Teror Penunggu Pabrik

Teror Penunggu Pabrik
Degup asmara


__ADS_3

Riko sedang berada di ruangannya, terdengar ketukan pintu di iringi seorang lelaki yang masuk ke dalam ruangan.


"Ada perlu apa, pak?" Ucap Riko pada sosok lelaki yang kini seolah jadi rival nya.


"Aku mau tanya, jika besok Febry pulang apakah kondisinya memungkinkan? Tadi dia nelpon aku, bilang mau pulang." Pak ardi menarik kursi, lalu duduk di depan meja dokter.


"Sejauh ini kondisinya sudah mulai baik, jika tidak ada keluhan besok siang mungkin boleh keluar."


"Baik lah kalau begitu, saya mau ke ruangan Febry dulu." Lelaki itu lantas berdiri, lalu berjalan menuju pintu sembari membawa tas belanja yang terlihat berisi banyak camilan. Riko pun lantas mengikuti lelaki itu menuju ruangan febry.


(Tokkkk...tokkkk)


Sebelum masuk pak Ardi mengetuk pintu kamar pasien, ketika membuka pintu ia begitu terkejut karena melihat Febry tertelungkup dalam keadaan pingsan di lantai.


Riko ingin menghampiri Febry namun kalah cepat dari pak Ardi yang langsung berlari masuk, lalu menggendong Febry dan merebahkannya di atas ranjang. Sementara Riko sekuat hati menahan degup jantungnya melihat pemandangan yang membuatnya cemburu itu.


"Feb...Feb...kamu kenapa?" Pak Ardi terlihat panik.


Riko segera melakukan pemeriksaan, dan mendekatkan aroma minyak kayu putih pada hidung Febry, tak lama Febry kembali siuman. Seketika Febry bangun dan duduk, netranya menatap sekitar dengan sorot mata seperti ketakutan. Wajah Febry tampak pucat, ia lalu terisak pelan.


"Kamu kenapa? Wess tenang OOO, aku ndek sini."


Pak Ardi mendekat kan tubuhnya di sisi ranjang, memeluk dan membelai lembut rambut gadis itu, tepat di hadapan Riko. Riko mengatupkan rahangnya hingga tampak rahangnya mengeras karena menahan perasaan cemburu.


Ia pun ingin memeluk dan menenangkan Febry, namun ia teringat akan kesalahan yang telah ia lakukan di masa lalu terhadap Febry, membuat ia berkecil hati.


"Pak, tadi aku liat sesuatu di bawah ranjang, aku liat,"


"Sudah... Sudah, kamu tenangin diri dulu nanti aja ceritanya," potong pak Ardi.


*****


Di luar hujan turun dengan derasnya, malam ini pak Ardi kembali menemani Febry yang tengah di rawat inap. Aroma kopi menyeruak dalam ruangan. Ditemani segelas kopi, lelaki itu terlihat serius menatap layar laptopnya. Febry tak ingin mengganggu pak Ardi, ia memilih untuk memainkan game di ponsel nya.


Diam-diam ia memperhatikan lelaki itu dari kejauhan, namun kemudian pandangan mereka bertemu. Bibir Febry kelu, ia tak tau bagaimana caranya menyembunyikan wajah yang mungkin sudah memerah karena malu itu.


"Opo'oo o, Feb?" Pak Ardi mencoba mencair kan suasana.


"Emmm ... Anu, AC nya di naikin suhunya nya, pak. Adem banget." Febry mencari alasan.


"Perasaan gak dingin banget, bentar. Selimutan sama jaketku Ben hangat." Tanpa persetujuan Febry, lelaki itu sudah menyelimutkan jaketnya di atas tubuh Febry.


"Harum," ucap Febry pelan, yang ternyata di dengar pak Ardi.


"Yo pasti wangi lah, awas Ojo di cium-cium terus, engko naksir," ucap pak Ardi berbalik badan menuju laptopnya yang masih menyala.


