Teror Penunggu Pabrik

Teror Penunggu Pabrik
Reyna wulandari


__ADS_3

Pak Ardi tengah berbicara dengan seseorang melalui telepon, Febry yang duduk di depannya bersikap aneh. Gadis itu menutup wajah dengan kedua tangan. Seolah sedang ketakutan dengan sesuatu. Tanpa berpamitan dengan lawan bicaranya, pak Ardi langsung mematikan telepon.


"Feb, kamu kenapa?"


"Pak, aku liat sesuatu di sana. Itu di atas pohon dekat mobil." Febry menujuk arah yang di maksud dengan wajah yang masih ia tutupi.


Pak Ardi menoleh, mengikuti arah yang di tunjuk. Namun lelaki itu tak melihat hal yang aneh.


"Sudah tenang...tenang, g ada apa-apa."


Febry membukan jemari yang menutupi wajahnya perlahan. Ia melihat ke arah sosok itu, namun benar. Tak ada apa-apa. Ia menarik nafas panjang sembari merasakan jantungnya yang berdebar kencang.


"Pak tadi aku liat sosok warna putih, dia kaya nunjuk ke aku."


"Kalau kamu liat sesuatu, langsung bawa berdoa. Wess tenang o, ini minuman minuman kamu." Pak Ardi menyodorkan segelas jus alpukat. Ia menatap iba Febry yang sepertinya masih ketakutan.


Ingin rasanya memeluk gadis itu, mendekapnya hangat agar ia merasakan aman. Namun, ia sadar. Jika ia bukan siapa-siapa. Mungkin bagi Febry, hubungan mereka hanya sebatas atasan dan anak buah. Namun, nyatanya ada perasaan yang menghangat di dalam sini ketika mereka bersama.


Di usia pak Ardi yang telah genap tiga puluh tiga tahun, ia ingin rasanya membangun sebuah hubungan suci yang bernama pernikahan. Namun, gadis yang ia sukai itu masih berusia dua puluh tiga tahun. Ia takut, takut jika perasaannya hanya bertepuk sebelah tangan. Dan ia sadar jika di usia Febry saat ini, masih usia yang sangat muda dan masih ingin meraih banyak hal.


Terlebih, jauh dari sosok pak Ardi yang terlihat kuat, nyata nya ia tak sekuat yang terlihat di luar. Bahkan ia masih babak belur dalam menyembuhkan luka yang tak kunjung sembuh. Ya, luka yang ia tangisi dalam diam, meski hampir sepuluh tahun lamanya.


*****


----Beberapa tahun lalu----


Aroma bumbu masakan menyeruak memenuhi ruangan. Tampak beberapa orang di halaman rumah, tengah sibuk saling membantu untuk memasang tenda.

__ADS_1


Sebuah pesta besar beberapa hari lagi akan berlangsung, pesta yang akan penuh dengan kebahagiaan dan menyatunya dua keluarga. Setiap orang yang datang seolah akan terhipnotis merasakan suasana bahagia, hingga melantunkan doa-doa yang baik untuk kedua pasangan.


Namun, nyatanya kebahagiaan itu tak sampai pada hati Reyna. Gadis itu tertegun berdiri di depan pintu dengan sejuta pertanyaan yang begitu menghimpit hatinya. Ia ragu, apakah ini yang memang ia mau.


Pertanyaan-pertanyaan itu seolah terus menyelusup ke dalam dadanya. Membuat ia tak tahan lagi untuk menahan tangis. Isak tangis itu pelan-pelan berubah menjadi histeris. Reyna seolah tak lagi memperdulikan sekitarnya. Ia berteriak, ia terisak, mencoba meluapkan isi hatinya.


Sepasang suami istri yang duduk tak jauh dari nya berdiri, lantas reflek menghampiri. Tak ingin hal itu menjadi tontonan orang-orang di sekitar, sepasang suami istri itu menarik tangan Reyna menuju kamar.


Dengan kencangnya tubuh Reyna di dorong masuk ke dalam kamar. Ia tersungkur di lantai sembari berurai air mata.


"Apa apaan kamu reyna?" Sang ayah menatap tajam ke arahnya. Seperti seekor harimau yang siap menerkam mangsa.


"Maafkan Reyna, ayah. Reyna gak bisa lanjutkan pernikahan ini."


