Teror Penunggu Pabrik

Teror Penunggu Pabrik
Kenyataan


__ADS_3

"Pak beneran ini gak papa ngantar saya pijit?" Tanya Febry yang duduk di samping pak ardi yang tengah mengemudi. Lelaki itu tersenyum, lalu mengelus kepala Febry, pelan.


"Iya gak papa, cantik."


Febry tersipu malu, mendapat perlakuan yang begitu manis dari atasannya tersebut.


Ia seolah kehabisan kata-kata dan hanya mengulum senyum malu.


Entah sejak kapan perasaan itu mulai muncul, yang ia tau. Pak Ardi adalah salah satu alasan dia untuk pergi ke kantor. Untuk tetap bertahan di tengah godaan mistis yang tak masuk akal.


****


Pintu mobil di buka, pak Ardi membantu Febry untuk turun. Ia memapah Febry untuk masuk ke dalam rumah tukang pijit.


Seorang nenek berusia sekitar tujuh puluhan keluar dari dalam rumah, di ikuti dua orang pasien yang sepertinya sudah selesai pijit.


"Mohon maaf, ini suami istri atau bukan," tanya sang nenek.


"Bukan, nek."


"Calon istri, nek," pak Ardi menimpali, lalu merasakan perutnya di sikut oleh Febry.


"Oh baru calon, kalau baru calon berarti laki-laki nya tunggu di luar saja," terang si nenek. Dan mendapat anggukan dari pak Ardi.

__ADS_1


Setelah berganti pakaian mengenakan sarung, Febry di pijit oleh si nenek. Terdengar hingga ke luar tempat pak Ardi menunggu, suara Febry yang merintih kesakitan.


Layaknya seperti seorang suami siaga, pak Ardi menunggu sembari membawakan tas milik febry. Beberapa kali lelaki itu mendengar suara telpon berdering dari dalam tas milik febry. Ia enggan untuk menjawab, namun karena ia berfikir mungkin itu penting, maka ia memberanikan diri untuk menjawab telpon tersebut.


Sebuah nomor tak di kenal terpampang di layar ponsel milik febry.


"Hallo assalamualaikum," ucap pak Ardi.


"Waalaikum sallam, ini benar nomor Febry kan?" Jawab si penelpon.


"Iya benar, orangnya lagi pijit. Maaf ini siapa, nanti biar saya sampaikan."


"Saya Riko. Kalau boleh tau Febry pijit kenapa? Apa dia sakit?"


"Dia habis kecelakaan," jawab pak Ardi singkat. Ia merasa penasaran siapa sosok bernama Riko tersebut, karena dari nada bicaranga , terdengar sangat khawatir dengan keadaan febry.


"Saya mantan pacarnya, kamu?


Rahang pak Ardi terlihat mengeras, jantungnya seolah bedetak kencang saat mengetahui jika yang bicara dengannya saat ini adalah mantan kekasihnya Febry.


"Saya, calon suami Febry," jawab pak Ardi singkat. Sesaat mereka sama-sama terdiam.


"Maaf kalau begitu. Nanti sampaikan saja kalau tadi saya menelpon. Assalamualaikum." Kemudian telepon di matikan. Pak Ardi lantas memasukan ponsel milik febry ke dalam tas. Ia seolah tenggelam dalam pikirannya, Febry bukan siapa-siapa nya. Tetapi kenapa hatinya seolah nyeri ketika mengetahui jika lelaki yang menelpon tadi adalah Mentan kekasih Febry.

__ADS_1


****


Tak berselang lama, Febry sudah keluar dari ruangan pijit. Ia menghampiri pak Ardi yang tengah berbincang dengan pasien yang baru datang.


"Sudah?"


Febry mengangguk, dengan langkah yang masih pinang mereka lantas meninggalkan tempat tersebut. Pak Ardi terlihat sigap membantu Febry, ia bahkan menggengam erat jemari wanita itu. Seolah memberi syarat jika pak Ardi akan selalu melindunginya.


"Tumben diem, pak," Febry menatap pak Ardi heran.


Ya, lelaki itu sedang bimbang, ia bingung harus memberi tahu Febry atau tidak. Jika tadi lelaki bernama Riko tadi menghubunginya. Ia tak takut jika Febry marah karena telah lancang membuka ponselnya, tetapi ia takut jika Febry memilih kembali bersama dengan Riko.


"Pak besok aku udah masuk kerja."


"Jangan, kamu istirahat aja dulu, Feb. Ojo ngeyel."


"Gak papa, pak. Kasian Hesty jdi double kerjaannya, lagian aku di antar jemput ayah, jadi tenang aja."


"Kalau ayah kamu sibuk, biar aku aja yang antar jemput."


"Gak lah, ga enak sama karyawan lain. Pasti nanti jadi gosip."


"Y gak papa di gosipin, kalau kenyataan nya benar, kenapa mesti takut?"

__ADS_1


"Kenyataan apa memang?"


Pak Ardi hanya terdiam, suaranya seakan tertahan di tenggorokan. Ia sangat ingin mengatakan jika ia menyukai febry, tapi entah mengapa kalimat itu seolah sulit untuk keluar. Dan Febry, jantungnya berdebar kencang Karena menunggu jawaban dari pak Ardi. Tetapi sayangnya, hingga mobil yang mereka naiki telah sampai di rumah dan tak ada jawaban sama sekali. Ya, Febry kecewa. Seolah dia adalah layangan yang di tarik ulur. Di permainkan kesana kemari tanpa ada kejelasan.


__ADS_2