"Pak, boleh tanya?"


"Opo?"


"Maaf nih maaf, pak Ardi kan udah tiga puluh lebih, kenapa belum merid?" Febry bertanya hati-hati, ia takut lalaki itu tersinggung.


"Ya karna memang belum nemu yang cocok aja."


"Ah masa sih pak? Pak Ardi milih-milih atau masang standar ketinggian mungkin."


Pak Ardi mengangkat kedua bahunya, netra nya masih sibuk mengamati layar laptop.

__ADS_1


"Sekarang aku balik tanya."


"Hemmm, apa?"


"Kamu target merid usia berapa?" Tanya pak Ardi sembari menatap tajam ke arah Febry.


Febry berfikir sejenak, ia bahkan tak pernah menetapkan akan menikah di usia berapa. Ia dulu pernah bermimpi akan hidup bersama Riko, menyiapkan sarapan, membuatkan teh melati kesukaan Riko, memijit bahunya ketika lelah pulang setelah bekerja. Tetapi mimpi itu hancur, hanya menyisakan kekecewaan.


"Mungkin sebelum tiga puluh tahun pak." Febry menjawab asal


"Kalau satu bulan lagi aku lamar kamu siap?"


"Ahahahah gak lah, menikah itu ibadah terlama pak, jadi gak mau salah ngambil keputusan." Febry menjawab dengan perasaan campur aduk. Ia berfikir apakah ucapan pak Ardi kali ini serius atau hanya bercanda.


"Berarti nunggu kamu siap." Pak Ardi memberi senyuman penuh arti.


"Heleh mboohh." Febry berusaha mengalihkan pembicaraan, ia berusaha bangun karena ingin ke toilet. Pak Ardi dengan sigap membantu Febry untuk bangun dan turun dari ranjang.


"Feb, aku seperti suami siaga kan?" Goda pak Ardi.


"Iya latihan dulu, nanti tinggal cari calonnya kan pak. "


"Buat apa nyari, kan udah ada," goda pak Ardi, dan berhasil membuat Febry salah tingkah.


"Udah pak, aku bisa kok jalan sendiri ke kamar mandi."


Pak Ardi mengangguk, ia menatap punggung gadis itu hingga menghilang di balik pintu.


****


"Belum, pak," ucap Febry, sembari menatap langit-langit kamar.


Lelaki itu kehabisan kata-kata, ia hanya menatap Febry sembari merebahkan diri di atas ranjang yang berada dekat dengan ranjang pasien.


"Pak....,"


"Hemmmm."


"Makasih, ya."


"Makasih apa?"


"Makasih sudah menjaga aku sejauh ini."


"Calon istri memang harus di jaga, kalau engga nanti di patok ayam," ucap pak Ardi sembari mengalihkan pandangan ke arah Febry, namun ternyata gadis itu telah terlelap.


"Oooo, arek ini jiaannn."


****


Pagi ini pak Ardi ke kantor sedikit terlambat, karena ia baru selesai mengantar Febry yang pulang dari rumah sakit. Wajahnya tampak sayu, karena kurang tidur.


"Pak, Febry sakit, dua hari opname di rumah sakit. Bapak tau ga?" Ucap Hesty sembari menyerahkan map berisi laporan


"Iya, tau," jawab lelaki itu santai.


"Ihh bapak ini, sama anak buahnya cuek banget." Hesty lantas kembali ke mejanya. Ia tak tau jika selama Febry di rawat, pak Ardi lah yang setia menjaganya.

__ADS_1


***


Febry telah kembali bekerja, sore ini dia berkunjung ke ruang produksi untuk meminta laporan manual pada admin bagian. Kak Nisa dan asistennya tampak berbisik ketika melihat Febry berjalan ke arah mereka.


"Feb, sini... Sini.... ada gosip katanya kamu pacaran sama pak Ardi ya?" ucap asisten kak Ica yang bernama Ratna. Ia terlihat begitu bersemangat mencari kebenaran gosip tersebut.


