
Pagi ini riko datang berkunjung ke ruangan Febry. Tampak hanya ada Febry di dalam ruangan. Sedang kan pak Ardi berada di kamar mandi.
"Udah enakan, Feb?" Riko menarik kursi dan duduk di samping ranjang pasien.
Antara malu dan malas Febry memilih diam lalu memejamkan mata, berharap jika lelaki itu pergi dari kamarnya.
"Feb, aku mau balik dulu ya pagi ini," ucap pak Ardi yang baru keluar dari kamar mandi. Aroma parfum menyeruak, rambutnya yang basah justru membuatnya terlihat maskulin.
"Oh ada tamu," ucap pak Ardi sembari merapikan barang dan tas nya.
"Dokter, aku titip Febry dulu ya. Mungkin sore baru bisa ke sini karena ada jadwal penting. Feb, kamu Ndak papa kan aq tinggal bentar?"
"Iya, pak. Eh mas." Febry sengaja memanggil pak Ardi dengan panggilan mas, agar Riko cemburu. Dan benar, rahang lelaki itu seolah mengeras menahan kalimat yang ingin ia ucapkan. Ia cemburu, bahkan sangat cemburu.
"Gak usah takut-takut, gak ada apa-apa. Masa malam tadi mau tidur aja minta gandengan, udah kaya mau nyebrang jalan aja."
Febry mendelik kesal, namun pak Ardi sengaja mengatakan nya agar Riko cemburu.
"Siang ini, biar aku temanin Febry, pak."
"Oke lah kalau begitu, aku pamit y Feb." Pak Ardi mengacak gemas kepala Febry yang tertutup oleh hijab. Gadis itu hanya pasrah lalu melambaikan tangannya tanda berpisah.
"Hati-hati di jalan, pak."
"Kalian kelihatan mesra banget. Memang sudah pacaran?" Riko seolah mengintrogasi Febry, sesaat setelah pak Ardi keluar meninggalkan ruangan.
"Aku mau pacaran atau engga, itu bukan urusan kamu, Rik. Berhenti buat mencoba mendekati aku lagi, aku gak mau kecewa kaya dulu." Febry membuang wajah.
"Aku tau, ucapan itu gak tulus itu dari hati mu. Aku tau jauh di lubuk hati, kamu masih ada perasaan sama aku."
__ADS_1
"Ga. Kamu cuma ke GR an"
"Buktinya, kemarin malam kenapa kamu diam saat aku nyium kamu?"
Wajah Febry merona, ia tak mampu menemukan jawaban untuk membantah ucapan Riko.
Seseorang mengetuk pintu. Petugas rumah sakit membawakan sarapan untuk pasien.
"Kamu makan ya,"
"Taruh aja di situ, nanti aku makan sendiri."
"Gak papa aku suapin, aku pengen nunjukin rasa sayang aku gak kalah dari pak Ardi." Lelaki itu mendekatkan tubuhnya di sisi ranjang. Febry yang memang sudah lapar dengan malu-malu mengiyakan.
"Aku mau bukan karena aku masih ada rasa sama kamu, tapi aku memang lagi lapar," ucap Febry malu-malu, tetapi Riko justru serasa ingin bersorak Karena Febry bersedia ia suapi.
Suapan demi suapan bubur diberikan Riko, meski Malu Febry mencoba bersikap biasa di depan Riko.
"Besok apa aku boleh pulang, Rik?"
"Tergantung, jika nanti hasil
pemeriksaan baik, mungkin besok kamu sudah pulang."
"Berarti aku harus nginap di sini lagi semalam?"
"Mungkin," ucap Riko sembari meletakan mangkok yang telah kosong isi nya.
Febry merasa tak nyaman, ia berfikir jika ia harus satu malam lagi berada di rumah sakit berarti ia akan satu kamar lagi dengan pak Ardi. Namun jika ia sendirian ia tak berani. Terlebih jika mengingat kemarin malam ia melihat mata merah besar menatap ke arahnya.
__ADS_1
"Kalau boleh, malam ini biar aku yang nemenin kamu."
"Ahaha g usah, lebih baik biar pak Ardi yang di sini." Febry kembali merebahkan dirinya, lalu memilih memunggungi Riko.
"Feb, apa sebenci itu kamu sama aku, sekarang?"
Febry hanya diam, dalam hatinya ia berkata, jika ia adalah wanita bodoh. Karena telah terluka namun untuk membenci laki-laki di belakang nya itu ia tak mampu. Bukan karena benci, hingga ia menolak tawaran Riko. Tetapi ia takut, takut jika perasaan lama yang belum selesai itu kembali lagi.
"Feb, aku minta maaf atas semua yang sudah terjadi. Y sudah, sekarang kamu istirahat dulu. Aku mau visit ke ruangan lain." Riko beranjak pergi. Meninggalkan Febry yang diam-diam menyeka netranya yang basah.
****
Siang ini Febry hanya sendirian di kamar, matanya sangat mengantuk, hampir saja ia terlelap, namun seperti ada sesuatu di bawah ranjangnya. Terdengar beberapa kali suara dengus an seperti binatang di bawah ranjang rumah sakit. Febry seperti mematung karena teringat jika tak ada siapa-siapa di ruangan itu selain dirinya.
Semakin di dengarkan suara dengus an itu semakin sering, ia yakin jika itu bukan suara yang berasal dari manusia atau binatang. Ia teringat dengan sosok bermata merah menyala yang mengintipnya dari balik jendela.
Febry hanya bisa terdiam dan menarik selimutnya, ia benar-benar ketakutan dan bulu kuduknya merinding hebat. Tetapi ia sangat penasaran dengan asal suara tersebut.
Dengan mengumpulkan segala keberanian, Febry memberanikan diri untuk melihat ke bawah ranjang tempat tidurnya. Dengan posisi masih di atas tempat tidur, Febry mendongak kan kepalanya ke bawah, dengan perlahan ia melihat ke bawah tempat tidur, namun kosong. Tak ada apapun di bawah ranjang itu.
Ia lantas mengangkat kepalanya dan berfikir sejenak, jika tadi ia memang benar mendengar suara dari bawah ranjang. Dengan perasaan yang masih penasaran, ia mencoba mendongak kan kepalanya ke bawah lagi, namun kali ini ia tersentak kaget.
Ada sosok seperti manusia dengan tubuh besar dan berbulu lebat, serta mata merah menyala tengah berbaring di bawah ranjang nya.
Aaaaaaaaaaa
(Bruukkkkkkkk)
Febry terjatuh dari tempat tidur, lalu semua menjadi gelap.
__ADS_1