
Febry sudah berganti pakaian, ia menggunakan jaket tebal seperti suku Eskimo, kupluk rajut, sarung tangan dan sepatu boots. Ia harus ke ruang penyimpanan barang yang suhunya sangat dingin.
"Lho, pak Ardi ngapain pake jaket? Memang mau turun juga ke gudang?"
Pak Ardi tak menjawab, ia hanya tersenyum sembari memakai perlengkapan dan berjalan menuju ruang steril. Tanpa diberi isyarat Febry sudah mengekor di belakang nya, menuju gudang yang terletak di belakang ruang produksi.
Ribuan karyawan tengah sibuk bekerja, suara mesin dan suhu yang dingin sangat kentara.
Meski ruang produksi saat ini ramai dengan kegiatan karyawan, tapi tetap saja. Febry merasakan hawa yang berbeda. Ia merasa seolah sedang di awasi.
"Wihhh pak Ardi bawa Febry ke sini. Kebetulan, Feb minta no wa kamu dong." Goda Sani, Super visior gudang belakang dan di amini oleh karyawan lain.
Gudang belakang berisi para lelaki, dari lima puluh orang karyawan gudang, hanya terdapat dua orang perempuan. Gudang storage adalah tempat penyimpanan hasil produksi yang sudah di bekukan dan siap untuk di kirim, jadi tak heran jika pekerjanya berisi laki-laki semua.
"Kamu ini, goda-goda anak buah saya. Mana data yang kemarin aku minta, San?"
Lelaki bernama Sani itu lantas menyerahkan selembar kertas pak pak Ardi.
"Ayo Feb, kita masuk."
Febry hanya mengangguk lalu berjalan mengikuti pak Ardi. Terdengar beberapa orang pria menggoda Febry dengan memanggil manggil nama nya. Pak Ardi hanya berdua dengan Febry masuk menuju gudang storage.
Ruangan gudang utama, sangat dingin. Febry berkali kali menggosok-gosok kedua tangannya. Dengan wajah yang tertutup masker dan kupluk, seolah tak menghalangi suhu dingin untuk meringsek masuk.
Terdapat deretan rak panjang berukuran tiga meter, dan di susun membentuk seperti lorong panjang, setiap rak memiliki empat tingkat setinggi orang dewasa.
Febry sedikit bersyukur kali ini ia di temani pak Ardi, ruangan dingin dan sepi seperti ini jika seorang diri pasti sangat menyeramkan. meski terkadang pak Ardi menyebalkan tetapi sebenarnya ia begitu baik.
"Di sini dingin banget y pak. Buset dah, hantu juga bisa beku kaya gini ceritanya."
Lelaki itu terlihat sibuk, meski ia juga terlihat kedinginan tetapi itu tak menghalanginya untuk tetap fokus mengecek setiap barang.
"Yo wess kamu Ndak usah lama-lama di sini, biar saja ya nyocokin data."
"Gak lah pak,gara-gara saya, bapak jadi repot. Maaf ya pak."
Lelaki itu menatapnya, ia teringat saat Febry kemarin sore menangis karena kejahilannya.
"Gak papa, lain kali harus lebih hati-hati. Oh iya selamat ulang tahun yah." Ia mengulurkan tangan nya, dan di balas oleh Febry, sesaat mereka saling menatap lalu sama-sama melepas pegangan tangan dan melempar pandangan.
"Gak pake kado?"
__ADS_1
"Mau minta kado apa?"
"Ahaha engga pak, bercanda." Febry merasa tak nyaman, ia hanya berniat bercanda, namun di anggap serius oleh pak Ardi.
****
"Tinggal satu barang lagi dan semua beres," ucap pak Ardi.
"Kamu kenapa Feb? Kok diam aja?"
"Gak papa, pak. Cuma merasa sedikit pusing"
"Kamu ke kantor aja, nanti lek pingsan di sini, tak suruh arek-arek depan itu buat gotong kamu, mau?"
"Gak lah pak, bentar lagi juga selesai kan? Kita bareng aja."
"Huuh bocah iki."
Aaaaaaa....aaaaaaa......aaaaaaa...