"Maksud kamu apa?" Kali ini ayah menaikan nada bicaranga, tampak jika ia benar-benar marah.


"Gila kamu reyna. Apa yang kamu harap dari Bayu? Dia cuma penjual roti di pasar. Kalau di bandingkan dengan Arya, jelas beda jauh. Hidup kamu akan lebih terjamin jika menikah dengan Arya. Dia pewaris tunggal usaha ayah dan ibunya. Kamu gak perlu repot-repot jadi guru honor lagi."


"Ayah, kenapa ayah selalu membandingkan mereka? Yang akan menjalani kehidupan nantinya, itu Reyna. Bukan ayah. Reyna g cinta dengan mas arya"


"Cukup Reyna. Pelan-pelan nanti pasti kamu akan cinta sama Arya. Ayah gak mau tau, semua sudah sejauh ini. Jadi jangan buat masalah."


"Sudah...sudah ndukk. Nurut o ayah sama ibu. Jangan teriak-teiak lagi, isin nduk isinnnn." Ibu yang juga terisak di samping Reyna, mencoba menenangkan.


"Bu, kalian jahat. Tanpa persetujuan Reyna kalian menjodohkan Reyna sama mas Arya. Hanya karena kalian berteman dengan orang tua mas Arya, bukan berarti kalian berhak buat menentukan jodoh Reyna."


Reyna terus terisak. Sebenarnya apa yang di ucapkan Reyna seolah menampar perasaan orang tuanya. Ada sedikit perasaan bersalah yang muncul, namun perasaan itu tertutup dengan keyakinan jika putri mereka menikah dengan Arya, maka ia pasti akan bahagia dan punya masa depan yang lebih baik.

__ADS_1


Orang tua Reyna adalah teman semasa SMA orang tua Arya.


Orang tua Arya mempunyai banyak usaha di kotanya. Mulai dari usaha butik, resto hingga pabrik garmen.


Sejak lulus sekolah mereka tak pernah bertemu, hingga akhirnya takdir seolah mempertemukan kembali.


Ada perasaan yang menghangat, ketika kali pertama Arya bertemu reyna. Seorang Gadis sederhana dengan rambut panjang terurai dan senyuman yang begitu manis.


"Reyna wulandari." gadis itu memperkenalkan diri, sembari mengulurkan tangannya.


"Arya permana," ucap Arya, dengan jantung yang berdebar hebat.


Gadis itu kemudian berlalu, dan kembali membawakan nampan berisi minuman untuk Arya dan kedua orang tuanya. Sesekali ia menatap ke arah Reyna yang duduk bersebrangan dengan nya. Lalu tersenyum malu ketika kedua mata itu saling bertemu.


Arya tak pernah menolak jika di ajak untuk bertamu ke rumah Reyna, ia berusaha keras untuk menyembunyikan debar di hatinya. Berusaha keras agar perasaan suka yang ia punya tak begitu kentara terlihat.


"Sekarang sibuk apa?" setelah berulang kali merangkai kalimat di dalam hati, akhirnya Arya mampu memulai pembicaraan terlebih dahulu. Kedua orang tua mereka tengah sibuk berbicara di dalam, sementara mereka memilih untuk mengobrol di kursi teras rumah.


"Aku ngajar, mas. ngajar di sekolahan SD dekat sini."


"Kata orang, guru SD itu rata-rata penyabar. Berarti kamu salah satunya?"


"oh ya? Semoga aja ya. Kalau galak nanti anak orang pada nangis."


Bagi Arya, Reyna memiliki pribadi yang begitu baik dan sopan. ia bahkan merasa betah jika berlama-lama mengobrol dengan Reyna. ingin rasanya ia menanyakan apakah Reyna sudah memiliki kekasih atau belum, namun ia tahan, karena ia sadar. Lelaki macam apa yang berani bertanya hal pribadi di pertemuan kedua mereka.


Hingga akhirnya, ketika ia tau akan di jodohkan. Tak sedikitpun ia menolak. Bagi Arya, keberuntungan saat ini tengah berpihak padanya. Bahkan keberuntungan itu akan semakin lengkap saat mengetahui jika ia dan Reyna sebentar lagi akan terikat dalam pernikahan.

__ADS_1


__ADS_2