Teror Penunggu Pabrik

Teror Penunggu Pabrik
Episode 36


__ADS_3

"Feb." panggil pak Ardi di balik kemudi.


"Hem...."


"Ternyata kamu berat juga ya."


"Ihhhhh pak Ardi!" febry reflek menepuk bahu pak ardi.


"Aduhh... Aduhhh, tapi beneran lho. Kamu kurus tapi kok berat. Mbo simpan dimana lemak e?"


Febry hanya mencebik, sembari menatap jalanan yang tengah di guyur hujan. Pikiran nya saat ini berkelana kesana kemari. Semenjak sang ayah masuk rumah sakit, ia menjadi sering mimpi hal-hal yang aneh.


"Pak."


"Hemmm."


"Tadi berarti pas pak Ardi datang, aku udah pingsan di lantai?"


"Iya. Memang nya kamu ngapain kok sampe bisa pingsan, mana jidatmu yang jenong itu sampe berdarah."


"Lupa, pak. Tapi aku mimpi aneh."


"Mimpi apa?"


"Ah nanti pak Ardi gak percaya. Aku aja bingung sampe an."


"Mimpi apa memange?"


Febry tertegun, mambuat pak Ardi yang duduk di sampingnya semakin penasaran.


"Mimpi opo?"


"Mimpi di lamar sama jungkok."


"Ooooo arek iki gembeleng tenan." pak Ardi mengacak kepala Febry gemas, membuat hijab yang ia kenakan sedikit berantakan.


Febry tertawa puas karena merasa berhasil mengerjai lalaki itu.


****


"Jidat kamu kenapa, Feb?" tanya ibu ketika melihat kening Febry terdapat plester luka.


"Oh ini, tadi kejedot, mah. Ayah gimana udah ada tanda-tanda baikan?"


"Tadi dokter habis kunjungan, semua baik. Semoga ayah lekas sadar ya."


Febry mengangguk


"Ibu sama Ryan pulang saja. Malam ini Febry biar saya temenin jaga malam ini.


"Terima kasih y nak ardy. Ibu nitip Febry sama ayah. Kalau Febry nakal, jewer aja gak papa." Ibu lantas berpamitan meninggalkan Febry dan pak Ardi berdua di depan ruangan ICU.


"Memang pak Ardi gak sibuk jadi mau ikut jaga?"

__ADS_1


"Gak terlalu. Bahaya kalau gak di temenin soalnya."


"Bahaya kenapa?"


"Bahaya di gondol Jungkook."


Febry tersenyum, ia bersyukur di saat seperti ini ada pak Ardi yang selalu menemani dan menghibur dirinya.


****


Malam telah menjelang, meski hujan telah reda, namun hawa dingin masih begitu kentara.


Pak Ardi sedang keluar membeli makanan. Gadis itu hanya seorang diri di depan ruangan ICU. Udara yang begitu dingin membuat keluarga pasien yang lain lebih memilih berada di dalam ruangan.


Lorong tampak sepi, hanya ada beberapa orang yang tampak tiduran di atas kursi yang berada di depan ruangan. Seperti Febry yang duduk di kursi seolah tak kuat lagi menahan kantuk, ia lantas menyandarkan kepalanya pada dinding rumah sakit. Berkali kali ia terpejam lalu mencoba membuka matanya yang terasa begitu berat.


Namun, ketika ia ingin membenarkan posisi duduknya, matanya menatap lorong yang berada tak jauh dari tempat nya saat ini. lorong itu tampak minim pencahayaan, hanya ada satu lampu yang tampak redup.


Meski cahaya nya tampak remang, namun masih bisa terlihat jelas dari tempat Febry, jika ada seseorang yang juga tengah duduk di depan ruangan seperti dirinya.


Awalnya, tak ada yang aneh dengan orang itu. tampak duduk dengan wajah menunduk menatap lantai.


Namun ketika seseorang itu menoleh, barulah sesuatu yang tak biasa terlihat. Sosok itu seperti seorang nenek tua dengan pakaian kebaya khas nenek-nenek namun tampak kotor. Rambutnya terlihat acak-acakan. Dan yang membuat Febry terkejut setengah mati, nenek tua itu seolah menatap ke arahnya, membuat ia teringat akan nenek tua yang ada dalam mimpinya.


Bulu kuduk Febry meremang, namun ia seolah tak mampu mengalihkan pandangan nya dari nenek tua itu. Namun beberapa detik kemudian tepukan di bahunya membuatnya menoleh, namun ketika ia menatap ke arah lorong itu lagi, kursi itu tampak kosong, tak ada seorang pun di sana.


"Kamu kenapa?" tanya pak Ardi, yang baru datang.


