Teror Penunggu Pabrik

Teror Penunggu Pabrik
Bangunan Belanda


__ADS_3

Riko datang di saat pak Ardi sedang bertamu, sudah lama sejak ia putus dengan Febry, ia tak pernah datang ke rumah itu lagi. Awal nya ia ragu, namun sambutan hangat kedua orang tua Febry membuat kekhawatirannya hilang.


Dua orang lelaki itu duduk bersama di ruang tamu, ada rasa canggung namun masing-masing mencoba menutupi.


"Kak Riko kenapa lama gak pernah main ke sini?" Ryan yang sedari tadi berada di kamar, langsung berlari ke ruang tamu menghampiri Riko. Bocah berumur sepuluh tahun itu sangat akrab dengan Riko. Terlebih Riko anak satu-satunya. Jadi lah ia merasa memiliki adik laki-laki.


"Iya, Kaka sibuk banget kemarin. Tapi nanti kakak akan sering main ke sini," ucap Riko.


"Eechhemm." Febry mendeham kecil. Dalam hatinya ingin mengatakan "kamu ngomong apa?"


"Eh iya, kakak bawa sesuatu buat kamu." Ryan mengeluarkan benda kecil dari dalam tas nya. Sebuah kotak berisi Lego. Ada binar bahagia yang terpancar dari sorot mata Ryan. Berulang kali ia mengucapkan terima kasih pada Riko.


Pak Ardi seolah mati gaya, ada kecemburuan di dalam hatinya ketika melihat kedekatan Riko dengan keluarga Febry. Sejauh ini keluarga Febry menerima dirinya dengan sangat baik, namun ia dan Ryan tak terlalu akrab.


"Ah ada ini juga, kesukaan kakak kamu. Nanti tolong kasihkan ke kakak ya." Riko memberikan coklat itu pada Ryan.


Ryan mengangguk setuju, bocah itu mengamati kotak logo barunya dengan senyum sumringah.


"Ryan, kamu bantu ibu bawa minuman buat kak Riko sama pak ardy. Kasian mereka haus." Ucap ayah mencoba mencairkan suasana.


Ayah mencoba bersikap biasa kepada Riko dan pak ardy, meski suasana terasa canggung namun tak mungkin jika harus mengusir salah satu di antara mereka.


Setelah berbincang sebentar, sang ayah lalu meninggalkan mereka bertiga di ruang tamu, Febry ingin mengabaikan Riko, namun hati kecilnya merasa kasian.


"Feb, aku pamit dulu ya. Besok berangkat kerja, kalau ayah kamu g bisa jemput, kabarin aja."


"Kenapa pak Ardi mau jemput?"


"GR kamu, bukan aku yang


jemput, tapi anak gudang yang ta suruh," ucap pak Ardi sembari tertawa kecil melihat Febry yang salah tingkah.


Terbesit rasa cemburu dan tak rela meninggalkan Febry dan Riko, ingin rasanya ia menarik tangan Riko keluar dan menyuruhnya juga pulang. Tetapi ia bukan siapa-siapa.


Mobil pak Ardi sudah meninggalkan halaman, hanya ada Riko dan Febry di ruang tamu. Hening, Febry tak tau harus memulai pembicaraan dari mana. Karena baginya tak ada yang harus mereka bicarakan.


Riko dan Febry memilih berbicara di teras rumah, sembari menikmati semilir angin malam.

__ADS_1


"Rasanya kaya nostalgia ya. Waktu kita dahulu masih sama-sama, dan aku sering main ke sini." Riko mencoba memecah keheningan di antara mereka.


Febry hanya diam, netranya sibuk menatap ke atas langit, ia tak sadar jika lelaki yang duduk di samping nya itu tengah menatapnya, dalam.


"Feb, setelah aku pikir panjang. Aku bakal berusaha buat dapetin kamu lagi," ucap Riko sungguh-sungguh.


"Berusaha apa lagi? Semua udah selesai Rik. Kita jalani hidup kita masing-masing."


"Iya, awalnya aku mikir akan nyerah sama semua ini, tapi kejadian di ruang pasien kemarin membuat aku yakin. Yakin kalau kamu masih ada rasa sama aku. Iya kan?"


"Engga."


"Bohong, coba liat aku."


"Kamu terlalu GR Rik." Febry tak menatap Riko sama sekali.


"Terus, ciuman kemari kamu anggap apa? Gak mungkin kamu mau kalau kamu sudah gak ada rasa."


Febry kelu, ia tak mampu membantah ucapan Riko. Karena ia sendiri pun bingung dengan perasaan nya. Ia bahkan merasa wanita yang bodoh, bagai mana bisa ia menikmati ciuman itu, sementara ia dan Riko sudah tak ada hubungan apa-apa.


****


"Hes, aku mau cerita sesuatu."