Bukan tanpa alasan, Ratna memang dari dahulu menyukai pak Ardi, tetapi pak Ardi tak sedikitpun menaruh hati pada janda beranak satu itu.


"Ahh, engga kak. Itu gosip aja," kilah febry. Tapi kenyataannya ia dan pak Ardi memang tak terikat hubungan apa pun. Pak Ardi juga tak pernah terang-terangan mengatakan jika menyukain Febry.


"Oohhhhh, syukur lah," sahut kak Ratna sembari tersenyum penuh arti.


Jam kerja sudah hampir selesai, beberapa karyawan yang selesai mengerjakan tugas mereka, tampak mulai merapikan dan membersihkan area kerja mereka. Pak Ardi terlihat berjalan menghampiri Febry yang tengah asik berbincang dengan kak Ica dan asistennya.


"Ini dia yang di cari-cari akhirnya nongol. Pak, banyak fans bapak nyariin sampean tuh. Berapa hari ini sibuk banget g kelihatan turun ke produksi," celetuk kak Ica.


Pak Ardi hanya tersenyum, ia berdiri tepat di samping Febry.


"Pak, perusahaan bangkrut apa gimana, kok dua tahun ini gak ada family gathring?" Kak Ica memang tipe orang yang suka bicara ceplas ceplos, namun syukurnya pak Ardi adalah tipe atasan yang sabar dan humble.


"Mungkin tahun ini ada, mbak. Tapi nanti coba ta konfirmasi dulu ke bagian personalia," jawab pak ardi. Lelaki itu mencuri-curi pandang ke Febry, tatapan mereka saling bertemu, lalu sama-sama tersipu malu karena takut terlihat Oleh yang lain.


"Pak, sekarang kok gantengan?" Goda kak Ratna.


"Berarti kemarin-kemarin saya jelek ya?"


Pak Ardi tampak asik berbicara dengan kak Ica dan Ratna, sementara febry yang berdiri di samping nya tengah sibuk menyalin kertas laporan. Sesekali Febry ikut menimpali pembicaraan mereka dengan tawa atau senyuman.


Febry menatap ke arah kakinya, seperti ada seseorang yang menyenggol-nyenggol kakinya pelan. febry tersenyum malu ketika menyadari, jika yang menyenggol kakinya adalah pak Ardi, padahal lelaki itu tengah asik bicara dengan orang lain, tetapi masih sempat-sempatnya menggoda Febry.


Ruangan produksi kini sudah kosong, hanya ada beberapa petugas sanitasi yang terlihat membersihan ruangan.


"Sudah selesai nyatetnya?"


Febry mengangguk pelan.


"Yo wess ayo naik ke kantor."


Febry meng iya kan, ia lantas berjalan terlebih dahulu. Pak Ardi yang berada di belakang, lantas mempercepat langkahnya untuk menyusul Febry. Febry terkejut, karena pak Ardi tiba-tiba menggenggam lembut jemarinya.


"Lantainya licin, nanti kepeleset," kilah pak Ardi.


Febry tersipu, ia tak mampu berkata apa-apa, hatinya saat ini tengah berbunga-bunga.


****


"Makasih ya pak, sudah ngantar pulang," ucap Febry malu-malu, sembari meletakan secangkir teh hangat di atas meja tamu.


Lelaki itu meraih gelas berisi teh, lalu menyeruputnya sedikit.


Febry lantas meninggalkan pak Ardi yang tengah asik berbincang di ruang tamu bersama sang ayah. Namun, baru selangkah Febry berjalan, terdengar suara deru motor memasuki halaman rumah.


Gadis itu lantas ke depan pintu untk melihat siapa yang datang. Namun ketika ia menyadari siapa sosok itu, jantungnya lantas berdegup kencang.


"Riko?"


__ADS_1


__ADS_2