"Ojo kokean melamun, nanti demit yang kerasukan kamu," ucap pak Ardi sembari menyerahkan sebotol air mineral.


"Kamu kok pucet, Feb?" pak Ardi menyentuh kening Febry.


"Lumayan anget. Apa kamu pulang aja. Ayah biar aku yang jaga."


"Ga papa, pak." Febry lantas kembali menyandarkan kepala nya di dinding, sembari memejamkan mata.


Febry tampaknya benar-benar telah terlelap, hingga tak menyadari jika pak Ardi pelan-pelan meraih kepala Febry agar bersandar di bahunya.


****


Lelaki berjas putih tampak berdiri di depan ruang ICU. Tubuhnya hanya bisa tertegun ketika melihat pemandangan di depan matanya


Seorang gadis yang masih ia sukai, tampak terlelap bersandar di bahu seorang pria yang juga tampak tertidur.


Jantungnya berdegup cepat, namun ia tak bisa berbuat apa-apa. Karena memang gadis itu bukan miliknya lagi. Lelaki itu lantas masuk ke dalam ruangan ICU untuk melakukan pemeriksaan.


****


"Ayah gimana, Rik?" Febry yang tiba-tiba masuk membuat Riko terkejut karena beberapa saat lalu ia tampak terlelap di luar.


"Kalau aku lihat keseluruhannya normal, Feb. Semoga beberapa hari kedepan beliau sudah sadar.


Febry menatap ayah nya yang masih terbaring. Berjuta tanya berseliweran di kepalanya. Jika semua hasil pemeriksaan baik, mengapa ayah nya sampai detik ini masih belum sadar?

__ADS_1


Febry teringat akan beberapa kali mimpi aneh nya, ia lantas menduga jika sakit nya ayah yang secara tiba-tiba, apakah berhubungan dengan hal ghaib?


****


"Mah, aku mau cerita sesuatu," ucap febry tampak serius. Sementara Rian dan pak Ardi pergi ke luar membeli sesuatu.


"Apa?" sang ibu juga tampak penasaran.


"Sebenarnya, aku sudah beberapa kali mimpi aneh. Aku mimpi bertemu sosok nenek-nenek. Dan nenek itu ngomong pakai bahasa Jawa. Aku gak terlalu ngerti, cuma yang aku tangkep, dia ngomong janji, janji harus di tepati."


Sang ibu yang tadinya tampak biasa, kini wajahnya seolah mendadak pucat mendengar cerita febry. Sementara Febry semakin penasaran karena ibunya seperti menutupi sesuatu.


"Mah? Aku juga mimpi ayah di kejar ular banyak banget."


Ibu hanya diam, namun sangat jelas jika ibunya menutupi sesuatu.


"Sudah, anggap itu hanya bunga tidur, nak. Hari ini kamu istirahat di rumah. Badan kamu demam gitu. mumpung hari Minggu, besok kalau baikan, kamu kerja aja gak papa. Ayah biar mamah yang jaga." Sang ibu mengalihkan pembicaraan.


Tak mau mengambil pusing, Febry pun meng iya kan perintah ibunya. Ia lantas berkemas, menunggu pak Ardi datang. Namun jauh di dalam hati nya, ada rasa penasaran yang luar biasa.


****


Sepanjang jalan Febry tampak diam, ia merasa tubuhnya benar-benar lelah dan meriang. Pak Ardi yang tengah mengemudi sesekali menengok ke arah gadis itu.


"Periksa, mau?" tawar pak Ardi. Febry menggeleng.


"Y udah bawa istirahat aja, nanti kalau sudah sampai aku bangunin."


"Pak..,"


"Ya?"


"Maaf ya sering ngerepotin. Padahal bapak atasan aku, serasa gak tau diri aku nya."


"Alhmdulillah kalau sadar." pak Ardi terkekeh.


"Serius juga, ih."


"Udah biasa aja. Aku gak merasa di repotin."


"Emmmm, memang bapak nganggap aku apa?" deg, seperti ada sebuah bola yang menghantam Febry. Ia lantas menyesali ucapan yang baru saja ia lontarkan. Ada perasaan malu dan penasaran menjadi satu.


Lelaki itu tersenyum sembari tetap fokus di balik kemudi.


"Memang kenapa?"


"Engga, engga kenapa kenapa. Duh jadi pengen beli larutan penyegar, pak. Boleh mampir ke Indomaret atau Alfamart?" Febry salah tingkah.


"Kamu mau nya aku nganggap kamu apa?"


Febry terdiam, ada perasaan kecewa yang tiba-tiba muncul. Ia berharap pak Ardi punya jawaban yang tegas, namun nyatanya justru bertanya kembali.


Febry tak menjawab, ia membiarkan pertanyaan itu menggantung tanpa kejelasan.

__ADS_1


__ADS_2