"Apa?" Hesty menarik kursi yang ia duduki untuk mendekat ke arah febry.


"Aku pernah liat sosok besar, matanya merah menyala. Itu apa ya?"


"Serius? Ada aroma kaya singkong bakar?"


"Kalau aroma, g keciuman karna mungkin waktu itu aku flu ya, tapi aku dengar ada suara mirip dengusan binatang."


"Fixx dah itu." Hesty menjentik kan jarinya.


"Fix apaan?"


"Itu namanya om Wowo."

__ADS_1


"Genderuwo, maksudnya?"


"Husstttt jangan di sebut di sini. Takutnya ntar terpanggil." Hesty meletakan satu jarinya di ujung bibirnya.


"Ihhhh kamu jangan nakutin. Tapi kenapa aku jadi di tampakin ya? Asli aku jadi sering parnoan, Hes." Febry mengelus tengkuk lehernya yang terasa meremang.


"Kalau kenapa aku gak tau, tapi kamu harus hati-hati. Karna mahkluk satu itu sangat agresif. Takutnya dia naksir sama kamu. Dannnnnnn...,"


"Dan apaan?"


"Dann banyak kasus manusia bisa di setubuhin sama mahluk itu. Jadi saran aku banyak-banyak berdoa y."


"Astagfirullah, masa sih. Kok serem banget. Ngeliat aja takut apa lagi di gitu in."


"Ehhhh, jangan salah. Saat menyetubuhi biasanya dia menyamar jadi pasangan kita. Jadi y itu tadi saran aku perbanyak doa."


Febry bergidik ngeri, ia setengah percaya dan tidak dengan cerita Hesty. Karna menurut Febry, bagai mana bisa zaman yang serba canggih seperti ini masih ada mitos seperti itu. Tapi jika ia teringat sosok yang mengintip nya di jendela saat di rumah sakit, ia menjadi ketakutan sendiri.


*****


"Hes, seriusan ini kita ke mes nya pak Ardi?"Febry yang berjalan di samping Hesty mempercepat langkahnya agar sejajar dengan hesty, karena mereka hanya membawa satu payung.


"Iya, tadi pak Ardi nelpon minta tolong fotoin data dalam map merah di atas meja kerja di kamar nya. Kata pak Ardi di mess ada bibi yang bersih-bersih, jadi kita minta tolong si bibi buat ambilin map nya," ucap Hesty sembari menguatkan pegangan payung yang ia bawa. Kaki mereka telah basah sebagian karena cipratan air hujan.


Mes pak Ardi terletak di sisi kanan pabrik, terdapat beberapa rumah-rumah yang cukup besar dengan gaya bangunan jaman Belanda. Dengan banyak jendela dan cat yang dominan warna putih. Meski pun rumah yang di tempati pak ardi lumayan besar, namun hanya ada dua kamar.


Selama bekerja, baru sekali ini Febry masuk ke dalam lingkungan mes karyawan. Awalnya Febry fikir mes pak Ardi hanya berupa kamar berukuran kecil Dangan kamar mandi di dalam. Namun ternyata salah. Mes yang di maksud adalah rumah berukuran besar yang memang di peruntukan untuk para atasan.


Di depan rumah-rumah tersebut terdapat sebuah taman kecil, dengan gazebo dan ayunan anak-anak. Namun yang mencuri perhatian Febry adalah pohon besar yang berada tepat di samping ayunan tersebut. Febry bergidik ngeri jika membayangkan harus berlama-lama di sekitar pohon besar itu. Meski terlihat asri, nyaman dan sangat terawat, terbukti dari rumput yang sepertinya rutin di potong. Tetap saja membuat kesan horor itu tidak hilang.


"Hes, mes pak Ardi yang mana?"


"Tadi sih katanya nomor tiga dari jalan masuk, tepat di samping mes nya pak Anton. Tapi mes pak Anton aja aku gak tau, hahaha" Hesty terkekeh geli.


Di iringi hujan yang masih mengguyur dan langit yang terlihat muram karena mendung, membuat suasana seperti berbeda. Tak ada orang di sekitar situ, hanya ada Febry dan Hesty.


Mereka tiba di mes no tiga, Hesty meletakan payung lalu bergegas mengetuk pintu. Sementara Febry, netranya mengamati sekitar. Ia merasa ngeri dengan taman di depan mes, namun ada perasaan penasaran yang terselip. Netranya menatap sekilas ke arah pohon besar, namun tanpa sengaja pandangannya menangkap bayangan putih yang terlihat duduk di antara dahan-dahan besar pohon.

__ADS_1


Sosok itu berpakaian putih, lengkap dengan rambut yang terurai hingga menutup wajahnya. Febry terkejut serasa ingin berteriak karena sosok itu seolah-olah mengangkat tangannya dan menunjuk tepat ke arah dia berdiri saat ini


__ADS_2