri pak Toni sama anak-anaknya lagi pulang ke Surabaya, kenapa?"
"Hah, serius? Kalau anak staf lain?"
"Gak ada juga. Memange kenapa?"
Febry terdiam, ia seolah terkurung dengan pertanyaan-pertanyaan di dalam kepalanya. Selama ini memang hanya anak pak Anton yang sering main ke kantor, selain karena pak Anton adalah pimpinan perusahaan juga karena staff lain sangat jarang mengajak anaknya mampir ke kantor karena peraturan perusahaan. Lantas, siapa yang berlarian di lorong? Febry bergidik sendiri membayangkan nya.
"Kamu gak pulang? Malah melamun ndek sini. Lek kesambet tak tinggal balik." Pak Ardi mengacak gemas ujung kepala febry, membuat gadis itu sewot sembari merapikan hijabnya.
"Hiihhhh, Yo balik lah pak. Bentar lagi selesai. Tungguin ya, yaaa, yaaa." Febry menelungkup kan tangannya di depan bibir sembari mengedip ngedipkan matanya. Memohon agar pak Ardi mau menemaninya sebentar.
"Yohhh arek iki, Yo wess cepetan. Tapi baliknya tak anter ya, sudah hampir magrib, motor kamu tinggal ndek kantor aja," ucap Pak Ardi sembari melangkah menuju meja kerja miliknya.
Febry mengangguk tanda mengiyakan, berusaha menyembunyikan kebahagian karena pak Ardi begitu perhatian padanya.
******
Mobil yang di kendarai pak Ardi tak langsung pulang menuju rumah. Mereka mampir terlebih dahulu ke salah satu depot makanan. Setelah memesan beberapa menu, sembari menunggu pesanan, pak Ardi tampak sibuk dengan ponselnya.
Ia berkali-kali terlihat membalas pesan dan mengangkat telepon lalu asik membicarakan hal menyangkut pekerjaannya. Sementara Febry, dengan tangan menopang dagu, ia masih mengingat hal mengerikan sepanjang hari ini. Dari gangguang di mess pak Ardi sampai suara tawa anak kecil.
Ia penasaran, apakah karena alasan ini, sehingga banyak staff yang tidak tahan lantas mengundurkan diri?
Dari balik jendela kaca Febry menatap jalanan yang masih terlihat basah, hujan sepanjang hari ini membuat suasana seolah menjadi begitu berbeda. Sayup-sayup terdengar suara adzan magrib berkumandang. Netra Febry tak sengaja menatap ke arah pohon mangga yang cukup besar. Berada di halaman depot. Ada sosok yang duduk di atas pohon, seolah menatap ke arahnya dengan pakaian putih dan rambut terjuntai panjang hingga menutup semua wajahnya.
__ADS_1
Pakaiannya yang panjang, nyaris membuat seluruh kakinya tidak terlihat.
"itu???" Febry menutup wajahnya dengan kedua tangan. Kali ini keringat dingin seolah membanjiri tubuhnya.