
"Kaki kamu sakit, Feb?"Hesty memperhatikan Febry yang sedang memijit mijit pergelangan kakinya.
"Lumayan, tapi g parah banget."
"Maaf ya, gara-gara aku kamu jadi sakit," Hesty merasa tak enak hati.
"Gak papa, Hes. Kamu tadi juga jatuh, pasti sakit juga."
"Aman kok." Hesty lalu kembali melanjutkan pekerjaannya di depan komputer. Jam kerja sudah berlalu dua jam lalu, dan sebentar lagi akan Maghrib.
Hesty tampak merapikan meja nya untuk bersiap pulang, begitu juga dengan Febry.
Terdengar suara ponsel Febry berdering, wajah nya tampak berbinar ketika membaca nama si penelpon. Ia ingin segera berbicara namun menyadari masih ada Hesty disampingnya.
"Assalamualaikum, udah pulang?" Suara bariton dari sebrang sana.
"Waalaikumsallam, belum pak, eh mas." Febry melirik ke arah Hesty yang sedang menguping pembicaraannya.
"Kok tumben panggil mas?"
Febry hanya tertawa kecil karna takut ketahuan Hesty, jika yang menelponnya saat ini adalah pak Ardi.
"Kaki kamu sakit banget g Feb? Kalau sakit banget biar aku antar pulang aja, motor kamu taruh di kantor."
"Gak papa, masih bisa kok, Hes."
"Beneran? Y udah aku duluan ya."
Febry mengangguk tanda setuju. Febry juga bergegas bersiap untuk pulang.
"Kamu kenapa?" Pak Ardi yang mendengar pembicaraan mereka dari balik telpon merasa penasaran.
"Tadi kami kepeleset jatuh barengan pak, kayanya ini kaki kiri aku keseleo," ucap Febry sembari berjalan keluar kantor dengan langkah yang tertatih.
__ADS_1
"Kok bisa? Lah terus kamu pulang sendiri? Kenapa g ikut Hesty aja pakai mobil? Motor kamu biar di kantor."
"Gak lah pak, ngerepotin. Ini mau aku matikan telponnya atau gimana?"
"Aku temenin aja sambil telpon, kamu pake headset juga kan?"
"Iya." Febry lantas menghidupkan motornya, kaki kirinya memang terasa sangat sakit karena tertimpa tubuh Hesty saat mereka jatuh tadi.
"Kok lama bener g aktif pak?"
"Iya, kemarin hp sempat bermasalah, makanya g bisa ngabarin kamu. Kengen ya?"
"Eeengga, cuma susah aja mau nanyain kerjaan," kilah Febry, padahal kenyataannya ia sangat penasaran dan merasa sepi karna pak Ardi tak ada kabar sama sekali.
Dari kantor menuju rumah Febry, memerlukan waktu hampir satu jam. Ketika melewati jalanan yang cukup sepi, Febry melihat seseorang yang ingin menyeberang jalan. Karena terkejut, Febry lantas mengerem mendadak motornya, Kaki nya yang sakit tak kuat menahan beban dan membuat motor yang ia naiki selip ban lalu menabrak trotoar jalan.
(Bruuukkkkkkkkkk)
"Aaaaaaa." Teriak Febry, sebelum ia jatuh dan kehilangan kesadaran.
****
"Alhmdulillah kamu sudah sadar." Ibu mengelus kepala putri nya yang sudah siuman.
Perlahan Febry membuka kedua matanya, ayah, ibu dan adiknya berada di dekatnya. Tampak raut wajah cemas yang terpancar.
"Aduhhh." Keluh Febry, ketika menyadari pergelangan tangannya di perban.
"Jangan banyak gerak dulu, tangan kamu sobek, habis di jahit, lima jahitan," terang sang ibu.
"Yahhh, gak mulus lagi dah. Ntar gak bisa pake tank top," keluh Febry, lalu mendapat cubitan kecil dari ibunya.
"Huss, kamu ini sempat-sempat nya aja," ucap ibu. Sedangkan ayah, hanya geleng-geleng kepala karena melihat polah putrinya.
__ADS_1
"Malam ini kamu nginap di rumah sakit dulu, besok pagi baru boleh pulang." Terang ibu, sembari merapikan selimut anaknya. Febry hanya mengangguk pasrah, Karen ia sendiri masih merasakan nyeri di tangan dan badannya.
Febry meraih ponsel miliknya yang tergeletak di samping badan. Layarnya tampak retak dan tak bisa di hidupkan.
***
Sambil berbaring di kamar, Febry terlihat sibuk memandangi wajah dengan kaca kecil di tangannya. Ia memperhatikan wajahnya secara seksama, apakah ada luka akibat kejadian kemarin malam.
Ia bersyukur karena hanya ada goresan kecil di jidatnya. Tetapi tangan kanan nya harus di jahit dan kakinya masih merasakan sakit hingga membuat ia berjalan dengan kaki terpincang.
"Feb.. ada tamu."
"Siapa, Bu?" Febry penasaran karena baru pulang dari rumah sakit sudah kedatangan tamu.
Dengan langkah tertatih Febry berjalan ke ruang tamu. Pupil matanya membulat karena terkejut dengan tamu yang datang.
"Pak Ardi?"
"Kamu gak papa? Bisa jalan gak?" Pak Ardi berniat membantu Febry tetapi gadis itu memberi syarat dengan tangannya jika ia bisa.
"Lohh, bukannya bapak harusnya pulang hari Minggu, kok hari ini udah pulang?"
"Gimana g mau pulang, kamu kecelakaan gini," pak Ardi memperhatikan Febry seksama. Terdapat perban di tangan gadis pujaan hatinya, dan wajah Febry yang terlihat sedikit bengkak dan pucat.
"Heleh cuma gini aja."
"Heleh..Heleh, gitu juga kemarin nangis," sahut sang ibu yang muncul dari arah dapur sembari membawakan minuman dan beberapa cemilan.
"Ah masa sih Bu, gak lah."
"Kamu setengah sadar, mewek merintih kesakitan. Besok sore kita pijat dulu biar kamu enakan."
"Besok biar saya temenin aja pijitnya Bu." Pak Ardi menawarkan, dan di iyakan oleh sang ibu.
__ADS_1
Febry masih tak percaya, jika pak Ardi pulang lebih awal hanya karena khawatir dengan dirinya.