Terdengar suara jeritan dari luar, Febry dan pak Ardi saling pandang. Seolah mereka menyadari jika telah terjadi sesuatu yang tidak beres di luar.
"Sepertinya."
Febry merasa ketakutan, ia lantas mendekatkan diri pada pak Ardi. Lelaki itu seolah paham dan reflek meraih jemari Febry dan menggandengnya. Mereka berjalan keluar untuk melihat keadaan.
Puluhan karyawan berjatuhan dan berteriak teriak tak jelas, samar Febry melihat sesosok mahluk berbaju putih dan berambut panjang di sudut ruangan yang tak jauh dari ia dan pak Ardi berdiri. Rambutnya yang panjang menjuntai hingga ke tanah. Sosok itu seolah merangkak dan menatap ke arahnya. Febry yang terkejut semakin menggenggam erat jemari pak Ardi.
"Kenapa, Feb?? Pak Ardi terlihat panik karena melihat Febry yang menunduk dan mengeratkan pegangan tangannya.
"I...ituuuu pak di pojok, saya takut."
"Terus istigfar, Feb. Ayo kita balik ke kantor saja." Pak Ardi lantas merangkul Febry untuk berjalan ke arah kantor. Febry yang ketakutan dan tak berani untuk menatap sekitar, sepanjang jalan ia menunduk dan berpegangan erat pada tangan pak Ardi. Sedang di sisi lain karyawan lain tengah sibuk mengevakuasi rekan mereka yang kesurupan untuk keluar dari ruang produksi menuju musholla pabrik.
****
Suasana di gudang terlihat kacau, hampir semua staf kantor pun keluar menuju musholla untuk membantu karyawan yang kesurupan. Tak ada orang di dalam ruangan. Hanya pak Ardi dan Febry. Lelaki itu dengan sigap membuatkan teh hangat untuk Febry yang terlihat pucat dan syok.
"Ini minum teh dulu." Pak Ardi lantas berjongkok di depan Febry yang duduk di kursi, ia meraih salah satu tangan febry dan menggosok gosokkan tangannya agar Febry merasa hangat.
"Makasih y, pak."
__ADS_1
"Udah enakan?"
"Udah, aku tadi cuma syok karna liat..."
"sstttt udah, sekarang habisin dulu teh kamu."
Krraakkkkkkk
Suara pintu ruangan ada yang membuka. Dengan cepat pak Ardi bangkit dan berlalu pergi, keluar meninggalkan ruangan.
Hesty yang masuk ruangan menjadi salah tingkah, karena merasa mengganggu adegan mesra sepasang sejoli yang tengah berpegangan tangan.
"uppsss maaf, heheheh."
Febry merasa salah tingkah dan canggung
"Gak seperti yang kamu pikirin, Hes."
"Lah memang aku mikirin apa?" Hesti menggoda, membuat Febry seolah mati kutu dengan jawaban temannya itu.
"Gimana di luar? Sudah aman?"
"Lumayan. Pak ustadz sudah datang jadi sudah banyak yang sadar."
"Hes, aku tadi di gudang liat mahkluk serem banget. Perempuan rambut panjang merangkak dan... Ngeri pokoknya."
"Itu penunggu gudang belakang situ, Feb."
"Yang bikin aku takut, tadi dia kaya merangkak ke arah aku."
"Berarti kalau kamu ke belakang sama, usahakan jangan sendirian. Tapi ngomong-ngomong kamu jadian sama pak Ardi?"
"Engga lah, tadi aku pusing banget, mana liat begituan jadi sama pak Ardi di ajak naik ke kantor."
"E... Tapi itu co cweet banget tau, dibikinin teh di remes-remes lagi tangan, oooo co cwettt," ledek Hesty sambari tertawa puas.
"ihhh apaan sih." Febry tersipu malu, ia berusaha bersikap biasa, karena saat ini wajahnya merah merona karena malu.
"Pak Ardi gak pernah lho kaya gitu ke karyawan lain. Mau kita sakit, pingsan, atau kejang-kejang kek di depannya, dia y cuek aja. Ini, di bikinin teh? Wooww emejinggg." Hesty kembali menggoda.
Febry mengulum senyum, sekuat tenaga menahan diri untuk tidak ikut tertawa karena salah tingkah.
__ADS_1